Mengapa Orang Suka Menakuti-nakuti Suatu Keadaan? | @Rhenald_Kasali

Mengapa orang suka menakuti-nakuti suatu keadaan? Yuk kita pahami dan lihat konteksnya pada saat kita menerima ancaman.

Waktu kecil kita sering ditakut-takuti orang dewasa, “awas setan!..” Nyatanya kita jadi gak jadi lewat jalan itu atau pergi keluar.

Tetapi begitu kita jalani ternyata setannya tidak ada. Barulah kita mengerti, orang itu hanya nakut-nakuti saja.

Waktu remaja saya juga ditakut-takuti tetangga, orangtua dll saat mau mendaki gunung: nanti kamu tersesat, jatuh, hilang, dirampok dst.

Tetapi waktu saya jalani, semua itu tak terbukti. Betul ada jalan terjal, licin, jurang dsb. Tapi sebagai aktor utama yang membawa jiwa kita bisa berjuang.

Waktu konflik etnis di Kalbar 2009, saya hampir tak jadi terbang mengajar di Universitas Tanjung Pura karena seseorang mengirim fax ke rumah.

Fax itu adalah foto seseorang yang kepalanya dipancung dan diletakkan di pagar depan sbuah hotel di Pontianak. Istri dan anak saya tertegun.

Saya hampir tak jadi jalan, tetapi mahasiswa saya menelfon dan mengatakan, “bapak jalan saja, smua aman. Tentara ada di mana-mana”

Diiringi doa, anak-istri saya yang agak kecut melepaskan saya berangkat. Nyatanya Pontianak hari itu sudah aman, mahasiswa hadir lengkap.

Waktu berlalu saya suka tanya istri mengapa mereka izinkan saya jalan. Mereka katakan “kita ini manusia beriman”. Semoga Tuhan menolong yang berusaha.

loading...

Kejadian berulang di San Fransisco beberapa hari setelah tragedi 911 di New York 2011. Saat itu saya harus ikut conference ilmiah dan membawa makalah.

Saya bingung karena semua orang membatalkan penerbangan, padahal tiket dan visa sudah ditangan dan saya sudah membayar semua biaya.

Tetapi sesampainya di US saya menyaksikan hal yang berbeda. Pesawat sepi jadi bisa tidur, hotel murah dan tentara dimana-mana pertand aman.

Saya jadi ingat sewaktu akan kuliah di UI pun saya ditakut-takuti. Tanyakanlah pada orangtuamu yang pernah akan kuliah di PTN thn 70-80-an

Mereka mengatakan UI itu susah, mahal, nanti kamu dipelonco bisa mati, bisa tidak kelar-kelar dst. Nyatanya….?

Nyatanya saya bertemu orang-orang baik, uang kuliah murah, pelonco tak semenakutkan yang diceritakan, beasiswa banyak dan lulus tepat waktu.

Poin saya, kita hidup di masyarakat yang gemar menakut-nakuti. Rasanya orang merasa gagah dan kritis kalau bisa menakut-nakuti.

Apalagi kalau yang ditakut-takuti terbukti gagal, mereka akan bilang, “Tuh kan? Apa kata saya?” Atau “Makanya dengarkan kata saya”.

Tapi saya mau bilang pada Anda, pengalaman dan pengetahuan saya menemukan, ternyata yang menakut-nakuti itu begini.

Pertama, mereka itu menganggap kita anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tak punya pengalaman, maka kita layak ditakut-takuti.

Kedua, mereka merasa paling tahu, paling pintar, paling benar dan gemar menggoblok-gobloki orang lain.

ketiga, mereka pada dasarnya juga penakut. Mereka tak mau orang lain mengalami susah karena mereka takut. Penakut senang menakut-nakuti

Keempat, mereka sayang kita. Tetapi maaf, sayangnya berlebihan sampai-sampai mengatur semua langkah kita agar “jangan” dan akhirnya kita jadi seperti mereka.

Kelima, mereka sendiri TAKUT KALAU KITA BISA. Sebab mereka tidak bisa dan kalau kita terbukti berhasil, mereka akan terpuruk, pamornya hilang.

Keenam, mereka adalah pecundang yang senang memberikan alasan karena meremehkan orang lain. Ingat pepatah yang sering saya kutip?

Bunyinya: If u want to, u’ll find the way, if u don’t want to u’ll only find excuses. Orang pandai banyak jalan, orang malas cari alasan.

Saya ingin sampaikan, bahwa ekonomi itu merupakan hasil interaksi spontan jutaan manusia. Semua berpulang pada reaksi dan aksi aktor ekonomi.

Makanya di Barat, krisis dimaknai sebagai titik belok (a turning point) yang bisa membaik atau memburuk (sebarapa kuatnya pun fundamental ekonomi).

Di China ia dimaknai sebagai opportunity in dangerous (weiji). Tapi di sini ia dimaknai sebagai suatu kemelut, keadaan yang genting, kacau.

Jadi apa yang mau kita pilih saudara-saudaraku? Membiarkan krisis menjadi bangkai rebutan para politisi untuk carimuka pada kita?

Atau kita berjuang bersama memenangkan hidup kita, jati diri kita sebagai bangsa pejuang yang tak cengeng, dan saling memberi dukungan?

Saya memilih yang kedua karena saya tidak takut. Ini hidup saya, anak-anak saya, ibu bapak saya, mahasiswa saya, Anda semua yang saya cintai.

Maaf, bagi para penakut yang takut melihat cahaya dalam terowongan gelap, saya harus menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan.

Saya tahu lilin ini menakutkan mereka yang senang hidup dalam kegelapan, dan bermain di sana, meraup untung dari ketakutan orang lain.

Kita bukan pengecut yang mudah ditakut-takuti. Sebab di hari esok sama seperti kemarin, kita akan selalu menghadapi ketidakpastian.

Kalau pun jadinya tetap susah, kita akan tetap saling memberi kekuatan,saling menolong.
Have a blessed day, Semoga Tuhan selalu bersama kita, orang yang berjuang dan mau berubah.

Kultwit Rhenald Kasali @Rhenald_Kasali 30/08/2015