PBB Sebut Perang di Yaman Berpotensi Jadi Bencana Terburuk dalam 50 Tahun Terakhir

Posted on

Lahiya – Warga di negara yang dilanda perang, Yaman, kini tengah dihadapkan pada situasi “layaknya kiamat”. Dilansir dari Al Jazeera, Kepala Kemanusiaan PBB menyatakan perang ini bisa jadi yang terburuk sepanjang sejarah bencana kemanusiaan dalam 50 tahun terakhir.

Negara Arab paling miskin itu telah menjadi saksi perang selama hampir tiga tahun ini. Perang tersebut berlangsung antara pemberontak Houthi dan pasukan Saudi yang setia mengabdi pada Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diasingkan.

Konflik ini memberikan dampak yang sangat buruk, hingga menyebabkan bahan pangan menjadi langka, meluasnya wabah kolera dan menyengsarakan jutaan umat manusia.

“Situasi di Yaman – hari ini, sekarang ini, bagi populasi penduduk yang ada di negara tersebut – terlihat seperti kiamat,” demikian pernyataan Mark Lowcock, Sekjen PBB untuk koordinator kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat, pada hari Jumat.

“Wabah kolera di sana mungkin adalah yang terburuk yang pernah terjadi di dunia dengan jumlah satu juta kasus hingga akhir tahun 2017.”

Baca juga: Istrinya Berhenti jadi Presenter Gosip dan Kini Berjilbab, Begini Komentar Arie Untung

Lowcock mengatakan bahwa “epidemi baru yang mengerikan” yakni difteri, penyakit yang seharusnya bisa dicegah sepenuhnya dengan imunisasi, telah “menyerang hingga 500 orang dan menyebabkan puluhan kematian” dalam beberapa minggu terakhir.

“Itu akan menyebar seperti api,” tambahnya.“Jika situasinya tidak berubah, kita akan mengalami bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama 50 tahun.”

Situasi Keputusasaan

Komentar Lowcock muncul saat Dana Darurat PBB atau Central Emergency Response Fund (CERF) mengalokasikan $ 50 juta untuk mendukung usaha bantuan kemanusiaan di Yaman, di mana lebih dari delapan juta orang berada di ambang kelaparan.

Jumlah tersebut merupakan alokasi dana terbesar yang pernah disalurkan oleh CERF dan menunjukkan betapa mengerikan situasi di Yaman, yang telah menjadi salah satu negara termiskin di dunia Arab sebelum dimulainya perang pada tahun 2015.

Lowcock mengatakan bahwa dana tersebut dapat menyokong persiapan bantuan yang diperlukan untuk tahun depan.

“Fakta bahwa saya harus melakukan itu jelas bukan merupakan ukuran keberhasilan, justru itu menjadi tanda betapa situasinya penuh keputusasaan,” kata Lowcock.

Baca juga: Mengenaskan! Bocah Ini Meninggal, Penyebabnya Terbongkar dari Jari Tangannya

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat, PBB mengatakan bahwa uang tersebut dapat “memungkinkan peningkatan bantuan mendesak untuk menyelamatkan nyawa” di Yaman dan akan diarahkan untuk mencegah bencana kelaparan, serta membantu warga sipil yang terkena dampak konflik yang sedang berlangsung.

Sebagian dari uang tersebut juga akan digunakan untuk memberikan support kepada layanan publik yang semakin parah di negara ini.

Rudal ‘Dicegat’

Arab Saudi dan sekutu-sekutunya melakukan intervensi di negara tetangga Yaman pada bulan Maret 2015 dalam upaya mendorong mundur Houthi, yang disebut-sebut mendapat dukungan dari Iran, dan memulihkan pemerintahan Hadi.

Badan-badan bantuan berulang kali mengatakan bahwa serangan udara koalisi yang dipimpin Saudi, serta blokade yang melemahkan area bandara udara dan pelabuhan laut itu menghalangi penyaluran pangan, bahan bakar dan obat-obatan.

Baca juga: Jijik Banget! 20 Ikan Aneh Tangkapan Nelayan Ini Penampakannya Mengerikan

Blokade yang diperketat November lalu itu kemudian mengendur tiga minggu setelahnya setelah mendapat kecaman besar dari dunia internasional.

Rumah sakit di sana juga terpaksa berjuang dalam memberikan bantuan di tengah epidemi kolera terparah di dunia itu, lantaran kurangnya catatan medis dan pasokan akibat blokade tersebut. Sejumlah fasilitas medis juga dilaporkan hancur dalam serangan udara.

Menurut PBB, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan menyebabkan warga yang mengungsi hingga sejumlah tiga juta orang.

Pengumuman adanya bantuan dikeluarkan pada hari Jumat, ketika Arab Saudi mengatakan bahwa mereka mencegat sebuah rudal yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi di sebuah instalasi militer di Najran.

Ini adalah serangan terbaru dari serangkaian rudal yang diduga ditembakkan oleh Houthi, namun dicegat oleh Arab Saudi. Termasuk rudal yang ditargetkan ke ibukota Saudi, Riyadh.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan