Mengungkap Penyebab Pemerintahan Jokowi Impor 500.000 Ton Beras

Posted on

Lahiya – Kebijakan impor 500.000 ton beras dilaksanakan pemerintahan Presiden Joko Widodo demi untuk memperkuat cadangan beras nasional. Presiden Jokowi di sela kunjungan kerjanya kerjanya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah mengungkapkan alasan tersebut. Selain itu, dalam lima tahun terakhir, harga beras medium di Pasar Beras Cipinang saja sudah mencapai titik tertinggi.

“Itu (impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita agar tidak terjadi gejolak harga di daerah-daerah,” ungkap Jokowi di sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (15/01/2018). Demikian seperti dikutip dari reportase Kompas.com, Rabu (17/01/2018).

Mengacu kepada data-data yang dihimpun tim wartawan, dalam lima tahun terakhir, harga beras medium di Pasar Beras Cipinang mencapai titik tertinggi. Sehingga dibutuhkan penetrasi berupa tambahan stok. Di sisi lain, posisi cadangan beras pangan Indonesia kian menipis.

Ketentuan soal cadangan beras di Indonesia itu mematok pada FAO. Organisasi sayap PBB yang mengurusi soal pangan itu merekomendasikan cadangan beras untuk negara seperti Indonesia dari 1,1 juta hingga 1,8 juta ton.

Baca juga: Segera! Sandiaga Uno Akan Diperiksa Terkait Kasus Penggelapan Lahan

Sementara itu, pada pertengahan Januari 2018 cadangan beras pangan Indonesia jauh di bawah itu. Dengan demikian dibutuhkan penambahan cadangan.

Panen beras di Indonesia baru dimulai pertengahan Februari 2018 dan berakhir pada Maret 2018 (panen raya).

Total konsumsi beras per tahun di Indonesia adalah 37.700.000 ton. Ini berarti, konsumsi beras per bulan mencapai sekitar 3,1 juta ton.

Hitung-hitungan pemerintah pun, 500.000 ton beras hasil impor itu akan menjadi cadangan  sekitar satu hingga dua pekan saja.

Apabila merujuk pada waktu panen, impor beras itu pun diyakini tidak akan “memukul” petani.

Dipastikan Satgas Pangan

Kepala Satgas Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto memastikan tidak ada penimbunan stok beras di tingkat produsen ataupun distributor.

Menurutnya, kelangkaan stok beras yang berujung impor ini disebabkan oleh kecilnya hasil panen.

“Kami mendapatkan memang di lapangan ada panen. Namun, panennya tidak panen raya (besar jumlahnya),” tutur Setyo, yang juga Kepala Divisi Humas Polri, Senin (15/01/2018) malam, mengutip Kompas.com.

Ditambahkannya, pedagang beras juga kekurangan stok di pasaran. Pedagang sudah tak berani menimbun beras lantaran takut kualitasnya rusak. Selain itu, ada ancaman pidana bagi orang yang sengaja menimbun beras.

Baca juga: Kritik Jokowi Karena Harga Beras Naik, Fahri Hamzah: Mana Janjinya Sekarang?

Saat ini, yang bisa diharapkan adalah ketersediaan beras di Bulog. Namun, jumlahnya tidak mencukupi.

“Bulog itu kemarin terakhir menyampaikan ada 900.000 ton,” tukas Setyo.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan