SHARE
Loading...

Pagi-pagi, ruang gawat darurat dokter ini sudah disodori seorang mahasiswi dalam keadaan pingsan. Setelah siuman, wanita ini dinyatakan mengalami kehamilan ektopik yaitu kehamilan dari pembuahan sel telur terjadi di luar rahim. Perawat kemudian mencari kasus penyakit yang diderita mahasiswi itu, sementara dokter ini menanyakan kondisinya.

Gadis itu adalah seorang mahasiswi semester II, namanya Xiao-Yii. Saat (olahraga) lari pagi, tiba-tiba ia jatuh pingsan, kemudian diantar teman kampusnya. Dilansir dari epochtimes , Dokter itu bertanya pada Xiao Yii, kapan saat haid terakhirnya?

“Masa haidnya selalu tidak menentu, terkadang 40 hari, terkadang 50 hari, beberapa bulan yang lalu, volume darah tidak banyak, warnanya juga tidak normal, tapi tidak saya pedulikan, dan tidak curiga apakah hamil atau tidak,” kata Xiao Yii.

“Menstruasi dan pendarahan abnormal ini punya perbedaan yang mencolok, harus secepatnya diperiksa jika menemukan situasi abnormal.”

Dokter ini berpikir gadis itu tidak terlalu memahami kondisi tubuhnya sendiri. Xiao Yii hanya menggelengkan kepalanya, “Dokter, apa saya sudah boleh pulang dari rumah sakit sekarang setelah makan obat?” tanya Xiao Yii.

“Nona, kamu sekarang mengalami kehamilan ektopik, dan harus operasi. Asal tahu saja, ini tidak sama dengan operasi kehamilan biasa. Temanmu membawamu ke rumah sakit setelah melihatmu pingsan. Jika sedikit serius saja, nyawamu bisa terancam.”

“Ah, yang benar?” tanya Xiao Yii merasa hanya ditakut-takuti.

Perawat kemudian memberinya surat keterangan inap atau opname rumah sakit, “Beritahu orangtua atau anggota keluargamu, perlu operasi dan membayar deposit.”

Mendengar keterangan perawat itu, Xiao Yii baru sadar ternyata memang benar apa yang dokter itu katakan. Xiao Yii melihat surat pemberitahuan itu, tiba-tiba ia menangis histeris, sampai-sampai semua dibuat kaget oleh raungan tangisnya.

“Jangan nangis, nona. Setelah operasi, semuanya akan baik-baik saja selama kamu istirahat. Lagipula sudah sering kami melakukan operasi ini, jangan khawatir, tidak akan mengancam nyawamu,” kata si perawat menghibur Xiao Yii.

“Bisa gak tidak memberitahu papa saya? Papa saya pasti akan membunuhku kalau tahu, lagipula dia masih di luar daerah, saya tak mau dia datang,” kata Xiao Yii sambil terisak.

Dari isak tangis Xiao Yii yang terus menumpahkan uneg-unegnya, pihak Rumah Sakit pun tahu sekilas, ternyata ortu Xiao Yii sudah bercerai, ia tinggal di kota bersama dengan papanya.

Dan pertama kali menstruasi, dia mengira dirinya akan segera mati karena itu. Jadi bersembunyi di toilet sekolah dan menangis, kemudian baru diberitahu gurunya, dan menjelaskan kepadanya tentang menstruasi yang dialaminya.

Tiba-tiba dokter itu tahu mengapa Xiao Yii tidak bereaksi terhadap kelainan di tubuhnya, karena tidak ada yang memberitahunya cara merawat tubuhnya, dan tidak tahu siapa yang harus dicarinya jika terjadi masalah pada dirinya..

Perlahan-lahan pihak dokter berhasil membujuk Xiao Yii, dan mengatakan kepadanya bahwa perlu biaya untuk operasi. Xiao Yii merenung sejenak lalu mengatakan pinjam saja dulu sama teman.

Sementara perawat rumah sakit itu langsung menimpali, pihak pria juga harus bertanggung jawab, kenapa dia tidak datang? Xiao Yii serba salah memdengar ucapan perawat, lalu berkata kepada kami, “Saya telepon dulu.”

Tak lama kemudian mendengar isak tangis Xiao Yii, perawat pun ikut masuk, dan berkata beberapa patah kata lalu keluar dari kamar Xiao Yii.

“Dia bilang uangnya belum terkumpul, maklum saja, namanya juga pelajar, tidak banyak uang, hal semacam ini jangan menggunakan asuransi pelajar, coba tanya rumah sakit kita terima kartu kredit gak,” Kata perawat sedikit tak berdaya.

Perawat kemudian membawa Xiao Yii menurus administrasi dan membayar deposit. Usai mengurus administrasi, pihak rumah sakit pun segera mengatur jadwal operasi. Lalu dokter bilang pada Xiao Yii boleh minta bantuan satu atau dua temannya untuk menjaganya, tapi Xiao Yii tidak mau. Namun, setelah didesak, Xiao Yii lalu minta pada tidak menyinggung masalah kehamilan ektopik jika ditanya temannya.

Pasca operasi, seorang gadis seasrama dengan Xiao Yii datang menjenguknya, yaitu gadis remaja yang tadi siang mengantar makanan untuknya. Sehari-hari biasanya hanya Xiao Yii sendiri di kamarnya.

Segala sesuatunya selalu para perawat yang membantu keperluan Xiao Yii. Pada saat itu, ada seorang pria setengah baya tampak tergesa-gesa bertanya pada resepsionis kamar pasien bernama Xiao Yii, lalu buru-buru berlari ke kamarnya.

Perawat itu bertanya pada kami, “Benar, papanya sudah tahu tentang Xiao Yii, putrinya!”

Kamar pasien tampak begitu hening, tak lama kemudian pria itu keluar dari kamar,

“Suster, cairan infusnya sudah habis, tolong tambah lagi cairannya.”

Hasil gambar untuk gadis cantik menangis

Pria itu tidak masuk bersama dengan perawat, tapi malah bertanya kepada kami, “selamat malam, saya pamannya Xiao Yii. Dia tidak memberitahu saya kenapa sampai opname di rumah sakit.”

Sebutan paman sepertinya terdengar ambigu, apalagi Xiao Yii pernah cerita pada kita, dia tidak punya kerabat lain selain papanya.

“Anda keluarganya?” Mendengar pertanyaan itu, sang pria lantas tergagap lagi, dan berkata dengan nada rendah, “Dokter, ada hal yang kurang elok jika dikatakan. Saya bisa bertanggung jawab atas masalah Xiao Yii, dia … dia kadang-kadang tinggal bersama saya.”

Pria ini bukan ayahnya, tapi kekasihnya. ”Anda bukan anggota keluarganya, kami juga tidak elok jika mengungkapkan situasinya kepada orang lain.” Kataku.

Raut wajah pria itu terlihat memerah, tapi tak lupa mengucapkan terima kasih lalu kembali ke kamar. Perawat itu berkata kepada kami, “Xiao Yii pasti dipelihara oleh pria itu, pria yang barusan masuk ke kamar itu menarik tangan Xiao Yi sambi terus berkata, dan melihat sikapnya seperti itu pasti bukan papanya Xiao Yii.”

Tapi saya bilang: “Belum tentu, kalau memang dipelihara, kenapa tidak terus terang saja? kenapa harus susah payah mencari pinjaman ke sana-kemari.”

Keesokan paginya, ketika memeriksa kamar pasien, terlihat pria itu masih berada di kamar Xiao Yii. Perawat itu mengantar rincian biaya rumah sakit hari itu, dan memberitahu Xiao Yii, depositnya sudah hampir habis.

“Saya ada, kurang berapa, biar saya yang bayar,” kata pria sambil mengambil rinciannya, dan ketika mau keluar bersama suster untuk membayar deposit.
“Tidak perlu, saya masih punya.” Kata Xiao Yii sambil mengambil beberapa kartu kreditnya, “pakai kartu saya,” Lanjut Xiao Yii
“Xiao Yii, bisa gak jangan memaksakan diri!” Kata pria itu mulai marah, “Opname tidak memberitahu, tidak punya biaya juga tidak memberitahuku. Ditelepon tidak diangkat. Kalau bukan aku yang telepon ke asrama, sampai sekarang aku tidak pernah tahu kamu opname di rumah sakit. Dan sekarang juga tidak memberitahu saya mengapa harus opname segala, apa yang terjadi sebenarnya.”
“Aku baik-baik saja!” kata Xiao Yii dengan datar.
“Kalau tidak apa-apa, lalu kenapa harus operasi? Apa kamu hamil?” Tanya si pria.
“Kamu menggugurkan anak itu tanpa memberitahuku ya? Aku kan sudah bilang, aku tidak punya anak bersama isteriku, dan aku suka anak-anak. Kalau kamu bisa memberiku anak, aku pasti akan menceraikan isteriku dan menikah denganmu!” Kata si pria berapi-api.
“Ini kehamilan ektopik. Untung cepat diketahui, kalau tidak aku sudah mati,” Kata Xiao Yii.
“Aku tidak memberitahumu, karena tak ingin berutang sama kamu, aku takut orang-orang akan bilang aku hanya menginginkan hartamu kalau kita bersama. Ini adalah urusanku, aku tak ingin menggunakan uangmu,” Kata Xiao Yii lalu menangis terisak.
“Kenapa kamu berpikir begitu? Kehamilan ektopik? Bagaimana bisa?” timpal si pria semakin emosi, perawat pun masuk dan mendorongnya keluar.

Xiao Yii menangis terisak di kamar pasien, dan si dokter juga tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Meski dia bermain asmara dengan pria beristeri, dan tidak bermoral. Meski dia berhubungan dengan pria itu bukan karena uang. Mungkin hanya untuk menebus rasa kehilangan yang pernah dialami. Dia tidak ingin teman-temannya mengetahui keberadaan pria itu.

“Sudahlah, jangan menangis lagi, baru selesai operasi, harus banyak istirahat.”
Xiao Yii mengangguk kepalanya, “Bukan demi hal lain, tapi memang aku menyukainya, aku tidak mau menggunakan uangnya.”

Si Dokter hanya bisa menganggukkan kepala. Ketika keluar dari rumah sakit, perawat itu memberitahu kepadanya bahwa pria itu telah membayar semua biaya rumah sakitnya. Pria itu juga mengatakan akan membantu Xiao Yii melunasi semua hutangnya.