Miris! Bukan Gila Harta Apalagi Durhaka, Fakta Dibalik Anak Gugat Ibunya Malah Tak Diduga

Posted on

Lahiya – Pada 2017 silam, publik dihebohkan dengan kasus anak yang menggugat ibunya di Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Bahkan, kasus ini sempat menjadi viral dan menggemparkan media massa skala nasional. Betapa tidak, masyarakat tentu mempunyai berbagai pandangan terkait persoalan keluarga yang tengah berpolemik ini. Bahkan, tak jarang juga yang “menuding” Arman Setiawan (31) beserta saudaranya mengincar harta orang tua mereka.

Namun tak banyak yang tahu bagaimana persisnya runut persoalan yang sebenarnya sehingga seorang Arman Setiawan. Sepintas, dirinya memang tampak nekat mengajukan gugatan terhadap ibunya sendiri ini (Fariani). Tak pelak, tudingan ‘gila harta’ dan ‘anak durhaka’ sempat dilontarkan kepadanya. Padahal, ada fakta miris dibaliknya.

Seperti dilansir dari reportase KoranSultra.com, Jumat (19/01/2018), berikut kesaksian Arman Setiawan pada tim wartawan, Rabu (17/01/2018).

Diusir dari Rumah

Pada tanggal 20 Desember 2016 saya, istri dan anak saya yang berumur 1 tahun 8 bulan dan adik saya yang ke-2 diusir dari rumah jam 12.30 malam, hanya karena kami mengingatkan beliau agar tidak salah jalan karena kami menduga ibu kami menjalin hubungan dengan seseorang yang mana orang tersebut setelah kami cari tahu hanya akan mengambil keuntungan dari peninggalan almarhum bapak saya dengan alih-alih mengatasnamakan CINTA,” demikian Arman Setiawan mengawali kisahnya.

Baca juga: Ketahui Penyebab Penglihatan Anda Menjadi Buram

Dirinya mengajukan gugatan sejak Februari 2017 lalu.

”Saat itu saya mendapat informasi bahwa ibu saya pernah mengikuti sidang di Pengadilan Baubau tentang permohonan ahli waris yang akan digunakan untuk mencairkan dana pada Bank Danamon Baubau milik almarhum Bapak saya, setelah saya cek ternyata benar,” lanjutnya.

Arman menambahkan, “Saya pun meminta salinan putusan di PN. Awalnya saya tidak dikasih dikarenakan nama saya tidak ada dalam penetapan ahli waris. Setelah beberapa hari kemudian kuasa hukum saya yang bersurat ke PN Baubau barulah diberikan salinan putusan itu. Setelah saya baca didalam putusan terdapat beberapa keganjilan seperti, nomor penetapan di tulis tahun 2015 tetapi sidang di aksanakan tahun 2016.”

“Tertulis almarhum bapak saya meninggal dunia tahun 2008 tetapi nyatanya beliau meninggal tanggal 28 Januari 2016. Dalam penetapan tersebut dikatakan bahwa orang tua saya memiliki 2 orang anak tetapi kenyataannya kami ada 4 bersaudara, adik saya yang nomor 3 dikatakan juga masih dibawah umur tetapi kenyataannya adik saya sudah berumur 22 tahun,” urai Arman.

Selanjutnya, Arman melakukan konfirmasi ke pihak pengadilan.

”Saya sudah menanyakan hal tersebut kepada pihak pengadilan yang pada waktu itu saya bertemu langsung dengan ketua pengadilan dan juga Hakim yang melakukan penetapan tersebut. Dan mereka mengatakan bahwa itu cuman kesalahan ketik saja dan itu tidak masalah. Saya juga sudah konfirmasi ke bank tersebut dan menyampaikan bahwa benar ibu saya sudah melakukan pencairan yang mana ibu saya membawa penetapan dari PN tersebut, ada juga surat kuasa dari kami bertiga yang disahkan oleh notaris.”

“Saya sudah sampaikan kepada pihak bank bahwa saya tidak pernah bertanda tangan masalah surat kuasa, apalagi bertemu sama notaris. Tapi pihak bank menyuruh saya melakukan konfirmasi kepada ibu dan notaris tersebut,” ungkap Arman.

Pencairan Asuransi Bapak

Ternyata tak cukup sampai di situ saja. Arman kembali mendapat kabar bahwa asuransi almarhum bapaknya juga telah dicairkan.

”Saya mendapat informasi bahwa uang asuransi bapak saya di Axa Mandiri  yang mana almarhum sudah menuliskan bahwa yang menerima polis adalah 3 orang yakni ibu saya mendapatkan 40% dengan nilai Rp 122.599.875, saya dan adik saya masing-masing mendapatkankan 30% Rp 118.993.997. Tetapi dana tersebut sudah dicairkan ibu saya tanpa sepengetahuan kami, dan yang anehnya ada rekening yang dibuatkan di Bank Mandiri yang mana rekening itu sama sekali kami tidak pernah membuatnya.”

“Jadi setelah saya melakukan komplain kepada pihak asuransi Axa Mandiri mereka pun mengembalikan dana kami sesuai jumlah yang sudah dituliskan, tetapi dengan catatan kami tidak akan permasalahkan ini lagi dan kami pun sepakat bahwa pihak asuransi akan melaporkan masalah ini Polda Sultra (kasus tersebut sudah dilaporkan oleh pihak Asuransi Axa Mandiri bulan 8 tahun 2017 kemarin dan sampai sekarang belum ada kejelasannya) agar diketahui siapa orang yang sudah membuat rekening atas nama saya dan adik saya,” beber Arman kemudian.

Penggelapan Uang Arisan

Arman kemudian melanjutkan kronologi peristiwa selanjutnya.

“Sebelum saya menggugat, sewaktu kami dimediasi saya sudah sering menyampaikan kepada ibu saya, ‘kenapa beliau berani melakukan hal tersebut’ yang mana hal itu akan berakibat fatal karena sebelumnya ibu saya juga sudah pernah menggelapkan uang arisan bhayangkari di Polres Bombana.”

“Tetapi pada waktu itu saya dan adik-adik saya membujuk bapak saya agar masalah ini tidak usah dilanjutkan ke ranah hukum dan almarhum bapak saya mengganti uang arisan tersebut dan ibu saya pun digantikan oleh ibu Muh Nur Sultan sebagai bendahara arisan bhayangkari pada waktu itu,” papar Arman Setiawan.

Ia menyebutkan, setelah dirinya mendapatkan semua bukti dan juga sudah dimediasi oleh berbagai pihak, sang ibu masih juga tidak menyadari kekhilafan yang sudah dilakukannya.

”Maka kami berinisiatif untuk melakukan gugatan ke Pengadilan Agama Baubau dengan tujuan agar kami bisa menyelamatkan sisa aset dari almarhum bapak saya untuk keperluan ibu saya dimasa tua nanti. Dan juga keperluan adik saya yang masih duduk di bangku SD,” tutur Arman menjelaskan.

Dituding Gila Harta dan Anak Durhaka

“Pada waktu kasus ini sedang viral di berbagai media cetak, online maupun TV, kami sebenarnya ingin memberikan klarifikasi bahwa apa yang diberitakan itu tidak benar. KAMI BUKAN ANAK YANG GILA HARTA, kami bukan anak durhaka seperti apa yang orang katakan selama ini pada kami. Seandainya kami ingin membela diri, sudah kami klarifikasi pernyataan ibu kami dengan bukti–bukti yang ada, tetapi apakah dengan kami mengklarifikasi kemarin-kemarin masalah kami dan ibu kami bisa terselesaikan?”

“Tentu saja tidak. Kemarin kami berpikir biarlah orang beranggapan bahwa kami gila harta dan kami ini anak durhaka, biarlah orang-orang bersimpati kepada ibu kami, mungkin dengan cara itu beliau bisa mengasihani kami yang sudah mendapat sanksi sosial yang begitu berat dan berharap ibu kami kembali merangkul kami sebagai anak. Tetapi apa yang kami dapatkan selama setahun ini jauh dari harapan kami,” urainya pilu.

Hendak Menjual Rumah dengan Makam Bapak

”Kenapa baru sekarang saya baru ingin membuka fakta sebenarnya? Karena ibu kami sudah sangat keterlaluan dimana ibu kami ingin menjual rumah kediaman kami yang berada di Kel. Lipu Kecamatan Betoambari yang mana rumah tersebut adalah rumah kenangan kami bersama keluarga, dan juga di halaman rumah tersebut ada makam bapak kami. Sedangkan di dalam putusan Pengadilan Agama Kota Baubau mengatakan bahwa semua aset yang kami masukkan dalam gugatan termasuk rumah kediaman kami adalah milik semua ahli waris,” terangnya.

Baca juga: Heboh! Wakil Wali Kota Nyaris Baku Hantam dengan Kadis Tata Kota Balam

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan