Home Gaya Hidup Menyikapi Anak yang Melawan Orang Tua

Menyikapi Anak yang Melawan Orang Tua

SHARE

oleh; Elly Risman

Bagaimana Mengatasi Anak yang Melawan Orang Tua

Pada prinsipnya, tidak boleh pantang menyerah jika #AnakMelawan dan #NgomongBalik. Tidak boleh bilang “ah ya udah deh”.
Temukan akar penyebabnya! Apa kelengketan dengan anak baik? Cek apakah anak kita dilahirkan ditunggu-tunggu atau “yah, kok hamil”? Cek juga apakah ia dapat hak menyusui yang cukup. Anak melawan hanya terjadi jika tidak terjadi kelengketan.
Kelengketan berdasarkan AlQuran didapatkan dari menyusui skin to skin, bukan dari botol. Apa hidup kita tergesa-gesa, tidak punya waktu untuk bicara tenang, gampang meng“iya”kan saja apa yang anak ucapkan dan  lupa tindak lanjuti.
Apa cara kita mengasuh seperti “sersan pelatih”, di mana anak sudah nurut saja apa yang orang tua katakan? Jarang diajak diskusi? Apa jarang menyapa perasaan anak dan bicara dengan 12 gaya populer? Memerintah, menyalahkan, meremehkan, apalagi jika cara kita bicara tidak berubah meski usia anak berubah.
Orang tua tidak sadar otak anak sudah bersambungan sejak usia 2,5 tahun. Mereka punya opini dan cara berpikir sendiri. Bagaamana menyikapinya? Hati-hati dalam bereaksi krn akan tentukan kelanjutan relasi ortu-anak. Tentukan apa yang boleh didiskusikan, apa yang tidak.
Perjelas aturan dan  konsekuensi di rumah, budayakan dialog dan  musyawarah. Beri kesempatan untuk argumen. Dasar ini dr 2,5 tahun. Jika ada kondisi di mana anak berargumen, lihat dulu konteksnya. Jika bahayakan anak atau langgar aturan agama, kendali ada ditangan orang tua. Namun jika tidak membahayakan, biarkan anak dengan pilihannya agar ia belajar konsekuensi atas pilihannya.
Apa akar masalah Ayah Bunda? Temukan dulu, baru kita bahas bagaimana cara mengatasi masalah. Dampak jika anak terlalu dilembekin atau terlalu dikerasi adalah SAMA: anak merasa tidak dimengerti dan tidak bida mengekspresikan dirinya.
Hal ini membahayakan, anak seperti komputer shutdown. Kita tidak bisa mengetahui jika ada hal terjadi dalam dirinya. Jangan sikapi anak melawan atau balik melawan dengan teriak atau mengancam, lebih bak tarik nafas panjang dan diam. Hentikan pembicaraan, beri waktu masing-masing untuk sendiri. Release emosi dengan wudhu, sholat, kmdn pikirkan “hmm.. kenapa ya nih anak?” Hal ini agar anak tidak semakin melawan. Ingat, anak bisa berdosa jika ia melawan kita. Tidak mau kan?
Anak juga perlu tau anak tidak setara dengan orangtua. Sambung lagi pembicaraan setelah tenang. Anak Melawan bisa karena ia melihat temannya sehingga ia ingin mencoba rasanya melawan (Hannah Chow – Johnson MD).
Bisa juga karena ada masalah di luar rumah, maka baca bahasa tubuh dan tebak perasaannya. Kalau sudah reda, jelaskan pada anak apa yang boleh dan tidak, bilang kalau kamu marah atau capek atau lagi males bicara, tetapi jangan dengan marah-marah, berteriak, mengumpatnya.
Jika Anak Melawan, dan kita tidak sengaja teriak dan marah (karena dulu diasuh dengan keras), ampuni dulu orang tua kita, minta Allah ampunkan ia. Lalu, minta maaf pada anak apa yang telah kita perbuat padanya.
Keras untuk disiplin? Disiplin itu hanya akan efektif jika melibatkan perasaan anak dan betujuan untuk bentuk kontrol diri. Bagaimana ajarkan anak tentang konsekuensi namun tetap dengan menunjukkan perhatian?
Saat diskusikan batasan dengan anak, jelaskan bahwa sikap melawan punya konsekuensi. Tentukan dan sepakati konsekuensinya apa. Kehilangan privilege (tidak boleh main games, nonton tv?), tambah tugas dirumah atau malah meminta tidur lebih cepat?
Tunjukkan kita serius dalam penerapannya supaya aturan punya wibawa: KONSISTEN. Jadi MODEL! Bagaimana kita bicara, begitu anak bicara. Konsisten jadi pribadi yang baik dulu terhadap keluarga dan orang sekitar. Perhatikan lebih banyak hal postif yang ditunjukkan anak, hargai dan puji, “Mama senang deh kamu nunggu giliran ngomong.” Uji terlebih dulu jika anak menyampaikan perasaannya melalui kata-kata.
INGAT: selama pelaksanaan kesepakatan, mungkin anak akan tidak suka pada aturan tersebut. Hal yang membuat aturan itu ada, atau orang yang buat aturan. Berimbang antara penegakan aturan dan kasih sayang. Anak akan sadar. Orang tua harus mengenali saat dia sedang baik sehingga dia perlahan kurangi melawan.
Demikian #SmartParenting edisi Menghadapi #AnakMelawan dan #NgomongBalik.
*Dirapikan dari kultwit Kita dan Buah Hati @kitadanbuahhati 19/08/2015 yang merangkum siaran @EllyRisman di @RadioSmartFM
SHARE