Home Opini Masalah

Masalah

SHARE




oleh: Erie Sudewo

Selesaikan masalah ternyata tak mudah. Makin coba diselesaikan malah semakin tidak selesai. Mengapa? Karena golongan yang mengatakan masalah, mendatangkan lagi masalah. Satu golongan katakan masalah, golongan lain yang punya masalah meradang.
Tujuan buat golongan sesungguhnya untuk selesaikan masalah. Tapi masalah yang hendak diselesaikan golongan ternyata makin bermasalah. Sebab golongan itu sendiri sudah masalah. Masalah diselesaikan pihak yang bermasalah, hasilnya bukankah jadi masalah-masalah.
Golongan didirikan pasti berangkat dari masalah. Ada yang berangkat dari masalah bangsa. Ada juga yang masalahnya karena tak puas. Buat golongan karena masalah tak puas pada rekan sejawat, lahirkan masalah baru. Jadi jelas. Bukankah masalahnya ada sejak awal. Andai ada 13 pendiri, maka sudah ada 13 masalah. Andai pendiri punya pengikut, maka masalah pengikut menambah masalah golongan.
Antar pengikut berpapasan jadi masalah. Menegur khawatir timbulkan masalah. Tak menegur juga masalah. Masalah partai memang runyam. Maka, saat buat visi juga jadi masalah. Masing-masing pendiri punya pandangan, itu sudah masalah. Tak punya pandangan juga masalah.
Utarakan pandangan jadi masalah. Tak utarakan juga masalah. Yang diterima pandangannya, masalah lagi. Yang tak diterima, masalah lain. Beda pandangan di golongan sudah masalah. Bagaimana mungkin saat partai bermasalah hendak selesaikan masalah Indonesia.
Memahami masalah dan selesaikan masalah musti punya kaedah. Tanpa kaedah asal buat solusi. Masalah baru muncul lagi.Telusuri sumber masalah, itu sudah masalah. Tak telusuri jadi masalah. Tak tahu sumber masalah, itu juga masalah.
Jika tak tahu sumber masalah, bagaimana hendak selesaikan masalah. Tahu sumber masalah tapi masalah ada di pelaku, masalah lagi. Pelaku tak bermasalah tapi tak temukan sumber masalah, jadi sumber masalah baru. Ada yang tak tahu masalahnya apa. Yang masalah dikatakan bukan masalah. Yang bukan masalah dikatakan masalah.
Karena punya pengikut, masalah bertambah-tambah lagi di pengikut. Karena berdiskusi, yang terlibat jadi tambah masalah semua. Ini macam orang tak kenal padi dan ilalang. Tanam padi pasti tumbuh ilalang. Tanam ilalang mustahil tumbuh padi.
Masalah kecil dianggap besar. Masalah besar diabaikan. Bukan masalah malah dipersoalkan. Yang masalah malah dipadamkan. Saling silang pandangan jadilah masalah baru. Menilai masalah itu masalah. Masalah dalam masalah. Masalah bertambah-tambah.
Satu puak hendak cegah masalah. Tapi ada puak yang biarkan masalah. Puak lain malah buat masalah.
Golongan lain ada masalah atau tak ada masalah, mereka peduli apa. Itu bukan masalah mereka. Ini juga masalah. Sebab kita hidup bermasyarakat. Mana boleh kita tak memikirkan masyarakat yang bermasalah. Tak bisa saling abai.
Yang masalah diabaikan, padahal dampaknya negatif. Yang bukan masalah malah dihentikan, padahal punya manfaat bagi masyarakat.
Ada yg paham bahwa itu masalah. Tapi karena hendak jaga guncangan, dibiarkan saja masalah itu. Seolah bukan masalah. Masalah itu akhirnya bertambah-tambah masalahnya karena dipertahankan oleh penguasa.
Bicara penguasa, jangan-jangan ini masalah besar bagi negeri ini. Harusnya khidmat pada bangsa ternyata pada golongan semata. Karena dapat untung pribadi, penguasa pun diamkan masalah. Karena hendak amankan jabatan, masalah disingkirkan. Jika yang berkuasa buat masalah, jadilah itu masalah besar. Maka siapa lagi yang bisa cegah masalah yang berkuasa.
Mengapa semua itu jadi masalah? Karena tiap orang, tiap golongan, tiap partai merujuk pada akal dan nafsu mereka.
Maka masalah sesungguhnya adalah masalah diri kita sendiri. Sudahkah engkau kenali masalahnya?
————————————–
Artikel ini diadaptasi dari kultwit @ErieSudewoID tanggal 21 April 2015.  
SHARE