Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh Gurindam

Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh Gurindam

Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh Gurindam – Pengertian gurindam secara eksplisit yaitu karya sastra melayu lama yang berupa puisi di mana terbagi dalam dua baris kalimat dan mempunyai rima atau sajak yang sama. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gurindam yaitu sajak dua baris yang memuat petuah atau nasihat.

Jika ingin dikilas balik lebih dalam, pada intinya gurindam datang dari India. Yang mana berasal dari kata Karimdam yang artinya asal mula atau perumpaan. Di mana baris pertama memuat soal, pertanyaan atau perjanjian. Sedangkan baris kedua memuat jawaban atau hasil dari baris pertama tadi.

Apa arti yang terdapat pada gurindam? Inti dari gurindam yaitu kalimat sebab-akibat serta biasanya memuat nasihat dan peringatan supaya manusia hidup dengan jujur serta lurus. Pesan moral inilah yang terdapat di dalam tiap bait gurindam.

Ciri-Ciri Gurindam

Gambar Via: sk.anawalls.com

  • Gurindam terbagi dalam dua baris setiap baitnya
  • Setiap baris mempunyai jumlah kata kurang lebih 10-14 kata
  • Setiap baris mempunyai hubungan sebab-akibat
  • Setiap baris mempunyai rima atau bersajak A-A, B-B, C-C, dan sebagainya
  • Isi atau arti dari gurindam ada pada baris kedua.
  • Isi gurindam umumnya berbentuk nasihat, filosofi hidup atau kata-kata mutiara.

Jenis Gurindam Bersumber pada Barisnya

Apabila dilihat dari baris, gurindam bisa dibedakan jadi 5 jenis. Berikut ini penjelasan serta contohnya:

Contoh Gurindam Berkait

Gurindam berkait yaitu gurindam yang mana kalimat di baris pertama terkait erat dengan kalimat baris selanjutnya. Misalnya:

Contoh 1

Jika kamu ingat selamat dunia dan akhirat.
Maka bersegera bertaubat sebelum ajal menjemput.

Penjelasan: Contoh gurindam di atas menerangkan kalau hidup di dunia ini cuma sebentar. Dan pada akhirnya ruh akan meninggalkan jasad, maka tiadalah harta yang dapat dibawa melainkan amal. Oleh sebab itu saat sebelum ruh meninggalkan jasad, maka cepatlah bertaubat baik dalam kondisi sakit maupun sehat.

Contoh 2

Barang siapa yang tidak mengenal Al Qur’an.
Maka sesatlah hidupnya bagaikan hidup tanpa tujuan.

Penjelasan: Maknanya yaitu Al Qur’an adalah petunjuk, pembeda serta penuntun hidup di dunia serta akhirat. Jika hati sudah jauh dari Al Qur’an, maka tidak ada yang bisa dijadikan penolong selama di dunia ataupun di akhirat

Contoh 3

Sebelum berbicara pikir dahulu.
Agar tak melukai hati temanmu.

Penjelasan: Gurindam di atas menjelaskan pada kita bahwa dalam berkomunikasi harus dengan perkataan yang baik tanpa menyinggung perasaan lawan bicara. Dilarang bercanda maupun memfitnah atau memojokkan lawan bicara.

Contoh 4

Kalau berbicara semaumu .
Tentulah banyak orang yang membencimu.

Contoh Gurindam Berangkai

Disebut dengan berangkai yaitu karena bentuk gurindam yang mempunyai kata yang sama di tiap baris pertama baitnya. Contoh:

Contoh 1

Jika bekerja tidak behati lurus.
Jika bekerja tidak berhati tulus.

Maka pikiran akan mudah tergerus.
Pikiran tak karuan dan tubuh menjadi kurus.

Contoh 2

Temukan apa yang dimaksud sahabat.
Temukan apa yang dimaksud maksiat.

Janganlah menjadi orang yang memelas.
Nanti kamu menjadi orang yang malas.

Contoh Gurindam Serangkap 2 Baris

Gambar Via: pixabay.com

Gurindam serangkap 2 baris yaitu gurindam yang cuma terbagi dalam dua baris saja. Contoh:

Contoh 1

Siapa tak shalat.
Maka Allah akan melaknat.

Contoh 2

Ketika muda giat belajar.
Masa tua menjadi pengajar

Contoh 3

Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjalan yang membawa rugi.

Contoh Gurindam Serangkap 4 Baris

Gurindam serangkap 4 baris yaitu gurindam yang terbagi dalam 4 baris. Contoh:

Contoh 1

Apabila selalu mencela orang.
Tandanya dia bermain curang.

Jika Anda bermain curang.
Tentulah lawan menjadi berang.

Contoh 2

Barang siapa tinggalkan sholat.
Akan menuntun ke perbuatan maksiat.

Barang siapa melakukan perbuatan maksiat.
Pasti akan disiksa di akhirat.

Contoh 3

Jika bekerja tidak berhati lurus.
Pikiran akan menjadi tergerus.

Jika pikiran selalu tergerus.
Pikiran tak karuan tubuh menjadi kurus.

Contoh Gurindam Bebas (Tidak Terikat)

Gurindam bebas yaitu gurindam yang tidak terikat jumlah barisnya. Contoh:

Contoh 1

Apabila dengki sudah merasuki hati.
Tak akan pernah hilang hingga nanti.

Apabila kelakuan baik berbudi .
Hidup menjadi indah tak akan merugi.

Apabila hidup selalu berbuat baik.
Tanda dirinya berhati cantik

Contoh 2

Barang siapa tidak takut tuhan.
Hidupnya tidak akan bertahan.

Barang siapa tidak pernah puasa.
Hidupnya akan penuh dosa.

Barang siapa meninggalkan sholat.
Berarti dia berbuat maksiat.

Barang siapa tidak pernah mengeluarkan zakat.
Hartanya tidak akan mendapat berkat.

Barang siapa yang mampu melaksanakan haji.
Tentulah orangnya patut dipuji.

Contoh 3

Apabila mata terjaga.
Hilanglah semua dahaga.

Apabila kuping tertutup handuk.
Hilanglah semua kabar buruk.

Apabila mulut terkunci rapat.
Hilanglah semua bentuk maksiat.

Apabila tangan tidak terikat rapat.
Hilanglah semua akal sehat.

Apabila kaki tidak menapak.
Larilah semua orang serempak

Contoh 4

Dengan orang tua jangan pernah melawan.
Kalau tidak mau hidup berantakan.

Jagalah hati jagalah lisan.
Agar kau tidak hidup dalam penyesalan.

Sayangilah orang tua dengan sepenuh hati.
Itulah cara menunjukan bakti.

Teruslah menyakiti diri sendiri.
Kelak kau akan mati berdiri

Jenis Gurindam yang Bersumber pada Isi Pesan

Gambar Via: kerispapan.blogspot.co.id

Contoh Gurindam Nasihat

Gurindam nasihat yaitu gurindam yang memuat beberapa nasihat. Berikut ini contoh gurindam nasihat:

Contoh 1

Belajarlah di usia muda.
Janganlah kamu tunda-tunda.

Namun jika kamu menunda.
Maka hilanglah kesempatan yang berharga.

Contoh 2

Barang siapa yang mudah menyerah.
Maka kejayaan tidak akan menyapanya.

Contoh 3

Barang siapa yang meninggalkan rukun islam.
Maka hidupnya akan kelam.

Contoh 4

Barang siapa berpegang teguh kepada Al Qur’an.
Maka hidup akan merasa kebahagiaan.

Contoh 5

Jika engkau menuntut ilmu.
Maka taka da yang bisa menipumu.

Contoh Gurindam Pendidikan

Gurindam Pendidikan yaitu gurindam yang memuat perihal pengetahuan. Berikut ini contoh gurindam pendidikan:

Contoh 1

Jika ilmu yang diperoleh tidak sempurna.
Maka hidup tiadalah berguna.

Contoh 2

Masa muda adalah masa produktif.
Maka gunakanlah dengan efektif.

Contoh 3

Jangan bertindak sebelum berfikir.
Agar tidak kecewa di kemudian hari.

Contoh 4

Raihlah ilmu dengan kesabaran.
Agar kelak engkau memetiknya dengan kesenangan.

Contoh Gurindam Cinta

Gambar Via: lelkednek.hu

Gurindam cinta yaitu gurindam yang memuat untaian kalimat yang penuh dengan keharmonisan serta kemesraan. Berikut ini contoh gurindam cinta:

Contoh 1

Apabila hati sudah bergejolak tentang cinta.
Maka tidak ada obatnya selain berumah tangga.

Contoh 2

Seyumanmu adalah penyemangat hari-hariku.
Maka janganlah engkau jauh dari hatiku.

Contoh 3

Melihatmu sungguh tidak membuatku bosan.
Namun membuatku makin kasmaran.

Gurindam 12

Di bagian paling atas kami sudah membahas perihal gurindam 12. Siapakah sebenar Raja Ali Haji? Raja Ali Haji yaitu seorang sastrawan sekaligus pahlawan nasional yang namanya diabadikan di Provinsi Kepulauan Riau.

Gambar Via: twitter.com

Karya beliau yang paling luar biasa yaitu Gurindam 12. Beliau merampungkan karyanya ini pada tanggal 23 Rajab 1246 H atau bertepatan pada tahun 1847 Masehi. Di umur beliau yang masih 38 tahun kala itu.

Gurindam 12 terbagi dalam 12 pasal yang memuat syair petunjuk. Syair yang sarat akan nasihat untuk mencapai ridha Allah subhanahu wata’ala.

Lantas, apa saja isi dari gurindam 12 (dua belas) itu? Berikut ini penuturannya:

Pasal Satu

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat*.

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya* tiada ia menyalah*.

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri*.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang terpedaya*.

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat*.

Pasal Dua

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa*.

Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Pasal Tiga

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping*.

Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il* yang tiada senonoh*.

Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.

Pasal Empat

Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong*.

Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil* jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor*.

Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi*.

Pasal Lima

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai*,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Pasal Enam

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,

Pasal Tujuh

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.

Pasal Delapan

Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.

Pasal Sembilan

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaitulah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa*.

Kepada segala hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Pasal Sepuluh

Dengan bapak jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai*.

Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kapil.

Pasal Sebelas

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai* yang cela.

Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.

Hendak marah,
Dahulukan hujjah*.

Hendak dimalui,
Jangan memalui.

Hendak ramai,
Murahkan perangai*.

Pasal Dua Belas

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.

Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat*.

Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa* dan cindai*.

Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Mungkin kamu kesulitan untuk memahami tiap bait gurindam di atas? Maka Gurindam di atas bisa kamu coba pahami lewat terjemahan kata di bawah ini:

  • Bakhil: kikir atau pelit
  • Balai: rumah tempat menunggu raja (di antara kediaman raja-raja)
  • Bahri: hal tentang lautan (luas)
  • Berperi: berkata-kata
  • Cindai: kain sutra yang berbunga-bunga
  • Damping: dekat, karib, atau akrab
  • Fi’il: perilaku, perbuatan
  • Hujjah: tanda, bukti, atau argumen
  • Inayat: pertolongan atau bantuan
  • Kafill: majikan atau orang yang bertanggung jawab kerja
  • Kasa: kain putih yang halus
  • Ketor: tempat ludah (saat makan sirih), peludahan
  • Ma’rifat: tingkat penyerahan diri pada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat kepercayaan yang kuat
  • Menyalah: melakukan kekeliruan
  • Mudarat: suatu hal yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
  • Pekong: (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk
  • Penggawa: kepala pasukan, kepala desa
  • Perangai: sifat batin manusia yang mempengaruhi seluruh pikiran serta perbuatan
  • Senonoh: pengucapan, perbuatan, atau tampilan yang tidak pantas (tidak sopan)
  • Tegah: menghentikan
  • Terpedaya: tertipu
  • Termasa: tamasya

Kehadiran gurindam sudah mulai tergerus dengan adanya perubahan zaman. Kita sebagai generasi muda yang merasa dan pasti cinta dengan Indonesia, sudah sepatutnya melestarikan karya sastra ini, agar tidak diadopsi oleh bangsa lain.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Gurindam, kami harap semoga Postingan kali ini mengenai Gurindam di atas sedikitnya dapat memperluas pengetahuan kamu mengenai apa itu yang dimaksud dengan Gurindam, dan mau untuk mulai melestarikannya kembali. [bk]

Loading...