SHARE
Loading...

Sungguh mulia yang dilakukan mahasiswi cantik ini. Saat gadis-gadis seumurannya sibuk pacaran, ia yang duduk dibangku berani memanggul tanggung jawab besar untuk merawat neneknya 93 tahun. Mahasiswi itu bernama Liu Lin dari Sichuan, Tiongkok.

April lalu, mahasiswi semester II di Universitas Chengdu, Liu Lin mendapatkan berita duka dalam hidupnya. Ayahnya meninggal karena sakit, sedangkan ibunya mengalami tekanan mental yang hebat (gila).

Karena itu, tidak ada yang merawat neneknya yang telah berusia 93 tahun dan juga mengalami patah tulang karena terjatuh. Dengan kondisi ini, Liu Lin pun memutuskan membawa neneknya ke kampus dan ia sendiri yang akan menjaga dan merawat neneknya.

Demi merawat neneknya, Liu Lin menyewa sebuah kamar di sekitar kampusnya yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari kontrakan. Kamar yang disewanya memiliki dua tempat tidur, satu lemari pakaian dan meja. Harga sewa kamarnya sekitar 1.1 juta rupiah per bulan.

Adik laki-lakinya yang bekerja di Chengdu biasanya akan datang menjenguk mereka setiap bulan, sebagian besar gajinya diberikan untuk biaya hidup kakak dan neneknya. Setiap pagi jam 7:30, Liu Lin memasak sup untuk sarapan pagi yang paling disukai neneknya.

Siangnya setelah pulang dari kampus, dia langsung ke pasar membeli sayur dan daging, kemudian buru-buru pulang untuk memasak. Dikarenakan gigi neneknya tidak kuat, dia harus membuat makanannya selunak dan sehalus mungkin, biasanya Liu Lin juga menyiapkan beberapa makanan ringan di kontrakannya, agar sang nenek tidak kelaparan.

Karena neneknya suka nonton film perang, Liu Lin pun mendownload banyak film sejenis di komputernya, untuk mengisi waktu senggang nenek. Selain itu, agar kontrakannya tampak lebih ramai, dia memelihara seekor kucing. Kucing inilah yang akan menemani nenek supaya tidak kesepian saat Liu Lin ke kampus.

Tinggi Liu Lin hanya sekitar 1,5 m, perawakannya kurus, tapi tenaganya sangat kuat, sering menggendong nenek turun ke lantai bawah, memapahnya ke kursi roda. Saat cuaca bagus, Liu Lin mendorong kursi roda neneknya ke alun-alun melihat orang-orang berdansa.

Sejak menjemput neneknya tinggal bersama, Liu Lin jarang punya kesempatan jalan-jalan bersama teman sekampusnya, tapi dia sangat senang mengajak teman-temannya makan di kontrakannya.

Ketika ada yang tahu dengan kondisinya, mereka secara inisiatif mengumpulkan dana untuk membantu Liu Lin, tapi dia menolak maksud baik orang-orang itu, dan berkata: “Saya selalu merasa itu tak ubahnya seperti mendapatkan durian runtuh (mendapatkan sesuatu tanpa kerja). Adik saya kerja, saya sendiri juga bisa kerja part-time, tidak mau bergantung pada orang lain.”

Liu Lin mengatakan, selama ini, neneknya hidup dalam kesusahan, tiga anak nenek termasuk ayah semuanya telah meninggal, apa lagi setelah kepergian ayah, tidak ada yang bisa merawat nenek yang sudah senja.

Sejak kecil, dia dibesarkan oleh neneknya, sekarang sudah saatnya dia yang merawat sang nenek. Dia juga tidak memikirkan masa depannya, tapi tidak peduli kelak di mana pun, dia pasti akan membawa sang nenek berada di sampingnya.

Gadis yang tegar dan berbakti ini layak di acungi jempol. Betapa indahnya dunia ini jika semua orang seperti dia.