Gambar Via: bukubukubekas.wordpress.com

Analisis dan Pembahasan Novel Sukreni Gadis Bali

Posted on

Analisis dan Pembahasan Novel Sukreni Gadis Bali – Pembahasan kali ini adalah tentang ulasan sebuah buku Berjudul Sukreni Gadis Bali.

Latar Belakang

Gambar Via: hindualukta.blogspot.co.id

Karya sastra tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia diciptakan secara sengaja oleh pengarangnya sebagai representasi dari kehidupan nyata. Karya sastra tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Artinya karya sastra pun berkembang sesuai dengan zamannya. Rentang waktu yang amat panjang sejak dulu, sebelum Indonesia merdeka bahkan ketika sistem pemerintahan Indonesia masih berupa kerajaan mencatatkan perjalanan karya sastra dari masa ke masa. Sejarah mencatat perjalanan tersebut sehingga terdapatlah periode-periode dalam karya sastra Indonesia. Periode yang umumnya diketahui adalah periode Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan 2000-an, dll…

Dalam hal ini, karya sastra yang dianalisis (Sukreni Gadis Bali) merupakan satu dari banyak karya yang tergolong ke dalam angkatan pujangga baru. Umumnya karya sastra pada angkatan ini bertemakan percintaan. Tetapi tentu tidak semata mengandung percintaan tanpa mengindahkan unsur-unsur lainnya. Selain unsur percintaan, terdapat pula unsur budaya, religi, serta didaktis. Sebab karya sastra merangkum zamannya. Ia mengumpulkan fragmen karya dari masa ke masa hingga membentuk sebuah sebutan yang bernama sejarah kesusastraan. Melalui media yang disebut sejarah tersebut, penggolongan terhadap karya sastra berdasarkan zamannya akan dapat dengan mudah dinyatakan.

Sukreni Gadis Bali merupakan karya sastra angkatan pujangga baru yang datang dari pulau Bali. Isinya pun tidak jauh dari menceritakan adat dan budaya Bali. Karena pengarangnya sendiri memang berasal dari Bali. Novel ini banyak mengandung unsur kasih sayang, didaktis, budaya/ adat istiadat, dan religi.

Karya sastra tidak dapat dikupas secara tipis (hanya sampai permukaan), melainkan harus ada pemahaman atau pemikiran yang mendalam dalam mengupasnya. Karena maksud dalam karya sastra seringkali bahkan `memang benar disampaikan dengan bahasa yang tidak denotatif.

Sinopsis Novel Sukreni Gadis Bali Karya A.A. Pandji Tisna

Gambar Via: balimotret.com

Disebutkan Men Negara adalah seorang wanita yang berasal dari Karangasem, dia adalah anak orang kaya. Ia datang ke Buleleng hanya bermodalkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia meninggalkan daerah itu karena suatu persoalan dengan suaminya. Pada awalnya Man Negara tinggal menumpang di rumah seorang haji yang mempunyai tanah dan kebun yang luas. Namun, karena Men Negara rajin bekerja dan hemat, ia kemudian dapat memiliki kebun sendiri.

Sebenarnya di Karangasem Man Negeri memiliki seorang anak yang ia tinggalkan. Di tempat barunya ia melahirkan dua orang anak bernama I Negeri dan Ni Negari yang berparas cantik itu dapat menarik para pekerja pemetik kelapa untuk singgal di warungya. Disamping itu, Men Negara pun pandai memasak sehingga masakannya selalu disukai oleh para pekerja itu. Di antara mereka yang datang ke warung Men Negara adalah I Gde Swamba, seorang pemilik kebun kelapa itu. I Nagari yang jatuh hati kepada I Gde Swamba berharap jika suatu saat nanti bisa menikah dengan pria itu.

Suatu hari datanglah seorang pria bernama I Gusti Made Tusan dia adalah seorang menteri polisi. ia disegani dan ditakuti penduduk. Banyak sudah kejahatan yang berhasil ditumpasnya. Ini berkat kerjasamanya dengan seorang mata-mata bernama I Made Aseman.

Suatu hari Men Negara ketahuan oleh I Made Aseman telah menyembelih seekor babi dan dilaporkan kepada I Gusti Made Tusan. I Made Aseman berharap kalau Man Negeri ditangkap dan di adili agar kedai iparnya dapat laku dan mengalahkan kedai Men Negara. Namun, hal itu tidak terjadi karena I Gusti Made Tusan melihat Ni Negari dan terpikat oleh tutur kata dan senyum Ni Negeri.

Suatu hari datanglah seorang gadis bernama Luh Sukreni ke kedai Men Negara untuk mencari I Gde Swamba untuk urusan sengketa warisan dengan kakaknya, I Sangia yang telah masuk agama kristen. Menurut adat dan agama Bali, jika seorang anak beralih agama lain, baginya tak ada hak untuk menerima harta warisan.

Kedatangan Luh Sukreni membuat Men Negara dan Ni Negari cemburu dan iri hati. Menteri polisi itu tampak tertarik pada Sukreni dan berniat menjadikan Ni Sukrenis sebagai wanita simpanannya, mengetahui hal itu Men Negara mendapatkan siasat jahat. Suatu hari ketika Luh Sukreni datang lagi Men Negara dan Ni Negari menerimanya dengan ramah, bahkan mengajaknya untuk menginap dan di terima oleh luh Sukreni. Saat itulah Men Negara menjalankan siasat jahatnya. Pada malam harinya, Luh Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. “Terima kasih Men Negara, atas pertolonganmu itu, hampir-hampir tak berhasil tetapi…”. Begitulah I Gusti Made Tusan menyatakan kesenangannya atas siasat busuk Men Negara. Sejak kejadian itu Luh Sukreni pergi entah kemana.

Namun betapa terkejutnya Men Negara ketika dia mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa Luh Sukreni itu adalah anak kandungnya. I Sudiana teman seperjalanan Luh Sukreni, mengatakan bahwa Ni Sukreni adalah anak kandung Men Negara sendiri. Ayah Ni Sukreni, I Nyoman Raka telah mengganti nama Men Widi menjadi Ni Sukreni. Perubahan nama itu dimaksudkan agar Ni Sukreni tak dapat diketahui lagi oleh ibunya. Mengetahui hal itu membuat Man Negara sangat menyesali perbuatannya.

Sukreni tidak kembali ke kampungnya karena dia merasa malu dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia mengembara entah kemana. Namun, Pan Gumiarning, salah seorang sahabat ayahnya, mau menerima Ni Sukreni untuk tinggal di rumahnya. Tak lama kemudian. Ni Sukreni melahirkan seorang anak dari hasil perbuatan jahat I Gusti Made Tusan. Anak itu diberi nama I Gustam.

Tidak disangka takdir mempertemukan kembali Sukreni dengan I Gde Swamba, pertemuan itu berkat pertolongan I Made Aseman yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman di Singaraja. I Gde Swamba berjanji akan membiayai kehidupan I Gustam meski anak itu bukan anak kandungnya.

I Gustam tumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki perangai dan tabiat kasar, bahkan dia berani memukul ibunya. Setelah dewasa, ia mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Didalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat yang sudah terkenal keganasannya, ahli dalam hal perampokan dan kejahatan.

Setelah dirinya bebas dari penjara I Gustam membentuk sebuah kelompok dan I Sintung menjadi anak buahnya. Pada suatu malam, kelompok yang dikepalai I Gustam melaksanakan aksi perampokan di warung Men Negara. Namun rencana itu sudah diketahui oleh aparat keamanan. Perampokan di Men Negara mendapat perlawanan dari polisi yang dipimpin oleh I Gusti Made Tusan. I Gusti Made Tusan sendiri tidak mengenal bahwa musuh yang sedang dihadapinya adalah anaknya sendiri. Maka ketika I Gustam hampir putus asa karena terkena kelewang ayahnya, I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya ayah dan anak itupun tersungkur dan mati!. Sementara itu Men Negara berubah menjadi orang gila yang berkeliaran di kampung dan kedainya.

Tema

Gambar Via: ysuryamerta.blogspot.co.id

Tema yang diangkat dalam novel Sukreni Gadis Bali adalah perempuan dan hukum karma. Sosok yang lebih diangkat dalam novel ini adalah perempuan. Perempuan-perempuan Bali pada masa itu masih dipandang amat rendah terutama oleh kalangan bangsawan. Para perempuan Balpada masa itu lebih sering dianggap sebagai pemuas nafsu semata, terlebih bila dirinya berparas cantik.

Unsur Religi

Gambar Via: iyakan.com

Unsur agama yang disajikan dalam novel ini lebih menitikberatkan pada hukum karma yang didapat oleh manusia atas segala perbuatannya. Segala perbuatan manusia yang baik atau yang buruk akan mendapat balasan dari Tuhan. Bagi kepercayaan masyarakat Bali yang berperan dalam memberi balasan atas apa yang manusia lakukan adalah Hyang Widi Wasa.

Unsur keagamaan dalam hal ini hukum karma amat terasa dalam novel Sukreni Gadis Bali ini. Bahkan sang penulis, A.A. Pandji Tisna seakan menyajikannya secara beruntun dalam novel ini. Bermula dari Men Negara yang pergi dari rumah meninggalkan suami dan anaknya. Atas apa yang dirinya perbuat membuat hidupnya mengalami kesulitan secara ekonomi.
Men Negara yang bersekongkol dengan I Gusti Made Tusan demi harta. Berdampak pada hamilnya Sukreni. Namun ternyata Sukreni merupakan anak dari Men Negara sendiri yang dahulu ia tinggalkan.. Atas perbuatannya Men Negara menjadi gila.

Hamilnya Sukreni membuat dirinya malu kembali ke desa. Kemudian dia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama I Gustam. Namun sayang, perilaku anaknya tersebut jauh dari kata baik. I Gustam malah menjadi seorang yang jahat, bahkan hendak merampok kedai Men Negara. Sayang apa yang direncanakan tidak berhasil dan harus berakhir di tangan I Gusti Made Tusan yang merupakan ayahnya sendiri. I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya ayah dan anak itupun tersungkur dan mati

Unsur Didaktis

Gambar Via: nyengendadi69.blogspot.co.id

Dalam novel Sukreni Gadis Bali ini terdapat beberapa aspek yang memang memengaruhi kehidupan manusia setiap harinya, baik dari adat istiadat suatu desa maupun didikan yang membuat adat istiadat itu ada. Dalam novel Sukreni Gadis Bali ini tidak secara spesifik menceritakan Sukreni yang merupakan judul bukunya sendiri melainkan dalam cerita novel ini lebih banyak menceritakan peranan moral seorang ibu yang dalam menjaga kehormatan anaknya dan dirinya sendiri. Men Negara, seorang tokoh dalam novel tersebut yang kentara sikap dan sifatnya serakah. Ia terlalu tamak akan kekuasaan dan harta benda yang membuat ia lupa bahwa ia mempunyai seorang anak.

Dalam novel ini juga terdapat pesan moral terhadap pembaca yang apabila diklasifikasikan sebagai berikut:

Pendidikan Moral Seorang Ibu

Pendidikan Moral adalah sebuah ajaran tentang baik buruknya suatu perbuatan yang diterima oleh seseorang. Apabila dikaitkan dengan cerita dalam novel ada kaitannya seperti pendidikan yang ibu berikan kepada anaknya. Melihat Men Negara membesarkan anaknya Ni Negari dengan cara yang kurang berpendidikan yang membuat Ni Negari bergaul dengan laki-laki yang kebanyakan hanya menikmati kecantikan saja. Sebagai seorang ibu seharusnya tidak menjual anaknya sendiri demi harta kekayaan sendiri seperti perckapan antara Men Negara dan Gusti Made Tusan, “…baik begitu, bukan? Dengan jalan demikian tidak kentara, bahwa engkau sudah tahu niat anakmu hendak lari. Berapa kau katakan mas kawinnya? Seratus lima puluh ribu? Baik, nanti kubayar uang itu, tunai”, (1986: 52). Dari perkataan Gusti Made

Tusan sudah tersiratkan bahwa seorang anak gadis secara tidak langsung diperdagangkan oleh ibunya sendiri untuk menyejahterakan kehidupan pribadinya. Dalam novel ini disebutkan bahwa Sukreni adalah anak dari Men Negara dari suami pertamanya. Menanggapi permasalahan ini, Men Negara tidak terlalu khawatir meskipun ia telah membuat hancur kehidupan anaknya sendiri karena yang ada dalam pikirannya hanyalah harta dan uang. Bahkan sampai akhirnya rumah, kedai, dan hartanya lenyap terbakar Men Negara tetap merasa tidak bersalah pada anaknya. Sampai pada penghujung cerita Men Negara gila karena kehilangan kekayaannya bukan gila karena kehilangan anaknya yang ia buat menderita.

Pergaulan yang Tidak Sehat

Berbicara tentang pergaulan dalam tersebut pun memang terbilang pergaulan antarremaja terlalu dibebaskan tanpa pantauan orang tua. Ni Negari adalah korban dari pergaulan yang membuat ia tega berbuat jahat pada Sukreni karena iri hati pada kecantikannya. Pembentukan karakter Ni Negari adalah didikan dari ibunya yang ia terima dan ia tahu betul akan batas kecantikannya. Karena orang lain yang menilai bukan dirinya sendiri. Pujian dari orang-orang yang membuat Ni Negari tegap menghadapi para laki-laki muda yang mendatanginya. Meskipun dari interaksi pergaulan Ni Negari tidak pantas berlaku seperti itu mengingat usianya yang masih sangat belia.

Pergaulan antara anak dan ibu pun bagaikan majikan dan pegawainya. Sampai-sampai anak seperti sapi perah bagi ibunya. Meskipun seperti itu, novel ini tetap mempunyai kaitan sebab akibat yang terlihat dari awal. Kesalahan dari seorang ibu yang harus dibayar oleh seorang anak dan begitupun sebaliknya seperti Men Negara dan Sukreni dan Sukreni dan anaknya, Gustam. Pergaulan seorang ibu yang menyalahgunakan statusnya sebagai ibu yang membuat ia salah melihat orang baik yang ada dihadapannya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan