Nama SBY Muncul dalam Sidang Korupsi E-KTP, Demokrat: Itu Politis, Itu Fitnah!

Posted on

Lahiya – Syarief Hasan yang merupakan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat  menilai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku ketua umum partainya tidak ada kaitan apa pun dengan kasus korupsi E-KTP. Syarief menyampaikan hal ini guna menanggapi munculnya Presiden keenam RI tersebut dan Ketum Partai Demokrat dalam persidangan terdakwa korupsi E-KTP. Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Kamis (25/01/2018).

“Itu politis itu, itu fitnah!” ungkap Syarief saat dihubungi, Kamis (25/01/2018). Demikian seperti dikutip dari laporan Kompas.com.

Syarief menambahkan, korupsi E-KTP tak ada hubungannya Partai Demokrat dan SBY. Syarief menilai proyek E-KTP  dengan korupsinya merupakan hal yang berbeda.

Oleh sebab itu, Syarief memastikan bahwa SBY tak mengetahui korupsi dalam proyek pengadaan E-KTP.

Baca juga: Usai RKUHP Disahkan, Fahri  Hamzah Minta KPK Dibubarkan

“Itu substansinya program pemerintah. Nah sama kayak bikin jalan, yang bikin jalan kan program pemerintah, tapi kalau yang bikin jalan itu korupsi enggak ada hubungannya kan,” tandasnya kemudian.

Sebelumnya, Firman Wijaya selaku pengacara Setya Novanto menilai, fakta persidangan berupa keterangan saksi telah mengungkap siapa sebenarnya aktor besar di balik proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (E-KTP) tersebut.

Masih menurut Firman, dari keterangan para saksi, proyek E-KTP dikuasai oleh pemenang pemilu pada 2009, yakni Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Ada pun, saksi yang dimaksud Firman adalah mantan politisi Partai Demokrat, Mirwan Amir.

“Mirwan bilang, dia sampaikan kepada pemenang Pemilu 2009 bahwa urusan E-KTP ini ada masalah, jangan dilanjutkan. Tapi instruksinya tetap diteruskan. Jadi jelas yang namanya intervensi, ini yang disebut kekuasaan besar,” beber Firman.

Ada Kepentingan Politik

Lebih lanjut, melansir laporan JawaPos.com, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikatakan memerintahkan supaya proyek tersebut tetap berjalan. Namun ditegaskan oleh Syarief Hasan, SBY tidak ada sangkut-pautnya dengan dugaan korupsi yang merugikan negara Rp 2,3 triliun ini. SBY memerintahkan proyek tersebut tetap berjalan karena untuk kepentingan masyarakat.

“Kan begini proyek e-KTP ini program pemerintah, nah yang dipermasalahkan kenapa korupsi,” tutur Syarief kepada JawaPos.com, Kamis (25/01/2018).

Oleh sebab itu, SBY memerintahkan supaya proyek tersebut tetap berjalan untuk kepentingan masyarakat banyak. Bukan karena ingin ‘kecipratan duit’ dari hal tersebut.

“Jadi mana tahu (SBY itu bermasalah), yang salah itu yang korupsi‎,” tegasnya.

Namun demikian, Anggota Komisi I DPR ini menduga diseretnya nama Presiden Indonesia keenam itu lebih karena ada kepentingan politik di belakangnya, bukan ingin membongkar suatu kasus.

“Itu politis, itu fitnah!” tegasnya.

Pengakuan Mirwan Amir

Sebelumnya, mantan Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Mirwan Amir mengaku dirinya sempat menyarankan kepada SBY yang saat itu menjabat sebagai presiden, lebih baik proyek E-KTP tidak berlanjut.

“Pernah saya sampaikan bahwa program E-KTP ini lebih baik tidak dilanjutkan,” ujarnya menjawab pertanyaan penasihat hukum Novanto, Firman Wijaya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (25/01/2018).

Mirwan Amir mengaku tak punya kuasa untuk menghentikan proyek itu. Oleh sebab itu, atas saran dari seorang pengusaha calon vendor E-KTP, Yusnan Solihin, Mirwan melaporkan hal tersebut kepada SBY.

“Posisi saya kan orang biasa saja. Untuk menyetop program e-KTP, tapi saya sudah sampaikan itu kepada Pak SBY atas saran dari Pak Yusnan solihin karena memang ada masalah, saya tidak tahu secara teknisnya,” urai Mirwan.

Ditanya bagaimana jawaban SBY, Mirwan menyebutkan bahwa proyek terkait diminta untuk dilanjutkan.

“Tanggapannya dari Bapak SBY bahwa ini kita untuk menuju Pilkada. Jadi proyek ini diteruskan,” tuturnya.

Baca juga: Tegas! PDIP Tak Setujui Satu Kebijakan Jokowi

Ada pun menurut pengakuannya, saat itu ia melaporkan hal tersebut di kediaman SBY di Cikeas pada sebuah acara.

“Kebetulan kita ada acara di Cikeas. Pada suatu acara, tidak di forum. Paling tidak sudah disampaikan,” demikian diungkapkan oleh Mirwan.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan