Ngeri! Tak Banyak yang Tahu, Sepanjang Lereng Gunung Everest Dipenuhi Ratusan Mayat Beku

Posted on

Lahiya – Menjadi puncak tertinggi di dunia, menaklukkan Gunung Everest menjadi impian bagi setiap pendaki gunung. Namun memang ada harga sangat mahal untuk mewujudkannya. Betapa tidak, para pendaki akan menghadapi medan masalah yang lebih berat dari sekadar longsoran dan penipisan es. Belum lagi soal hypothermia. Selain itu, tak banyak yang tahu, sejak Sir George Mallory mendaki Everest pada 1920-an, telah bertebaran berton-ton sampah di sepanjang lereng gunung.

Dan yang lebih mengerikan lagi, siapa sangka di sepanjang lereng gunung itu pun tersebar lebih dari 200 jasad pendaki dan etnis Sherpa, bayangkan. Banyak jenazah pendaki yang tidak diturunkan dan dibiarkan begitu saja. Sebab untuk mengangkutnya, butuh uang hingga puluhan juta. Demikian seperti dilansir dari laporan Dream.co.id, Rabu (20/12/2017).

Jasad-jasad membeku yang masih dalam posisi yang sama saat mereka mati itu menjadi saksi bisu dan bukti nyata dari pendakian Everest yang mematikan.

Sejak 1953, ketika Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay menjadi yang pertama mencapai puncak, Everest telah ‘ditaklukkan’ lebih dari 7.000 kali oleh 4.000 orang, baik secara kelompok maupun individu.

Baca juga: Terjawab Sudah! Bukan Kue dan Parfum, Bisnis Inilah yang Bikin Syahrini Tajir Melintir

Pendakian Everest, yang merupakan sumber pendapatan Nepal di sektor pariwisata yang terus tumbuh dan dan menarik lebih banyak pendaki dari berbagai belahan dunia dan lapisan masyarakat ini juga meninggalkan masalah sampah yang tidak berkesudahan.

Terlihat Seperti Lelucon

Seorang pendaki gunung yang memimpin kelompok ekspedisi pertama India pada 1965, Kapten MS Kohli, dengan sinis berkomentar, “Mendaki Everest terlihat seperti lelucon besar sekarang ini.” Yah, pendapat tersebut ada benarnya.

Menurut Kohli, sekarang orang menaklukkan Everest bukan karena murni mencari petualangan, atau demi untuk menaklukkan tantangan dan eksplorasi alam.

Sementara itu, Matthew Barlow, seorang psikolog dari Bangor University menuturkan, mendaki Everest sekarang ‘membosankan dan melelahkan’ jika tujuannya hanya mencari adrenalin.

Rekan-rekannya yang lain setuju sambil menambahkan bahwa pergi ke daerah yang rendah oksigen dengan segala ketidaknyamanannya yang melelahkan dan berisiko kematian tentunya sangat tidak masuk akal.

Namun bagi mereka yang sudah naik mendaki dan kembali dari Himalaya dengan selamat, ada sesuatu yang lebih dari sekedar ego yang mereka dapatkan.

Beragam Motif

Billi Bierling, pendaki dan wartawan, mengungkapkan setiap orang yang datang ke Himalaya untuk ‘menaklukkan Everest’ memiliki motivasi yang berbeda. Beberapa mendaki untuk keluarga mereka, sementara yang lain berjuang untuk memenuhi hasrat pribadinya.

Terlepas dari itu semua, Sherpa dan komunitas mereka harus berjuang menyingkirkan berton-ton sampah dan ratusan jasad yang tergeletak di sepanjang lereng Himalaya.

Tak disangka, biaya untuk melakukannya memakan ribuan dolar! Selain itu, dibutuhkan lebih dari delapan orang untuk menggali jasad yang sudah beku. Setelahnya, mereka harus membawanya ke Camp Base, sehingga keluarga dapat membawa pulang jasad orang yang mereka cintai tersebut.

Namun ada juga orang yang tergerak hatinya untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sampah setiap tahun, yang lebih sering secara tidak sengaja menemukan jasad di kedalaman salju.

Managing director Asia Trekking Dawa Steven Sherpa menuturkan, dia langsung memberikan pemakaman yang layak bagi jasad yang berada di luar zona 8.000 meter.

Baca juga: Pria Ini Beli Durian Seharga Rp 15 Ribu, Siapa Sangka Saat Dibelah Ternyata Isinya…..

Hingga hari ini, tim Dawa Steven tidak hanya telah berhasil menaklukkan puncak Everest, tapi juga sudah melakukan aksi sosial untuk sesama pendaki gunung, warga lokal Nepal, dan masyarakat pendaki seluruhnya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan