Mengenal Yudi Utomo, Penemu Kontainer Limbah Nuklir yang Diagung-agungkan Amerika

Posted on

Banyak dari prestasi anak bangsa yang membanggakan Indonesia. Namun, banyak pula yang tak kita ketahui keberadaannya, karena kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Sehingga para generasi penerus bangsa yang cerdas tersebut mengirimkan hasil penelitiannya kepada negara lain.

Hal yang sama dialami oleh Yudi Utomo Imardjoko. Meskipun kini ia sudah menjalani hidup sejahtera sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM), penelitiannya soal nuklir pernah menjadi perhatian di Amerika, loh. Kok bisa, ya? Simak perjalanan lengkapnya dalam ulasan berikut.

Baca Juga
Pulang Nggak Bawa Piala, 7 Runner Up Indonesian Idol Ini Lebih Tenar daripada Sang Juara
Inilah 5 Fakta Penting La Nyalla, Sosok yang Jadi Sorotan karena Berantem dengan Prabowo

Menemukan Kontainer Limbah Nuklir yang Bertahan Hingga 12 Ribu Tahun!

Seperti yang kita tahu, nuklir merupakan permasalahan dunia terbesar selama berabad-abad. Hal tersebut benar-benar membahayakan bagi hidup manusia, serta bisa memicu perang dunia ketiga. Apalagi negara pemilik nuklir yang tak segan-segan menembakkan senjatanya itu adalah Amerika Serikat serta Korea Utara, kebayang kan seremnya?

Kontainer Limbah Nuklir [image source]

Maka dari itu, pemerintah Amerika Serikat membuka sebuah kompetisi untuk membuat kontainer limbah nuklir yang bisa bertahan hingga sepuluh ribu tahun. Kabar ini pun sampai pada telinga Yudi Utomo Imardjoko. Ia pun bersama 5 orang dalam timnya memutar otak untuk menciptakan alat tersebut. Pada akhirnya, Yudi cs malah berhasil membuat kontainer yang bisa bertahan hingga dua belas ribu tahun, seperti yang dilansir dari goodnewsfromindonesia.id.

Menolak Tawaran Amerika Demi Almamater Tercinta

Kontainer berbentuk silinder dari bahan titanium ciptaan Yudi dan kawan-kawan itu ternyata berhasil memenangkan tender dari Pemerintah AS. Tak hanya menang, negara yang dikuasai Donald Trump itu pun memuja penemuan Yudi. Atas kerja kerasnya, 2 perusahaan besar AS menawarkan pekerjaan pada Yudi dengan gaji tinggi.

Menolak Tawaran AS [image source]

Namun sayang, tawaran mereka ditolak mentah-mentah oleh peneliti hebat sekaligus Ketua Jurusan Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, UGM ini. Hal tersebut dikarenakan, ia lebih ingin mengabdi pada Indonesia terutama sang almamater tercinta yaitu UGM. Menurutnya, profesinya yang sekarang lebih bisa mengantarkan generasi muda Indonesia untuk menempati tawaran yang diberikan oleh perusahaan AS tersebut.

Dosen Sekaligus Peneliti Teknologi Nuklir yang Teladan

Meskipun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) belum begitu digalakkan di Indonesia, namun sudah banyak para peneliti di bidang tersebut yang mulai memberikan masukan-masukan untuk negeri ini. Dilansir dari republika.co.id, dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi, ketersediaan listrik 35 ribu with out prsciption allopurinol 300 mg. megawatt (MW) merupakan salah satu tujuan yang harus dipenuhi.

Advertisements

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan