Menilik Benteng Moraya, Saksi Bisu Kegigihan Pejuang Minahasa

Posted on

Lahiya – Berlokasi di pinggiran Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Benteng Moraya telah menjadi saksi bisu dari peristiwa sejarah yang luar biasa membekas bagi orang Minahasa. Pasalnya, Benteng Moraya ini menjadi tempat pertahanan terakhir pasukan orang Minahasa dalam peperangan melawan kompeni dalam penjajahan.

Berdasarkan referensi dari beberapa literasi, Benteng Moraya menjadi tempat pertahanan terakhir pasukan orang Minahasa sekitar tahun 1808. Benteng itu juga menjadi pusat kekuatan pasukan orang Tondano yang saat itu bernama Minawanua.

Seperti dilansir dari laman SindoNews.com, Jumat (19/01/2018), saat ini lokasi Benteng Moraya sudah dibangun kembali dengan megah. Ia berdiri sebagai monumen peringatan akan nilai-nilai heroik dan patriotik yang sarat sejarah—sebuah saksi bisu dari tindak kepahlawanan orang Tondano-Minahasa dalam mempertahankan tanah leluhurnya.

“Pesona Benteng Moraya masih menggoda. Keindahan alam dan pegunungannya serta bersatu padu bersama Danau Tondano sungguh memesona,” demikian diungkapkan oleh Nela Paneo, salah seorang warga Manado.

Baca juga: Gempar! Peninggalan Unik dari VOC Ditemukan di Sekitaran Borobudur, Seperti Apa Bentuknya?

Menjadi Destinasi Wisata

Dewasa ini, Benteng Moraya memang menjadi salah satu destinasi wisata baru di Minahasa yang wajib dikunjungi. Terutama bagi remaja atau orang tua yang gemar berswafoto, Anda dapat dengan leluasa mengambil foto dari sisi manapun mengingat pemandangan di kawasan tersebut memang semuanya indah.

Tak hanya itu saja, lokasi Benteng Moraya juga terbilang mudah dituju.  Tak butuh waktu lama jika hendak dikunjungi dari pusat Kota Tondano. Namun bagi yang dari Manado, jarak tempuhnya kurang lebih 35 km dari pusat Kota Manado. Akses perjalanan akan terasa lebih mudah apabila ditempuh dengan menggunakan angkutan darat.

“Benteng Moraya sebenarnya sarat sejarah. Jika para pelajar benar-benar ingin mengetahui bagaimana sampai benteng tersebut dilestarikan karena memang memiliki histori yang luar biasa membekas bagi orang Minahasa,” ungkap Sri Rajoe, pengunjung lainnya yang merupakan guru sejarah di salah satu sekolah di Manado.

Dengan berkunjung langsung ke Benteng Moraya, pelancong tak hanya akan dapat memahami dan mengenali kisah kepahlawanan orang Tondano-Minahasa dalam mempertahankan tanah leluhurnya. Para pengunjung juga akan disuguhi dengan keindahan alam dan lingkungannya yang memang cocok dijadikan wahana bertamasya dan rekreasi.

Sejarah Perang Tondano

 

Di lokasi, pengunjung bisa berfoto dan menaiki menara berlantai empat. Di depan dekat jalan raya, orang berkerumun dan berfoto ria di tulisan Benteng Moraya sambil mengamati tonggak-tonggak besar dengan relief-gambar yang bercerita tentang sejarah perang Tondano.

Tonggak-tonggak besar itu berjumlah 12 buah yang dibagi dua. Ada enam tonggak di sebelah Selatan dan enam lainnya di sebelah Utara. Tonggak itu dipancangkan persis di belakang tulisan Benteng Moraya.

Uniknya, setiap tonggak diukir dalam bentuk relief gambar dan informasi tentang sejarah Perang Tondano.

Terjadi pada 1808-1809, Perang Tondano adalah perang yang melibatkan orang Minahasa di Sulawesi Utara dan pemerintah kolonial Belanda pada permulaan abad XIX. Perang ini terjadi akibat dari implementasi politik pemerintah kolonial Hindia Belanda oleh para pejabatnya di Minahasa, terutama akibat upaya mobilisasi pemuda untuk dilatih menjadi tentara.

Kendati hanya berlangsung sekitar satu tahun, Perang Tonando terdiri dari dua tahap. Perang Tonando I terjadi pada masa kekuasaan VOC. Pada saat bangsa Barat datang, orang-orang Spanyol sudah sampai di tanah Minahasa (Tondano) Sulawesi Utara. Di samping berdagang, Orang-orang Spanyol juga menyebarkan agama Katolik.

Hubungan dagang orang Minahasa dan Spanyol terus berkembang. Namun mulai abad XVII, hubungan dagang antara keduanya mulai renggang karena dengan kehadiran para pedagang VOC. Saat itu, VOC telah berhasil menanamkan pengaruhnya di Ternate. Bahkan Gubernur Ternate, Simon Cos, telah mendapatkan kepercayaan dari Batavia untuk membebaskan Minahasa dari pengaruh Spanyol.

Selanjutnya Simon Cos menempatkan kapalnya di Selat Lembeh untuk mengawasi pantai timur Minahasa. Tak pelak, para pedagang Spanyol dan juga Makasar yang bebas berdagang mulai tersingkir akibat ulah VOC. Apalagi waktu itu Spanyol harus meninggalkan Kepulauan Indonesia dan bertolak ke Filipina.

Monopoli VOC

 

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan