batu

Menjadi Orang Awam yang Beradab | @malakmalakmal

Posted on

Kalau semua orang berusaha memperbaiki mobilnya sendiri, rasanya dalam waktu singkat jalanan akan sepi, lantaran banyak mobil yang tak bisa melaju lagi.

assalaamu’alaikum wr. wb.

Dalam suatu perjalanan di kereta dari Bogor menuju Jakarta, saya mendengar sebuah perbincangan yang cukup menarik. Saya rasa bukan saya saja yang mendengarkan, sebab obrolan berlangsung sangat seru dan suaranya cukup keras. Bahkan saya waktu itu sebenarnya tengah berkonsentrasi dengan Twitter, tapi akhirnya ikut menyimak juga.

Yang disebut ‘perbincangan’ ini sebenarnya nyaris sebuah monolog. Seorang lelaki paruh baya berbicara dengan kata-kata yang sangat deras, sedangkan 2-3 orang rekannya lebih banyak mendengarkan. Mereka sesekali saja berkomentar, dan selebihnya hanya tertawa (baik tertawa yang betulan atau yang sekedar sopan santun) dan mengangguk-angguk. Sedikit tambahan catatan, dalam kultur Indonesia, paling tidak di Pulau Jawa, kalau orang hanya tertawa dan tidak berkomentar, meski kepalanya mengangguk-angguk, belum tentu ia setuju.

Alkisah, bapak yang bersemangat ini sedang menjelaskan mengapa ia sangat mendukung Ahok. Oya, bapak ini jelas seorang Muslim. Uraian di bawah ini akan memperjelas hal tersebut.

Baca juga:

Sang orator mengawali argumennya dengan sebuah dalil (dan mengulangnya berkali-kali): “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina!” Berdasarkan ‘dalil’ tersebut, ia berpandangan bahwa memang orang dari Cina itu pintar-pintar, alias sumber ilmu, dan karenanya kita diperintahkan untuk belajar ke sana. Yang lebih menariknya lagi, ternyata ia menganggap dalil ini berasal dari Al-Qur’an. Argumen kemudian disempurnakan dengan kata-kata: “Dari dulu Qur’an sudah menjelaskan, kita aja yang nggak mau percaya!”

Tentu saja, argumen ini tidak akan lengkap tanpa hal lain yang sebenarnya tipikal, yaitu kebencian terhadap Arab. Langkah berikutnya ini sudah berhasil saya tebak bahkan sebelum ia mengatakannya. Argumennya: “Lihat Nabi-nabi, semua datang di Arab. Kenapa coba? Sudah jelas, karena orang Arab itu paling rusak! Makanya kita nggak disuruh belajar ke Arab, tapi ke Cina!”

Semi-monolog ini kemudian berlanjut dengan topik yang tidak pernah bergeser jauh. Intinya, Arab salah, Cina benar, dan semuanya sudah dijelaskan oleh Al-Qur’an. Jika kita benar-benar beriman pada Al-Qur’an, maka kita seharusnya mengikuti petunjuk di dalamnya.

Meski sejak awal perbincangan ini bersumber dari sikap mendukung Ahok, tapi lupakanlah sejenak masalah Ahok ini. Saya jauh lebih tertarik mengamati betapa berapi-apinya sang bapak dalam memaparkan argumen-argumennya, meskipun nyaris tak ada kebenaran di dalam ucapannya (kecuali tentang kewajiban beriman kepada Al-Qur’an). Inilah fenomena umat kita; umat Muslim Nusantara. Ada orang yang tahu bahwa ia tahu, ada yang tak tahu bahwa ia tahu, ada yang tahu bahwa ia tak tahu, dan sedihnya, ada juga yang tak tahu bahwa ia tak tahu. Yang terakhir ini jumlahnya tidak sedikit.

Mari kita mulai dengan kesalahan yang sangat kentara jelas. Pertama, ucapan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” takkan ditemukan di halaman mana pun dari Al-Qur’an, karena memang ia tidak berasal dari situ. Kalimat ini memang populer dan banyak yang menganggapnya sebagai hadits Nabi saw. Hanya saja, menurut penyelidikan para ahli, dalam periwayatannya terdapat sejumlah pemalsu hadits. Dengan kata lain, sanad-nya bermasalah, dan karena itu, ia divonis sebagai hadits palsu.

Tentu tidak ada larangan untuk menuntut ilmu ke Cina, namun ketika kita menyandarkan ucapan ini kepada Rasulullah saw, muncullah sebuah konsekuensi yang serius. Sebab, jika orang lain yang mengucapkannya, maka ia hanyalah sebuah nasihat biasa yang harus dipahami sesuai konteks. Akan tetapi, jika Nabi Muhammad saw yang memerintahkannya, maka ada nilai pahala yang mengiringinya. Bagaimana pun, sekali lagi, ucapan ini bukan hadits, apalagi Al-Qur’an.

Kedua, retorika kebencian terhadap Arab pun sebenarnya sudah basi. Mengawali kitab Sirah Nabawiyah-nya, Syaikh Ramadhan al-Buthi langsung menjelaskan hikmah diutusnya Nabi Muhammad saw di wilayah yang kini merupakan bagian dari teritori Kerajaan Saudi Arabia. Selain faktor kondisi masyarakatnya, juga ada faktor geografis.

Saya tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang masalah ini, karena semua orang bisa merujuk kepada buku Syaikh al-Buthi dengan mudah, di samping itu juga akan membawa kita menyimpang cukup jauh dari pokok pembicaraan di sini. Yang jelas, Syaikh al-Buthi juga menambahkan bahwa pada masa itu kejahilan terjadi di seluruh dunia, termasuk di tengah-tengah masyarakat dua negara adidaya pada masa itu, yaitu Romawi dan Persia. Penulis Sirah Nabawiyah lainnya, yaitu Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, juga memberikan penjelasan yang sama.

Pada hakikatnya, kejahilan ada di mana-mana, bahkan di sepanjang jaman. Kita pun tak semestinya menilai kejahilan dari hal-hal yang bersifat materi. Di seluruh dunia, misalnya, banyak orang berpendidikan, hidup di kota besar (bukan hutan belantara atau padang pasir), tapi toh di antara mereka ada juga yang membunuh anaknya sendiri. Apa bedanya dengan masyarakat Arab di masa lampau yang membunuh anak-anak perempuannya?

Maka, kejahilan bukanlah ciri khas bangsa Arab, melainkan juga dimiliki oleh seluruh bangsa di seluruh jaman. Lebih tepatnya, sebagai orang beriman, kita bisa mengatakan bahwa tanpa mengikuti ajaran Islam, manusia dari segala bangsa dan segala jaman pastilah terjerumus dalam kejahilan.