Home Gaya Hidup Mengenali dan Mempelajari Food Combining yang Benar

Mengenali dan Mempelajari Food Combining yang Benar

SHARE

Karena Food Combining itu sederhana dan mudah, akhirnya tak sedikit yang asal baca lalu lakukan, kadang malah cuma dengar-dengar. Bicara masalah melakukan Food Combining itu mudah lho. Mudah diakui dilakukan, namun tak mudah dikerjakan dengan benar.

Sering sekali orang terpicu oleh kisah sukses Food Combining. Mereka berlomba melakukan tanpa serius mempelajari caranya secara seksama. Buruknya, biasanya kegagalan ini dijawab dengan “melakukan Food Combining gak cocok untuk saya”. Jadi berkesan Tuhan menciptakan tubuhnya nyeleneh.

Tell you what! Tuhan menciptakan tubuh manusia secara general sama, perbedaannya ada di bagian minor saja, bukan hal bersifat major. Sistem cerna berlaku sama di semua tubuh. Fungsi lambung, liver, usus, ginjal, semua sama. Kalau ada cacat, umumnya kecil dan sangat sedikit.

Nanti kapan-kapan kita bahas lagi kesalahan kita saat mengira tubuh kita dibuat spesial oleh Tuhan, jadi harus terima nasib. Atau mikir keras mencari pola hidup sehat yang sesuai, karena ini-itu gagal. Padahal gagalnya sih lebih karena tidak cermat mempelajari petunjuk pelaksanaannya.

Balik lagi ke Food Combining ya. Kesalahan umum yang dilakukan oleh pelaku barunya saya coba singgung secara umum saja. Yang paling umum ialah menyalahartikan Food Combining dengan diet kalori. Makan diirit! Kalau perlu nasi dihitung butirannya. Akhirnya dia mengeluh pusing, asam lambung naik, lemas, dan lain sebagainya. Ya jelas, karena tubuhnya kekurangan pasokan energi sehingga tubuh menjadi protes.

Masih sama kasusnya, banyak pelaku yang mengaku Food Combining, menghindari makan nasi, tidak makan malam, atau makan malamnya diganti buah. Hasilnya? Ya sama saja, bukannya sehat malah organ tubuhnya rusak pelan-pelan. Tubuh protes, keluar alarm: pusing, sebah, lemas, dll.

Problem miskonsepsi lain adalah sarapan buah. Sering ditemukan pelaku yang mengaku Food Combining memang melakukan sarapan buah, tapi mengarang sendiri, Karena takut akan mitos “buah perut kosong sakit perut”, diisi lah perutnya dengan sesuatu duluan, konyolnya asal isi, nasi, roti, sosis dll. Ya jelas saja badannya protes! Muncul rasa sebah, diare, sampai lambung terasa perih. Lha, buah itu harus dimakan ekslusif! Perut kosong! Dari sisi waktu urai, agresifitas fruktosa dan lainnya, buah itu harus benar-benar ekslusif dikonsumsi, jangan dibarengi makanan apapun.

Ada lagi yang sarapan buah, tapi yang diminum sebagai teman adalah teh! Alasannya “kebiasaan dari kecil”, “teh kan berguna”, “teh pelangsing nih”. Atau lebih bodoh lagi, sarapan buah ditemani kopi! Ini mah keterlaluan sekali!!! Lha, kopi? Stimulan negatif lambung ‘tingkat dewa’!

Buah jelas-jelas pembentuk basa, ia menetralkan PH darah. Lambung tidak akan bereaksi. Lha kopi? Pembentuk asam buruk, asam lambung meroket. Untuk menggarami luka, teh-kopi akan mem-block penyerapan dari banyak unsur baik buah. Mineral, vitamin, fitokimia dan lain sebagainya.

Sama juga jika makan buah dibarengi minum susu! Wah ya sudah, ini sih cihuy sekali! Bacalah “Kibulan Susu” jika Anda masih menjadi korban mitos ‘minum susu sama dengan sehat’. Kalau terkait juklak, standar Food Combining biasanya sih itu saja. Yang lain paling-paling lebih ke sisi luar biasa bodoh saja.

loading...

Mulai dari cara mengunyah yang kayak ‘bencong dikejar kamtib’, sampe mengarang juklak standar, makan nasi-daging tapi dikasih sayur sedikit. Mengkonsumsi buah bersamaan dengan teh atau kopi akan membuat buah yang sehat akan berubah menjadi sampah, layaknya Anda sarapan nasi goreng, lontong sayur, roti atau lainnya.

Erikar Lebang
SHARE