SHARE

Penyimpangan Semu Hukum Mendel Baiklah sahabat, di kesempatan ini kita bakal mengulas tentang Penyimpangan Semu Hukum Mendel, langsung saja kita bakal masuk ke dalam pembahasannya, ya.

Dalam keadaan normal, persilangan monohibrida menghasilkan perbandingan individu keturunan 3 : 1 atau 1 : 2 : 1, serta persilangan dihibrida menghasilkan individu keturunan 9 : 3 : 3 : 1. Dalam prakteknya, hasil persilangan Mendel bisa menghasilkan perbandingan individu yang tidak pas. Pada persilangan dihibrida, bisa dihasilkan perbandingan yang disebut variasi dari perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 yakni 12 : 3 : 1 ; 9 ; 7 atau 15 : 1. Walau demikian, perbandingan itu tetap mengikuti ketentuan Hukum Mendel. Oleh karena itu, hasil perbandingan itu dapat dikatakan sebagai penyimpangan semu Hukum Mendel.

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,

Penyimpangan itu terjadi lantaran adanya beberapa gen yang sama-sama memengaruhi dalam menghasilkan fenotip. Walau demikian, perbandingan fenotip itu masih mengikuti prinsip-prinsip Hukum Mendel. Penyimpangan semu Hukum Mendel itu mencakup: interaksi gen, kriptomeri, polimeri, epistasis-hipostasis, gen-gen komplementer, gen dominan rangkap dan gen penghambat.

Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Penyimpangan semu hukum Mendel adalah bentuk persilangan yang menghasilkan rasio individu yang tidak sama dengan dasar rasio menurut hukum Mendel, meskipun prinsip-prinsip penyilangan masih mengikuti ketentuan hukum Mendel. Ketidaksamaan hasil rasio itu terjadi lantaran adanya beberapa gen yang saling memengaruhi dalam menghasilkan fenotip (karakter yang tampak). Berikut ini  beberapa macam penyimpangan semu hukum Mendell.

Interaksi alel

Interaksi alel adalah sebuah peristiwa di mana munculnya sebuah fenotip (karakter yang tampak) yang di pengaruhi oleh interaksi antar gen dominan ataupun interaksi antar gen resesif.

Misalnya pada ayam didapati empat macam bentuk pial (jengger), diantaranya (1) pea (berupa ercis atau biji) dengan genotip rrP, (2) single dengan genotip rrpp, (3) rose (berupa mawar atau gerigi) dengan genotip Rpp, serta (4) walnut (berupa sumpel) dengan genotip R-P-.

Bila dilakukan persilangan antara ayam berpial rose dengan ayam berpial pea bakal dihasilkan fenotip baru yaitu ayam berpial walnut (sumpel). Fenotip baru ini dihasilkan lantaran interaksi dua pasang alel yang dominan. Perhatikan persilangan berikut ini untuk lebih detilnya.

Jika dilakukan persilangan antar ayam berpial walnut akan diperoleh fenotip berupa ayam berpial walnut, rose, pea, serta single dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Ayam berpial single (tunggal) terjadi lantaran adanya dua pasang alel yang resesif (kurang tampak). Untuk lebih detilnya, perhatikan tabel berikut ini:

Kriptometri

Kriptometri adalah kondisi di mana seolah-olah gen dominan tersembunyi bila berdiri sendiri serta baru akan terlihat apabila bersama dengan gen dominan yang lain, bukan alel.

Momen ini ditemukan oleh Correns dengan menyilangkan bunga Linaria marocanna berwarna merah (Aabb), dengan bunga Linaria maroccana berwarna putih (aaBB). Keturunan pertama (F1) yang dihasilkan yaitu bunga berwarna ungu (AaBb) yang tidak sama dengan warna dari bunga kedua induknya (yakni merah serta putih). Bila sesama keturunan pertama disilangkan, keturunan kedua (F2) yang dihasilkan yaitu 9 ungu : 3 merah : 4 putih. Hal semacam ini bisa dipahami dengan memerhatikan tabel berikut ini:

Keturunan F1 yang berwarna ungu didapat lantaran terjadinya perubahan lingkungan. Bunga Linaria maroccana akan berwarna merah di lingkungan asam lantaran adanya pigmen antosianin serta lingkungan basa, pigmen ini akan memberikan warna ungu. Tetapi, bila didalam plasma tidak terdapat pigmen antosianin, baik didalam lingkungan asam atau basa, yang terbentuk yaitu warna putih.

Polimeri

Polimeri yaitu persilangan heterozigot lebih dari satu karakter beda yang berdiri sendiri, namun memengaruhi bagian yang sama dari sebuah organisme.

Momen polimeri diperkenalkan oleh Lars Frederik Nelson serta Ehle. Mereka melakukan percobaan persilangan antara gandum berbiji merah dengan gandum berbiji putih. Perhatikan tabel persilangan berikut ini:

Berdasarkan tabel persilangan di atas, persilangan pada gandum berbiji merah dengan gandum berbiji putih menghasilkan fenotip baru (F1) yaitu keturunan heterozigot berwarna merah lebih muda apabila dibandingkan dengan induknya yang homozigot (merah). Oleh karena itu, biji merah bersifat dominan tidak sempurna terhadap warna putih.

Bila fenotip baru (F1) yang dihasilkan disilangkan sesamanya, fenotip baru yang dihasilkan (generasi F2) berupa gandum berbiji merah serta gandum berbiji putih dengan perbandingan 3 : 1.

Epistasis-Hipostasis

Epistasis-hipostasis adalah sebuah momen di mana suatu gen dominan menutupi/mengalahkan ekspresi gen dominan lain yang bukan alelnya. Satu atau sepasang gen yang menutupi disebut dengan epistasis sedangkan sepasang gen yang tertutupi disebut dengan hipostasis. Misalnya persilangan antara jagung berkulit hitam dengan jagung berkulit kuning. Perhatikan persilangan berikut ini:

P : HHkk x hhKK

(hitam) x (kuning)

F1 : HhKh (hitam)

Dari hasil persilangan itu, meskipun H dan K berada bersama dan keduanya dominan. Tetapi, karakter yang keluar adalah hitam. Dalam artian, hitam bertindak sebagai epistasis (menutupi) terhadap kuning. Kuning di sini bersifat hipostasis (tertutupi) oleh hitam.

Komplementer

Komplementer adalah hubungan antara gen-gen dominan yang tidak sama, tetapi sama-sama melengkapi untuk memunculkan suatu fenotip (karakter yang tampak). Misalnya perkawinan antara dua orang yang sama-sama bisu tuli.

Dari tabel itu, didapatkan keturunan pertama (F1) dari perkawinan antara dua orang yang sama-sama bisu tuli yaitu normal. Jika keturunan pertama disilangkan dengan sesamanya, generasi atau keturunan F2 yang dihasilkan sesuai dengan tabel di atas. Berdasarkan tabel itu, keturunan kedua (F2) yang dihasilkan adalah ada yang normal serta ada yang bisu tuli. Rasio F2 (keturunan kedua) yang dihasilkan normal : bisu tuli yaitu 9 : 7.

Atavisme

Untuk lebih gampang memahami tentang momen atavisme, kalian cobalah ingat kembali mengenai hubungan gen pada pial ayam. Saat dilakukan persilangan ayam berpial rose dan pea dihasilkan ayam berpial walnut. Pial pea itu dapat dikatakan menghilang dan muncul karakter baru diluar induknya. Lantas, saat dilakukan persilangan lagi antarsesama ayam berpial walnut keturan yang dihasilkan adalah ayam dengan empat macam pial yakni rose, pea, walnut, dan single. Pada momen ini, pial rose dan pea muncul kembali setelah menghilang pada keturunan pertama. Momen munculnya kembali karakter keturunan pertama pada generasi selanjutnya setelah sebelumnya pernah menghilang disebut dengan sebagai fenomena atavisme.

Contoh lain atavisme adalah perkawinan antarsesama merpati berekor seperti kipas, bakal menghasilkan keturunan pertama berupa merpati berekor lurus. Keturunan merpati berekor seperti kipas muncul kembali setelah perkawinan antarsesama merpati berekor lurus.

Jadi, pada prinsipnya atavisme menerangkan tentang sebuah karakter yang dihasilkan pada keturunan pertama bakal kembali muncul pada keturunan berikutnya meskipun tidak pada keturunan kedua maupun ketiga.

Demikian kajian di kesempatan kali ini, mengenai Penyimpangan Semu Hukum Mendel, mudah-mudahan berguna untuk rekan-rekan semua, ya.

 

Sumber:

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,
insurance
Loading...