Mengenang Perjuangan Desak Putu Kari, Istri I Gusti Ngurah Rai yang Baru Saja Tutup Usia

Posted on

Berita duka baru saja datang dari sudut Pulau Dewata. Ya, sekali lagi kita kehilangan seorang pahlawan yang berjasa membuat Indonesia merdeka. Beliau memang tidak begitu terkenal, bahkan tak pernah disebut namanya dalam buku pelajaran Sejarah.

Namun, jasanya untuk tanah air patut diperhitungkan, apalagi kini kita sudah kehilangan sosoknya dalam sebuah raga. Merupakan wanita kesayangan I Gusti Ngurah Rai, dan darinya pula kita bisa belajar sebuah arti perjuangan. Simak kisah lengkapnya dalam ulasan berikut.

Awal Perjuangan Seorang Desak Putu Kari

Mungkin bagi boombers sekalian, nama Desak Putu Kari jarang sekali didengar. Namun, bagi kalian yang tinggal di Bali, sudah semestinya tahu dan kenal dengan sosok satu ini. Desak Putu Kari merupakan istri dari pahlawan I Gusti Ngurah Rai yang terkenal dalam Puputan Margarana.

Desak Putu Kari dan I Gusti Ngurah Rai [image source]

Ngurah Rai bertemu dengan Desak Putu Kari pertama kali di Gianyar, Bali. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat Desak Putu Kari sedang menari arja. Ia pun mengambil langkah seribu untuk akhirnya membawa Desak Putu Kari pulang dan mempersuntingnya.

Ikut Andil Melawan Belanda Ketika Menginjak Tanah Bali

Menikahi seorang tentara memang banyak sekali resikonya. Siap ditinggal pergi berjuang maupun mati. Ini juga yang dialami oleh Desak Putu Kari ketika dirinya mengiyakan ajakan Ngurah Rai untuk menikah. Setelah dikaruniai dua putra, Ngurah Rai ditugaskan untuk pergi ke Jawa.

Puputan Margarana [image source]

Desak Putu Kari pun harus rela berjuang sendirian sembari mengandung anak ketiganya. Selain itu, ia juga ikut andil dalam penyerangan melawan Belanda ketika ditinggal suaminya. Ia bahkan berani menghadang Belanda dengan tangan kosong, berbekal ucapannya yang berani Belanda pun akhirnya mundur perlahan.

“Anggaplah Aku Telah Mati, Kapan Pulang Jangan Dipikir”

Sesuai dengan sub judul di atas, kalian pasti sudah mengerti hal tersebut merupakan sebuah pesan. Ya, Ngurah Rai meninggalkan pesan tersebut pada istrinya ketika harus berlaga di medan perang. Bagi kalian, terutama cewek-cewek, gimana rasanya ditinggal orang yang sangat disayang dan disuruh berpikir bahwa dirinya telah mati? Ketika mendengar kabar bahwa suaminya gugur dalam Puputan Margarana, tentunya ia hancur berkeping-keping.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan