Merasa Dianaktirikan, Warga Perbatasan Ancam Golput Pilpres 2019

Posted on

Lahiya – Penduduk perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menyatakan ancaman tidak akan ikut andil dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019. Hal ini dilakukan bukan tanpa sebab, pasalnya penduduk sekitar merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah. Infrastruktur jalan dan jembatan di kawasan itu rusak berat dan tak juga kunjung diperbaiki.

Mengutip reportase Tempo.co, Rabu (20/12/2017), Kasi Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Kecamatan Puring Kencana Andreas Adi menerangkan, ancaman untuk masuk golongan putih atau golput itu merupakan kekesalan masyarakat karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

“Masyarakat kecewa karena memang mereka sangat mengharapkan adanya pembangunan,” ungkap Andreas, Selasa (19/20/2017).

Selain jembatan dan jalan di kawasan itu rusak berat, warga juga kesulitan mendapatkan air bersih dan aliran listrik.

Baca juga: Ngeri! Tak Banyak yang Tahu, Sepanjang Lereng Gunung Everest Dipenuhi Ratusan Mayat Beku

Sampai Belanja Kebutuhan di Malaysia

Bahkan selama ini pun penduduk lebih memilih berbelanja kebutuhan sehari-hari mereka di Malaysia lantaran aksesnya lebih mudah.

“Karena itu kebutuhan dasar,” papar Andreas.

Lusianus Adam yang merupakan Kepala Dusun Langau, Desa Langau, Kecamatan Puring Kencana juga menyebutkan hal senada. Ia melanjutkan, pemerintah, kurang memperhatikan pembangunan infrastruktur di daerahnya.

“Selama ini, kami di daerah perbatasan tidak diperhatikan pemerintah, sedangkan kami selalu menjaga NKRI,” imbuhnya.

Lusianus menyampaikan bahwa pemerintah sudah puluhan tahun tidak memperhatikan dengan serius terkait kondisi pembangunan, khususnya infrastruktur jalan dan jembatan.

Bonifasius Efendy yang merupakan Kepala Dusun Sungai Antu, Kepala Desa Sungai Antu, Kecamatan Puring Kencana, juga bersuara. Ia mengatakan, selama ini masyarakat perbatasan belum menikmati buah dari kemerdekaan.

“Kami sangat malu terhadap negara tetangga,” tuturnya.

Menurut Effendy, pembangunan di Malaysia sangat maju.

“Kami di perbatasan ini hanya bisa merenungi, kenapa kami seperti dianaktirikan,” ucapnya.

Efendy juga menambahkan, masyarakat perbatasan sangat mencintai Indonesia, sayangnya mereka merasa pemerintah mengabaikan pembangunan di perbatasan.

Baca juga: Terciduk! Hina Polisi di FB, Janda Muda Asal Pajarakan Terancam 6 Tahun Penjara

Oleh sebab itu, Efendy berharap Presiden Joko Widodo merealisasi pembangunan di daerahnya.

“Kami beranda depan Indonesia. Wajah Indonesia tempatnya di perbatasan,” tandasnya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan