Mengintip Sejarah Stand Up Comedy di Indonesia, Sudah Sejak 1950-an!

Posted on

Lahiya – Lawak tunggal atau melawak sendiri di atas panggung rupanya sudah ada di industri hiburan Indonesia sejak tahun 1950-an. Deretan nama seperti Bing Slamet, Iskak, S Bagyo dan Eddy Sud merupakan jawaranya melawak tunggal. Mereka pun dalam perkembangannya juga turut bergabung dengan grup lawak.

Pada 1980-an, nama-nama lain muncul dari lomba lawak tunggal, di antaranya Atet Zakaria, Nana Krip, dan Memet Mini. Ada juga grup lawak yang asalnya dari pelawak tunggal, yakni Sersan Prambors, dengan anggota Pepeng, Nana Krip, Krisna Purwana, Sys Ns dan Mukhlis.

Pada era 1990-an nama Taufik Savalas pun muncul. Namun, asisten grup lawak Warkop DKI tersebut lebih dikenal sebagai pembawa acara daripada pelawak tunggal. “Tren pada saat itu, kalau ngelawak harus ngegrup, minimal tiga orang dan maksimal lima orang,” ujar pelopor stand up comedy di Indonesia, Iwel Sastra, seperti dilansir dari Republika.co.id.

Baca juga: Mau Nikah Keempat Kali, Ustaz Arifin Ilham Perkenalkan Calon Istrinya

Pada hari Minggu (14/1) malam, Iwel mengatakan bahwa lawak tunggal berbeda dengan stand up comedy. Menurut Iwel, ada pakem sendiri dalam materi stand up comedy. Sementara, materi lawak tunggal bebas dalam menyampaikannya. “Beat-nya tidak boleh panjang-pajang, ada dua pakem stand up, yaitu set up dan punch line,” imbuh Iwel.

Iwel menyampaikan bahwa set up adalah bagian yang tidak lucu seperti menjelaskan atau menceritakan kejadian. Sementara, punch line barulah bagian lucunya. “Punch line yang buat penonton ketawa. Tapi bagian set up jangan terlalu banyak. Karena jika terlalu banyak malah jadi anekdot,” ujar pria 44 tahun ini.

Bagaimana Iwel disebut masyarakat sebagai pelopor stand up comedy di Indonesia pun diceritakan olehnya. Iwel, pada 1989, pergi merantau ke Jakarta dan ia pun bergaul dengan komunitas pelawak. Iwel menyampaikan  tiga komunitas itu ialah yang menjadi tempat berkumpul para pelawak papan atas.

“Selama saya bergaul dengan para pelawak ini, baik tunggal maupun grup, saya belum pernah mendengar satupun di antara mereka menyebutkan istilah stand up comedy ataupun menyatakan diri sebagai stand up comedian,” kenangnya.

Baca juga: Fredrich Yunadi: Saya Mengimbau Advokat Seluruh Indonesia Boikot KPK

Ketertarikan Iwel menjadi komika pun muncul dari sitcom Seinfeld. Sang aktor, Jerry Seinfeld melakukan stand up comedy pada awal atau akhir penayangan. Lalu temannya, Diaz Hendropriyono, yang sekarang menjabat sebagai staf khusus kepresidenan menyebutkan yang dilakukan Jerry Seinfeld ialah stand up comedy. Kemudian pada 1998 Iwel memperkenalkan dirinya sebagai stand up comedian atau komika.

Iwel hingga tahun 2004, berjuang sendiri mempromosikan stand up comedy. Hingga akhirnya muncul ide untuk menyelenggarakan pementasan tunggal yang dapat dikenal masyarakat dan diliput media.

“Pada 6 maret 2004 saya membuat pertunjukan stand up comedy pertama di Indonesia yang dilakukan oleh stand up komedian Indonesia di gedung kesenian Jakarta,” imbuh pria yang bernama asli Welnaldy ini.

Sahabat almarhum Ustaz Jefri Al Buchori dan Gugun Gondrong ini pun membuka jalan stand up comedy untuk tayang di televisi nasional melalui pementasan tersebut. Pemilik Comedy Cafe Indonesia, Ramon Papana, pada tahun 2010 lalu mengajak Iwel untuk membuat open mic di kafenya, yang lalu diunggah ke Youtube.

“Pandji kemudian menghubungi saya bagaimana bisa ikut open mic di sana dan saya arahkan ke Ramon Papana. Dia datang bersama Raditya Dika dan keduanya adalah seleb twit, ketika rekamannya di upload di Youtube saat itu jadi heboh,” imbuhnya.

Baca juga: Mengintip Keseharian Wanita Korea Utara dari Balik Lensa, Mengejutkan!

Sejak itulah, program stand up comedy ditayangkan hampir bersamaan oleh dua stasiun televisi pada November 2011. Hadir pula kompetisi stand up comedy di televisi dan memunculkan banyak komika baru.

KiniPria yang sekarang menjalani profesi sebagai motivator itu mengaku senang lantaran stand up comedy bisa diterima secara luas oleh masyarakat di Indonesia. Tetapi, Iwel juga merasa khawatir. Apabila kurang bagus kualitasnya maka penonton bisa cepat bosan dan meninggalkan stand up comedy.

“Tahun 1960-an hingga 2000, grup lawak sangat populer. Namun saat ini sudah tidak ada lagi, terakhir grup Cagur yang kini lebih banyak bermain sinetron. Dikhawatirkan stand up comedy juga akan seperti itu jika tidak ada quality control dari para komika sendiri,” ujar pria kelahiran Padang tersebut.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan