Mengintip Profesi Penjaga Mercusuar, Harus Tinggal di Pulau Terpencil Tapi Gaji Cuma Ratusan Ribu

Posted on

Umumnya kalau ditanya alasan bekerja, kebanyakan orang tentu akan menjawab untuk mendapatkan uang sehingga kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Syukur-syukur sih nggak hanya kebutuhan, namun juga bisa jadi kaya raya. Namun siapa sangka di balik semua itu masih ada loh orang-orang yang bekerja murni untuk pengabdian, ya demi orang banyak tanpa memperdulikan imbalan yang didapat. Salah satunya, ya penjaga merchusuar.

Masih soal penjaga mercusuar, mungkin kamu berpikir, bagaimana profesi yang jarang dipandang itu memberikan kontribusi besar? Usut punya usut, berkat jasa mereka pula lah banyak nelayan-nelayan terselamatkan saat berlayar. Namun demikian, menjadi mereka beratnya luar biasa ternyata, mulai dari gaji minim hingga hidup sebatang kara harus dilalui. Yuk mengintip profesi yang satu ini.

Hengkang jauh dari rumah ke pulau terpencil hanya demi sesuap nasi

Meskipun mungkin pekerjaannya dianggap sepele, namun pengorbanan besar harus mereka lakukan. Ya, demi menekuni profesinya mau tidak mau mereka harus pergi ke tempat terpencil demi menjaga agar lampu mercusuar  tetap menyala dan tidak menunjukkan kordinat yang salah. Ya pasalnya hanya beberapa menit saja lampu mati atau menyinari arah yang salah, maka akan banyak kapal yang karam karena bertabrakan.

Merantau ke Mercusuar [image source]

Namun sayang, di balik perjuangan harus merantau berbulan-bulan itu, tidak lebih sekitar 500- 900 ribu mereka dapat. Bayangkan, dengan bayaran seperti itu  untuk hidup sehari-hari saja pasti benar-benar ngepas, bahkan malah kurang. Bisa dibilang menjadi pejaga mercusuar itu bukan hanya sebuah pekerjaan, namun pengabdian.

Melewati hari-hari penuh nestapa, hanya kehampaan yang dirasa

Seperti yang sudah diketahui, para penjaga mercusuar ini harus tinggal di pulau terpencil dalam beberapa bulan. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan mereka? Tidak terbayangkan. Ya hampir tidak ada alat komunikasi yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Hanya kesendirian, dan bertahan hidup di pulau.

Merantau ke Mercusuar [image source]

Kalau dapat daerah yang dekat dengan pemukiman sih enak, lah kalau apes dan ditugaskan di pulau terpencil hanya itulah pilihannya. Para penjaga mercusuar ini akan sangat bersyukur jika ada nelayan yang sempat singgah di tempatnya, ya meskipun hanya sekedar bercengkrama itu tak mengapa. Ya, inilah resiko pahit yang harus dihadapi.

Bertahan di sana, tak ubahnya pertaruhan hidup dan mati

Dirasa tak akan mungkin para penjaga mecusuar ini bertahan dengan suplai yang ada. Apalagi jika tempat bertugas mereka jauh dari pemukiman warga. Oleh sebab itu mereka harus memutar otak dengan menggunakan segala yang ada di sekitarnya.

Bertahan hidup dengan sumber daya seadanya [image source]

Misalnya saja, lantaran kurangnya cadangan air, membuat mereka harus menadah air hujan hanya sekedar buat minum ataupun mandi semata. Begitu pula masalah makanan, mereka juga pintar memanfaatkan alam sekitar. Pasalnya hanya menunggu kiriman dan rolling staf dirasa membutuhkan waktu yang lumayan lama.

Jadi pekerjaan yang gajinya sering ditunda dan kini mulai punah

Meskipun bayaran maksimal para pegawai status kontrak bisa sampai 1 juta, namun sayang banyak dari mereka mengelu karena gaji yang tak kunjung dibayarkan.  Bahkan telah berkali-kali melakukan demo agar bayaran mereka disamakan dengan pegawai lain. Beruntung pemerintah mendengar curhatan mereka dan akhirnya menaikkan standar gaji sampai 2 juta.

Sudah jarang diminati [image source]

Namun sayang hal itu sepertinya masih tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan. Oleh sebab itu saat ini jumlah profesi ini semakin menipis, ya selain karena majunya teknologi GPS, juga karena sudah  banyak orang enggan menekuninya. Namun demikian, mereka tetap dibutuhkan, terutama buat para nelayan kecil yang tak punya navigasi canggih.

Ya memang seperti itulah resiko dari pekerjaan penjaga mercusuar yang sering diremehkan orang. Yang bikin salut, meskipun  pengorbanannya sangat luar biasa, namun tetap menjalankannya demi orang lain. Mungkin inilah yang disebut sebagai pengabdian yang sejati.

 

 

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan