SHARE
Loading...

Nilai – Nilai dan Konsep dalam Seni Teater Selamat datang di Lahiya, situs (blog) sederhana yang berbagi ilmu dan pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Dan, pada kesempatan kali ini, kami bakal sharing pengetahuan mengenai Nilai – Nilai dan Konsep dalam Seni Teater. Langsung saja kita mulai pembahasannya, yuk.

Mengetahui Seni Teater

Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga berjalan bersamaan dengan tafsiran-tafsiran pada alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada dalam hubungan interaksi serta tafsiran-tafsiran pada manusia dan alam semesta. Tidak hanya itu, sejarah seni teater juga dipercaya berasal dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan tingkah laku binatang buruannya. Setelah selesai melakukan perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa syukur” mereka, dan “penghormatan” pada Sang Pencipta semesta. Ada pula yang mengatakan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini lantas dibakukan dan difestivalkan pada suatu tempat untuk dipertunjukkan dan di hadiri oleh manusia yang lain.

Teater senantiasa berhubungan dengan tempat pertunjukan atau tempat tontonan. Seni Teater yaitu seni yang kompleks, artinya bisa bekerjasama dengan cabang seni lainnya. Seni teater adalah satu kesenian yang paling komplit, lantaran di dalamnya tergabung beberapa cabang seni lainnya, seperti seni rupa, seni sastra, seni musik, dan seni tari.

Teater adalah karya seni yang bisa memberi sumbangan untuk keluhuran budi serta kematangan jiwa. Agar bisa sukses dalam menikmati sebuah karya teater, tingkat apresiasi yang tinggi amat dibutuhkan hingga benar-benar bisa merasakan bahwa teater sebagai tontonan juga sebagai tuntunan. Untuk mengapresiasikan sebuah karya seni, terutama seni teater memerlukan kesungguhan serta konsentrasi penuh. Oleh karena itu, sebagai pencinta perlu menyiapkan dengan matang.

Nilai – Nilai yang Terkandung Dalam Seni Teater

Dalam pementasan sebuh teater banyak nilai yang bisa diserap oleh penikmatnya. Berikut ini nilai-nilai yang terdapat dalam seni teater yaitu:

Nilai Didik

Dalam pementasan sebuah teater, senantiasa ada nilai baik dan buruk kehidupan yang ingin direalisasikan pada penontonnya.

Nilai Sejarah

Sebuah pertujukan teater terdapat nilai sejarah yang menuntun pencinta untuk mengenali serta mengetahui peristiwa serta sejarah terkait masa-masa lalu.

Nilai Budaya

Nilai budaya yang umumnya ditonjolkan dalam sebuah teater mencakup perilaku dramatis yang menggambarkan adat istiadat, tingkah laku, serta beberapa rutinitas hidup manusia di sebuah daerah sebagai ciri khas daerah itu.

Nilai Religius

Nilai religius ini tersampaikan pada penonton lewat pertunjukan yang menggambarkan tentang kehidupan beragam dan erat hubungannya dengan peningkatan keyakinan pada Tuhan YME.

Konsep Seni Teater

Konsep dasar seni teater terdiri atas dua segi yakni segi animo serta kreasi. Tetapi, lantaran terbatasnya SDM segi yang seringkali di ajarkan berkaitan dengan segi animo yang semestinya segi kreasi lebih diprioritaskan. Berikut ini beberapa konsep dasar seni teater, diantaranya yakni:

  • Seni teater mencakup ketrampilan olah rasa, olah fikir, olah tubuh, serta olah suara yang dalam pementasannya menggabungkan seni sastra, seni peran, seni gerak, seni rupa, seni tari, dan seni musik.
  • Seni sastra adalah konsep penting untuk pementasan seni teater. Memiliki bentuk berupa naskah, yang terbagi dalam beberapa komposisi yakni suku kata, komposisi kata, komposisi kalimat, sampai dengan komposisi dialog utuh yang membentuk karakter dan cerita.
  • Seni peran memberikan ketrampilan pada seseorang untuk memerankan karakter tokoh spesifik yang ditulis didalam naskah drama. Ketrampilan ini membutuhkan paduan olah rasa, olah fikir, olah tubuh, serta olah suara.
  • Seni gerak pada umumnya adalah ketrampilan untuk memindahkan gerakan-gerakan yang kerap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kedalam pemeranan tokoh cerita. Gerak yang dilatih sesui dengan kebutuhan pementasan drama.
  • Dalam pementasan drama, seni rupa diperlukan dalam segi tata artistik panggung, dekorasi, property, baju, dan tata rias.
  • Seni tari dipakai untuk menjadikan gerak jadi gerak simbolis berirama serta artistik yang menjadi nilai artistik pementasan drama.
  • Seni musik dipakai untuk mengiringi pementasan drama. Iringan ini tidak sebatas ilustrasi, namun udah disesuaikan dengan arti narasi dalam pementasan drama.
  • Olah rasa memprioritaskan pada penghayatan peran dalam pementasan drama. Dalam tingkatan awal olah rasa adalah pengekspresian perasaan tertentu yang disebut reaksi dari situasi dan kondisi. Dalam tingkatan lanjut olah rasa adalah paduan pengekspresian berbagai perasaan, yang terkadang perubahannya begitu cepat.
  • Olah fikir adalah ketrampilan dalam memahami logika proses kehidupan yang dipertunjukkan dalam drama.
  • Pada umumnya olah fikir ini beorientasi pada hukum kausal.
  • Olah tubuh berperan sebagai pelatihan kelenturan gerak otot-otot serta sendi tubuh yang akan digunakan untuk mengekspresikan peran tokoh tertentu dalam pementasan drama. Olah tubuh amat berperan dalam membantu seseorang dalam memainkan peran tokoh tertentu.
  • Proses pembelajaran kreasi seni teater untuk lakon perannya pada umumnya dilakukan secara bertahap, mulai dari pelatihan konsentrasi, pernafasan, suara, gerak, penghayatan, akting, serta bloking

Pesan Moral (Kearifan Lokal) dalam Pertunjukan Teater Nontradisional

Kearifan budaya biasanya senantiasa terdapat dalam tiap karya seni daerah ataupun karya seni modern. Nilai-nilai yang dibawa oleh karya seni ini kerap berupa simbol yang membutuhkan penafsiran lebih lanjut. Tidak jarang nilai-nilai kearifan budaya ini berbentuk universal serta relevan dengan berbagai situasi jaman.

Kearifan budaya dalam karya seni kerap menyangkut permasalahan moral serta nilai-nilai kemanusiaan. Kenapa demikian? Moralitas dan nilai kemanusiaan senantiasa bersifat universal. Bahasa seni yang universal tersebut sebenarnya mengusung nilai-nilai moralitas serta kemanusiaan diatas segala-galanya. Pertunjukan seni dengan beragam unsur estetika yang ada di dalamnya sebenarnya cuma merupakan alat belaka untuk mengemukakan gagasan. Esensi atau intisari sebuah karya seni yaitu nilai seni itu sendiri yang diukur dari segi kearifan budaya.
Marilah kita lihat satu contoh yang universal mengenai posisi Karna dalam cerita Mahabharata. Karna yaitu anak tertua Kunti Nalibrata, sekaligus kakak tertua daripada Pandawa. Sejak kecil, Karna sudah dibuang oleh ibunya lantaran malu melahirkan anak tanpa di ketahui ayahnya, walau sejarah mencatat Karna sebagai putra Dewa Surya. Sejak kecil Karna dipelihara oleh keluarga istana melalui kusir Adirata. Bahkan juga, setelah besar Karna di beri kedudukan sebagai Adipati oleh Kurawa yang secara tehnis yaitu musuh Pandawa.

Mendekati perang Bharatayudha, Karna diberitahu mengenai kondisi dirinya yang sesungguhnya. Tidak kurang dari Sri Krishna yang titisan Wishnu membujuk Karna untuk bergabung dengan adik-adiknya, para Pandawa. Karna menampik walau secara tulus ia amat mencintai adik-adiknya serta membenarkan tindakan mereka. Karna tetap berjuang di pihak Kurawa serta gugur sebagai pahlawan di tangan adik kandungnya sendiri, Arjuna. Permasalahan yang muncul, kenapa Karna tetap membela Kurawa yang ia ketahui sangat jahat dan tidak berhak dibela? Kenapa juga ia mesti bertempur melawan adik-adiknya sendiri para Pandawa yang diakui amat ia hormati dan ia cintai? Permasalahan Karna yaitu permasalahan moral. Ia diangkat dan di besarkan derajatnya oleh Kurawa. Ia mesti membalas budi baik mereka terhadap dirinya atau dirinya bakal dihantui rasa sesal selama hidupnya bila harus bergabung dengan Pandawa yang ia yakini pasti akan menang. Permasalahan yang sama juga terjadi pada diri Kumbakarna yang lantaran kecintaannya pada tanah airnya mesti berjuang melawan Rama serta membela kakaknya, Rahwana, yang ia tahu amat angkara murka.

Teater-teater modern membawa pesan-pesan moral yang amat beragam. Keberagaman ini amat ditentukan oleh naskah yang dipilih untuk dipentaskan, interpretasi sutradara, dan pemrosesan yang dilakukan selama berlangsungnya latihan. Naskah yang memiliki kandungan pesan moral baik kerap tidak bisa tersampaikan lantaran kesalahan interpretasi sutradara dan pengolahan yang tidak optimal. Oleh karenanya, kekuatan interpretasi sutradara amat menentukan kesuksesan sebuah pementasan sehingga pesan-pesan yang terdapat dalam narasi bisa tersampaikan lewat pementasan yang baik.

Nah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, Mengenai Nilai-Nilai yang terkandung dalam Seni Teater. Mudah-mudahan ilmunya bisa bermanfaat untuk kita semua, ya. Dan, jika masih ada yang belum dimengerti, silakan sahabat menyampaikan pertanyaan pada kotak komentar di bawah ini. Terimakasih sudah bertandang ke Lahiya, jangan lupa like, follow, dan komentarnya, ya.

Sumber:
http://www.softilmu.com/2015/11/nilai-nilai-dan-konsep-dalam-seni-teater.html#
http://andre-pribumi.blogspot.co.id/2011/07/mengenal-seni-teater.html
https://harrydfauzi.wordpress.com/category/seni-teater/