Pengalaman di Mina dan Manajemen Jamaah saat Lempar Jumroh | @IndraJPiliang

Pemerintah Saudi Arabia sudah membuat skema-skema yang baik dengan teknologi yang sesuai dengan Sunah Nabi guna mengendalikan jumlah jamaah yang terus bertambah. Hitung saja: jika jumlah jamaah ada 7 Juta orang, ada 49 Juta kerikil yang disediakan untuk melempar Jumrah Aqabah. Itu dengan asumsi kerikilnya beda.

Nah, dalam manajemen, jumlah Ai??kerikil yang dipakai tentu tdk sampai 49 Juta biji. Manajemen kerikil ini yang terjadi di Mina plus arus jamaah. Kloter2 jamaahlah yang dijadikan basis manajemen jamaah. Jamaah-jamaah yang tersebar di ratusan ribu tenda. Detik per detik. Menit per menit.

Bayangkan jika tiba-tiba ada kloter jamaah yang telat sekian detik, merembet ke kloter jamaah lain. Komunikasi antar kloter dalam bhs Arab jadi Ai??penting. Ada arus jamaah yang telat sekian menit nyampe lokasi Jumrah Aqabah, ada arus jamaah yang selesai dan Ai??mengejar jadwal berikutnya, arus-arus bertemu.

Secara psikologis, emosi meningkat di lokasi Jumrah Aqabah, sesuai dengan “gambaran” masing-masing jamaah terhadap Ai??Iblis yang dilempar dan Ai??usai dilempar. Yang mau melempar tentu secara psikologis anggap Iblis masih di lokasi Jumrah Aqabah. Yang sudah selesai secara psikologis anggap Iblis lagi Ai??menggoda.

Bayangan-bayangan tentang Iblis yang berbeda-beda di satu lokasi Jumrah Aqabah inilah yang juga jadi Ai??bagian dari manajemen arus manusia di jalan-jalan masuk atau keluar area. Gunungan kerikil, Jumrah Aqabah, bayangan Iblis, bacaan mau mulai dan Ai??sudah selesai, kloter, titik kendaraan, jadwal, bertumpuk dan Ai??bergerak.

Tidak tahu deh, apa boleh bawa ponsel ke lokasi Jumrah Aqabah. Jika boleh, makin menyita waktu. Kalau di Masjidil Haram sih boleh. Contoh kecil: jamaah boleh bawa ponsel di lokasi Makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah. Arus jamaah jadi Ai??tersendat untuk selfie.

Beberapa askar khusus, dengan pangkat perwira, biasanya galak sama jamaah yang bawa ponsel. Tapi jika ada rombongan tamu kerajaan, askar-askar ini mingkem. Dengan sistem monarki di Saudi Arabia, jamaah juga terkasta-kasta. Askar mingkem sm tamu kerajaan dari perwakilan raja2 negara lain.

( Masih suka sedih dan Ai??ikut merasa bersalah, ketika rombongan saya ada yang motret di Mesjid Dua Kiblat, lalu ditegur jamaah asal Pakistan ))

( Jamaah asal Pakistan itu tidak tahu bahwa rombongan saya Ai??adalah tamu Kerajaan Saudi Arabia dengan undangan dan Ai??perlakuan khusus ))

(( Pemuda asal Pakistan itu ditarik oatau askar, diinterogasi, bahkan dipukul. Askar berubah jadi Ai??kejam ))

( Saya Ai??ndak bisa bahasa Arab, tapi minta ke pihak Kemenlu untuk jelaskan persoalannya ke Askar. Pemuda itu tidak salah menurut saya Ai??))

(( Nah, stigma — negatif — atas jamaah-jamaah Pakistan, Banglades dan Ai??Afghanistan inilah yang ada di kepala Askar-askar yang over reaktif itu ))

Teknologi yang mempermudah kini berbalik jadi Ai??memperlambat arus jamaah. Belum lagi pengertian masing-masing jamaah soal penggunaan teknologi di tempt-tempat suci. Bayangkan bagaimana interaksi yang terjadi antar jamaah dengan pegangan akidah dan Ai??pemahaman masing-masing soal halal atau haramnya teknologi seperti ponsel atau earphone.

Ustad yang memimpin rombongan saya Ai??beberapa kali diperiksa Askar karena masing-masing kami pakai earphone untuk terima perintah dari Ustad. Jangan-jangan rombongan kami dianggap rombongan teroris kali, ya? Kok bisa kompak, teratur, disiplin, tapi telinga masing-masing anggota ditutupi earphone?

Bacaanpun serentak, apalagi Ai??pas Sai, seperti Ai??pasukan tempur militer lagi Ai??latihan di lapangan, walau berbeda jarak dan Ai??berjauhan.

(( Dan saya Ai??biasanya memilih pisah dari rombongan, usai prosesiprosesi wajib berombongan, agar bisa beribadah secara mandiri dan tradisionil ))

Bahwa teknologi bisa memudahkan, iya, seperti Ai??Jumrah Aqabah yang dibuat seperti Ai??kastil oatau pemerintah Saudi Arabia. Tapi teknologi juga bisa melambatkan arus. Bayangkan dengan sudut pandang masing-masing jamaah yang dikawal 4 Mazhab dari seluruh dunia dengan perbedaan-perbedaan masing-tumpek tumplek di satu sudut bumi.

Soal batalnya wudhu saja bisa bikin puyeng jamaah asal Indonesia. Gmn tdk? Mazhab Syafii haramkan, tapi 3 mazhab yang lain halalkan. Saya beberapa kali wudhu ulang pas bersentuhan dengan perempuan di Masjidil Haram. Kan beda dengan Masjidil Nabawi yang ada hijabnya. Masjid Haram, bebas.

Nah, masalahnya pas tawaf di sekeliling Kabah. Ya, bagaimana? Kan ikhwan-akhwat campur baur, senggolanlah. Mosok wudhu lagi Ai??di tawaf ke 1-2-7? Ustad saya Ai??bilang gini: “Kita pake matematika fiqih saja: 3 mazhab halalkan, 1 mazhab (Syafii) haramkan. Kita ikut mayoritas saja.”

Saya Ai??sih akur-akur saja dengan ustad saya , walau tetap merasa tak afdhol akibat doktrin fiqih yang saya Ai??terima sejak di surau-surau dulu.

Lagipula, jika wudhu berkali-kali pas di Indonesia sih rapopo. Airnya byk (kecuali pas kemarau). Nah, bagaimana dengan Pakistan dan Ai??negara-negara krisis air lain?

24/09/2015

Comments are closed.