Pengertian Pers: Fungsi, Peranan, dan Perkembangan Pers di Indonesia

Pengertian Pers – Kata pers yaitu arti kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Seperti yang kerap kita dengar yakni Jumpa pers artis, jumpa pers mabes polri serta lain sebagainya. Beberapa orang beranggapan pers sama dengan seorang wartawan, tetapi sesungguhnya bukan hanya itu saja, tetapi semua aktivitas yang dikerjakan oleh media termasuk juga didalamnya yaitu wartawan.

Lantas bagaimana pengertian pers yang sebenarnya, atau pengertian pers menurut beberapa pakar serta bagaimana sejarah pers hingga sekarang ini, dan fungsi serta peranan pers terutama di indonesia?. OK.. untuk menjawab pertanyaan itu, simak artikel berikut.

Pers yaitu badan penerbitan media massa dengan cara berkala. Secara etimologis, kata Pers dari bahasa Belanda atau Press dalam bahasa inggris, atau presse dalam bahasa prancis, sedangkan dari bahasa latin, perssare dari kata premere, yang bermakna “Tekan” atau “Cetak”, pengertian terminologisnya yaitu “media massa cetak” atau “media cetak”.

Media massa, menurut Gamle & Gamle yaitu komunikasi antara manusia (human communication), dalam makna, media adalah saluran atau media untuk memperluas serta memperjauh jangkauan sistem penyampaian pesan antar manusia.

Dalam UU pers no 40 tahun 1999, Pers yaitu lembaga sosial serta wahana komunikasi massa yang melakukan aktivitas jurnalistik mencakup mencari, memperoleh, mempunyai, menyimpan, mengolah, serta meyampaikan informasi baik berbentuk tulisan, suara, gambar, suara serta gambar, dan data serta grafik ataupun berbentuk lainnya dengan memanfaatkan media cetak, media elektronik serta semua jenis saluran yang ada.

Arti “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris bermakna press. Secara harfiah pers bermakna cetak serta secara maknawiah bermakna penyiaran secara tercetak atau publikasi dengan cara dicetak (printed publication).

Dalam perkembangannya pers memiliki dua pengertian, yaitu pers dalam artian luas serta pers dalam artian sempit. Dalam artian luas, pers meliputi seluruh media komunikasi massa, seperti radio, televisi, serta film yang berperan memancarkan/menyebarkan informasi, berita, ide, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain.

Jadi dikenal dengan istilah jurnalistik radio, jurnalistik televisi, jurnalistik pers. Dalam artian sempit, pers hanya dikategorikan produk-produk penerbitan yang melalui proses percetakan, seperti surat kabar harian, majalah mingguan, majalah tengah bulanan dsb, yang di kenal sebagai media cetak.

Pers memiliki dua segi kedudukan, yakni : pertamaialah medium komunikasi yang tertua di dunia, serta ke-2, pers sebagai lembaga masyarakat atau institusi sosial merupakan sisi integral dari masyarakat, serta bukanlah unsur yang asing dan terpisah daripadanya. Serta sebagai lembaga masyarakat ia memengaruhi dan di pengaruhi oleh lembaga- lembaga masyarakat yang lain.

Pers yaitu aktivitas yang terkait dengan media serta masyarkat luas. Aktivitas itu merujuk pada aktivitas jurnalistik yang sifatnya mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah materi, serta menerbitkanya berdasar pada sumber-sumber yang terpercaya serta valid.

loading...

pengertian pers

Pengertian Pers Menurut Ahli

Wilbur Schramm, dalam bukunya “Four Theories of the Press” menyampaikan 4 teori paling besar dari pers, yakni the authoritarian, the libertarian, the social responsibility, serta the soviet communist theory. Ke-4 teori itu merujuk pada satu pengertian pers sebagai pengamat, guru serta komunitas yang mengemukakan pandangannya mengenai beberapa hal yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan Mc. Luhan menuliskan dalam bukunya Understanding Media terbitan tahun 1996 tentang pers sebagai the extended of man, yakni yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain serta peristiwa satu dengan lainnya pada momen yang bertepatan.

Menurut Ayah Pers Nasional, Raden Mas Djokomono, Pers yaitu yang membuat pendapat umum lewat tulisan dalam surat berita. Gagasannya ini yang membakar semangat beberapa pejuang dalam memperjuangkan hak-hak bangsa indonesia pada saat penjajahan belanda.

Sejarah Pers Indonesia

Pers Indonesia diawali Sejak terbentuknya Kantor berita ANTARA didirikan tanggal 13 Desember 1937 sebagai kantor berita perjuangan dalam rangka perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, yang meraih puncaknya dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Kantor berita Antara didirikan oleh Soemanang ketika berusia 29 tahun, A. M. Sipahoentar kala usia 23 tahun, Adam Malik saat berumur 20 tahun serta Pandu Kartawiguna. Adam Malik pada umur 21 tahun diperintah untuk menggantikan pimpinan ANTARA, waktu mendatang Ia menjadi orang penting dalam memberitakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Lantaran kredibilitasnya, Adam Malik setelah menempati jabatan semula sebagai ketua Kantor berita Antara, ia diangkat sebagai Menteri Perdagangan, Duta Besar, Menteri Utama Bidang Politik, Menteri Luar Negeri, Presiden Sidang Majelis Umum PBB, Ketua DPR/MPR serta Wakil Presiden.

Sejarah Pers Kolonial

Pers Kolonial yaitu pers yang diupayakan oleh beberapa orang Belanda di Indonesia semasa kolonial/penjajahan. Pers kolonial mencakup surat kabar, majalah, serta koran berbahasa Belanda, daerah atau Indonesia yang mempunyai tujuan membela kebutuhan golongan kolonialis Belanda.

Sejarah Pers China

Pers Cina yaitu pers yang diupayakan oleh beberapa orang Cina di Indonesia. Pers Cina mencakup koran-koran, majalah dalam bahasa Cina, Indonesia atau Belanda yang diterbitkan oleh kelompok masyarakat keturunan Cina.

Sejarah Pers Nasional

Pers Nasional yaitu pers yang diupayakan oleh beberapa orang Indonesia terlebih orang-orang dalamgerakan dan ditujukan untuk orang Indonesia. Pers ini mempunyai tujuan memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia di zaman penjajahan. Tirtohadisorejo atau Raden Djokomono, pendiri surat kabar mingguan Medan Priyayi yang mulai sejak 1910 berkembang menjadi harian, dianggap sebagai tokoh pemrakarsa pers Nasional

Perkembangan Pers Nasional

Pers pada saat Penjajahan Belanda serta Jepang

1. Zaman Belanda

Pada tahun 1828 di Jakarta diterbitkan Javasche Courant yang berisi berita- berita resmi pemerintahan, berita lelang serta berita cuplikan dari harian-harian di Eropa. Sedang di Surabaya Soerabajash Advertentiebland terbit pada tahun 1835 yang lantas namanya diubah menjadi Soerabajash Niews en Advertentiebland.

Di semarang terbit Semarangsche Advertentiebland serta Semarangsche Courant. Di Padang surat kabar yang terbit yaitu Soematra courant, Padang Handeslsbland serta Bentara Melajoe. Di Makassar (Ujung Pandang) diterbitkan Celebe Courant serta Makassaarch Handelsbland. Surat- surat kabar yang terbit pada saat ini tak memiliki arti secara politis, lantaran lebih sebagai surat kabar periklanan. Tirasnya tak kian lebih 1000-1200 eksemplar setiap saat terbit. Seluruh penerbit terkena ketetapan, tiap-tiap penerbitan tidak dapat diedarkan sebelum diperiksa oleh penguasa setempat.

Pada tahun 1885 di semua daerah yang dikuasai oleh Belanda terhitung ada16 surat kabar berbahasa Belanda, serta 12 surat kabar berbahasa melayu salah satunya yaitu Bintang Barat, Hindia-Nederland, Dinihari, Bintang Djohar, Selompret Melayudan Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (Surabaya) dan juga Surat kabar berbahasa jawa Bromartani yang terbit di Solo .

2. Era Jepang

Saat Jepang datang ke Indonesia, surat kabar-surat kabar yang ada di Indonesia di ambil alih pelan-pelan. Lebih dari satu surat kabar dikumpulkan dengan alasan menghemat alat- alat tenaga. Maksud sesungguhnya yaitu agar pemerintah Jepang mampu memperketat pengawasan pada isi surat kabar. Kantor berita Antara juga diambil alih dan diteruskan oleh kantor berita Yashima kemudiansetelah itu berada di bawah pusat pemberitaan Jepang, yaitu Domei.

Wartawan-wartawan Indonesia ketika itu hanya bekerja sebagai pegawai, sedangkan yang di beri pengaruh dan kedudukan yaitu wartawan yang berniat didatangkan dari Jepang. Pada saat itu surat kabar hanya berbentuk propaganda serta memuji-muji pemerintah dan tentara Jepang.

Kemerdekaan Pers

Kemerdekaan pers dalam arti luas yaitu pengungkapan kebebasan bersuarasecara kolektif dari hak bersuara secara individu yang diterima sebagai hak asasi manusia. Penduduk demokratis yang dibangun atas dasar konsepsi kedaulatan rakyat, serta sebagian kemauan pada penduduk demokratis itu tergantung oleh opini publik yang dinyatakan dengan cara terbuka.

Hak publik untuk tahu inti dari kemerdekaan pers, sedang wartawan profesional, penulis, serta produsen hanya proses langsung.Tidak terdapatnya kemerdekaan pers ini bermakna tak adanya hak asasi manusia (HAM).

Kajian RUU pers terakhir 1998 serta awal 1999 yang lantas menjadi UU no. 40 Tahun 1999 mengenai pers begitu gencar. Independensi pers, dalam arti jangan ada lagi campur tangan birokrasi terhadap pembinaan serta pengembangan kehidupan pers nasional yang juga diperjuangkan oleh golongan pers. Prinsip seperti itu telah diuslukan mulai sejak pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia PWI tahun 1946.

Ketika kajian RUU pers itu di DPR-RI, golongan pers dengan gigih memperjuangkan independensi pers. Hasil perjuangan itu memanglah terwujud dengan bulatnya pendirian hingga nampak jargon “biarkanlah pers mengatur dirinya sendiri sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi campur tangan birokrasi”. Aktualisasi kesuksesan perjuangan itu yaitu dibentuknya Dewan Pers yang berdiri sendiri (independen)sebagaimana diputuskan dalam UUD No. 40 tahun 1999 mengenai Pers.

Kemerdekaan pers berasal dari kedaulatan rakyat serta dipakai sebagai perisai untuk rakyat dari ancaman pelanggaran HAM oleh kesewenang-wenangan kekuasaan atau uang. Dengan kemerdekan pers terjadi chek and balance dalam kehidupan bangsa serta bernegara. Kemerdekaan pers berhasil dicapai, lantaran kesuksesan reformasi yang mengakhiri kekuasan rezim Orde Baru pada tahun 1998.

Fungsi dan Peranan Pers Indonesia

Berdasar pada ketetapan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 mengenai pers, fungsi pers adalah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan serta kontrol sosial. Sementara itu Pasal 6 UU Pers mempertegas bahwa pers nasional mengerjakan peranan seperti berikut : memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum serta hak asasi manusia, dan menghormati kebhinekaan mengembangkan pendapat umum berdasar pada informasi yang tepat, akurat, serta benar melakukan pengawasan, kritik, koreksi, serta himbauan pada perihal yang terkait dengan kebutuhan umum memperjuangkan keadilan serta kebenaran.

Berdasar pada fungsi serta peranan pers yang demikianlah, lembaga pers kerap dikatakan sebagai pilar ke empat demokrasi (the fourth estate) sesudah lembaga legislatif, eksekutif, serta yudikatif, dan pembentuk opini publik yang paling potensial dan efisien. Fungsi peranan pers itu baru bisa digerakkan secra maksimal jika ada jaminan kebebasan pers dari pemerintah.

Menurut tokoh pers, jakob oetama, kebebsan pers jadi prasyarat mutlak agar pers secara maksimal mampu menjalankan pernannya. Sukar dibayangkan bagaiman peranan pers itu dapat digerakkan jika tak ada jaminan terhadap kebebasan pers.

Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahan yang benar-benar membatasi kebebasan pers. hal ini tampak, dengan keluarnya Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 mengenai Surat Izn Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata jadi senjata ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers serta pembredelan.

Albert Camus, novelis populer dari Perancis pernah menyampaikan bahwa pers bebas bisa baik dan juga bisa buruk, akan tetapi tanpa ada pers bebas yang ada hanya celaka. Oleh karena satu diantara fungsinya adalah melaksanakan kontrol sosial itulah, pers melakukan kritik serta koreksi pada segala sesuatu yang menurutnya tidak beres dalam segala permasalahan.

Karenanya, ada asumsi bahwa pers lebih gemar memberitakan hah-hal yang salah ketimbang yang benar. Pandangan seperti itu sebenarnya melihat peran serta fungsi pers bukandengan cara komprehensif, tetapi parsial serta ketinggal zaman.

Lantaran pada kenyataannya, pers saat ini juga memberitakan kesuksesan seseorang, lembaga pemerintahan atau perusahaan yang mencapai keberhasilan dan perjuangan mereka untuk tetap hidup di dalam berbagai masalah.

 

No Responses

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan