Pengentalan Darah dan Food Combining

Posted on

Kultwit Erikar Lebang @erykar

Saya diajak diskusi oleh teman yang takjub akan pengaruh Food Combining dalam kehidupan kesehatannya, padahal ia baru saja mengerjakan. Hal ini disebabkan dia dapet kabar dari temannya bahwa saya pernah membahas bahwasanya minum obat seumur hidup itu akan membuat masalah.

Dulu awalnya ia mengeluh dan minta waktu berbicara terkait problem pengentalan darahnya. Ia ingin tahu bisakah Food Combining mengatasinya. “Kata dokter gue, kalau gak minum obat darah kental gue bisa bikin stroke dan sakit jantung, tapi gak dibilang sampai kapan?” keluhnya.

“Katanya, elu ngetwit, orang rutin minum obat seumur hidupnya, pasti akan membayar mahal di hari depan, paling gak liver atau ginjal rusak,” lanjutnya.

“Tapi karena gak dikasih tau, sampai kapan gue harus minum obat ini, asumsi gue, ya seumur hidup lah? Jadi gimana liver-ginjal gue?” ujarnya lagi.

Bagus! Paling tidak, dia sadar bahwa kesehatan itu tak semata-mata minum obat saat sakit, tapi ada kaitannya dengan “menuai apa yang dilakukan saat ini”. Sedihnya, dokter yang dia sebutkan itu, sama sekali tidak menjelaskan kenapa teman saya punya problem ‘darah kental’. Hanya tahu menyuruh minum obat.

Bagusnya lagi teman saya juga tidak membahas dokternya, saya pun malas kalau disuruh membahas. Fokus saja pada apa yang bisa kita lakukan di sini. Untungnya, semakin menua dia semakin sadar. Dia mulai berusaha mengurangi kegilaannya dalam konsep ‘asal enak hajar’. Hanya metodenya saja belum pas. Kalau perkara makan, teman saya sih tidak usah dibahas. Dia tergolong ‘everythingvora’, apa juga dimakan! Tidak pakai mikir, semua dimakan!

Dia masih mengkonsumsi nasi merah dan dada ayam rebusan, yang selain tidak efektif menjaga kesehatan, juga rasanya pun tak enak, tidak konsistenlah. Sayur? Yah paling top sekelas cap cay lah. Itu juga banyakan bakso dan potongan dagingnya.

Dengan kata lain? Pola makannya masih ‘ngaco’. Pesan tehnya tidak lagi, “es teh manis satu”, tapi diperhalus sedikit menjadi “teh hangat gak pake gula, ya” walau sebenarnya sama saja bohong. Minumannya? Nah ini yang ‘cihuy’. Pagi itu wajib minum kopi. Wajib! Setiap makan, tak sadar kalau pasti pesan teh. Waktu darah kental saja sadar sedikit. Tidak aneh kalau darahnya kental, bukan? Dia memelihara tubuhnya dalam kondisi dehidrasi. Kopi dan teh bertubi dalam keseharian? Elemen diuretikal.

Salah satu syarat dasar produksi darah berkualitas adalah tersedianya cairan tubuh dalam jumlah cukup. Kalau defisit? Ya hanya mendapat salam saja. Olah raga? Wah teman saya ini sih, tergolong orang terlambat tua. Peter Pan Complex.