Potret Pilu Dua Sejoli Korban Kolonialisme

Posted on

Lahiya – Berlokasi di sudut alun-alun Kota Rangkasbitung, Provinsi Banten, sebuah bangunan dengan arsitektur khas colonial memampang aksara besar: Museum Multatuli. Sedangkan di sebelah timur alun-alun, tepat di seberang museum, tampak berdiri dengan megah gedung Perpustakaan Saidjah Adinda. Saat tim media mengunjunginya, suasana perpustakaan cukup tenang dan tampak beberapa pengunjung saja yang datang. Bangunan perpustakaan yang menyerupai Leuit (lumbung padi masyarakat adat Baduy) itu tampak unik dan menarik.

Ada pun Museum Multatuli tak dikunjungi lantaran pada Rabu (03/01/2018) itu. Museum yang erat kaitannya dengan perpustakaan ini masih sedang dalam perbaikan. Dulunya, Museum Multatuli merupakan rumah Asisten Residen Lebak yang dibangun 1920. Sedangkan nama perpustakaan diambil dari nama dua tokoh sepasang remaja, Saidjah dan Adinda, dalam novel berjudul Max Havelaar yang ditulis Multatuli. Seperti kita ketahui, Multatuli merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Residen Lebak.

Dilansir dari reportase SindoNews.com dan sumber lainnya, Rabu (10/01/2018), pada Desember 2016 Pemerintah Kabupaten Lebak menetapkan kedua bangunan ini sebagai cagar budaya. Kedua bangunan ini seolah menjadi pengingat bahwa di Rangkasbitung ini pernah hadir seorang Asisten Residen Lebak, Eduard Douwes Dekker,  yang berani mengkritik kebobrokan sistem tanam paksa pemerintah Kolonial Hindia Belanda karena menyengsarakan rakyat.

Waktu itu, Eduard Douwes Dekker berani secara terbuka menyampaikan kebobrokan sistem tanam paksa atau kerja rodi. Bahkan dia marah karena sistem itu melahirkan penindasan, korupsi, dan nepotisme, yang dipraktikan para pejabat saat itu. Sistem feodalisme pejabat pribumi dan kolonialisme penjajah Belanda, melahirkan kapitalisme yang menyengsarakan masyarakat.

Baca juga: Mengintip Cantiknya Perempuan Jepang Ketika Rayakan Hari Kedewasaan

Semenjak dilantik menjadi Asisten Residen Lebak Januari 1956, Eduard Douwes Dekker sudah menyindir tentang kondisi rakyat Lebak yang miskin dan kelaparan. Ia melontarkannya di hadapan residen, bupati, dan demang. Padahal areal persawahan di Lebak sangat luas hingga bertebaran sampai ke puncak-puncak bukit. Bahkan baru sebulan menjabat, dia mengirim laporan pada Residen Serang bahwa bupati Lebak menyalahgunakan kekuasaannya dan dicurigai melakukan pemerasan. Hal itu terjadi pada 24 Februari 1856.

Eduard Douwes Dekker memang tak lama menjabat sebagai Asisten Residen Lebak. Dia mengundurkan diri Pada 20 April 1856 lantaran tak cocok dengan gaya kepemimpinan atasannya dan tak menindaklanjuti laporannya. Ia kembali ke Belanda dan membawa semua manuskrip, mulai dari surat-surat dinas selama bertugas di Hindia Belanda sampai sejumlah naskah sandiwara. Kritik Eduard Douwes Dekker tetap lantang dan tak pernah surut.

Memasuki Januari 1858 dia tiba di Brussel, Belgia. Dari kamar losmen Au Prince Belge, selama satu bulan di musim gugur 1859 dia menulis novel berjudul Max Havelaar. Dalam novel satir yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda, dia menggunakan nama pena Multatuli. Dari bahasa Latin multa tuli berarti “banyak yang aku sudah derita.”

Novelnya lantas diterbitkan pada 1860 dalam versi yang diedit oleh penerbit tanpa sepengetahuannya. Namun, novel tersebut tetap menimbulkan kegemparan di Belanda dan Eropa. Pada 1868 novelnya terbit dalam bahasa Inggris dan pada 1875 terbit kembali edisi revisi. “Ya, aku mau dibaca!,” tandas Multatuli.

Max Havelaar ini pun diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada 1976 dan disutradarai Fons Rademakers. Dalam film berdurasi 2 jam 40 menit ini tokoh Max Havelaar diperankan oleh Peter Faber. Sedangkan tokoh Saidjah oleh Herry Lantho dan Adinda oleh Zulaeni. Beberapa aktris Indonesia lainnya yang ikut terlibat adalah Rima Melati dan Piet Burnama. Sayang, film ini relatif tak begitu populer di Indonesia.

Cinta yang Tragis dan Romantis

Dalam novel ini, Multatuli menyisipkan kisah roman yang indah sekaligus getir dan mengharukan. Ada satu bab yang mengisahkan episode Saidjah dan Adinda, sepasang remaja anak keluarga petani dari Badur. Sejak kecil mereka bersahabat dan ketika beranjak dewasa keduanya saling mencintai sehingga berjanji untuk menikah.

Saidjah digambarkan seorang pemuda berikat kepala biru, bercelana pendek, dan dada yang tanpa busana. Ia pandai bermain suling dan rajin membantu orangtuanya membajak di sawah bersama kerbau kesayangannya yang diberi nama Si Pantang. Kerbaunya yang memiliki user-user (unyeng-unyeng) dua di bulu perutnya ini dianggap istimewa. Bahkan ketika Saidjah hendak diterkam macan, si Pantanglah yang maju menghadapinya sehingga Macan pun mati dengan perut robek tertusuk tanduknya.

Malangnya, kerbau kesayangan Saidjah dirampas Demang Parangkujang untuk disetorkan kepada Bupati Lebak yang hendak menjamu saudaranya Bupati dari Cianjur. Ibunda Saidjah yang sangat sedih meninggal dunia dan ayahnya menjadi gila karena tidak bisa lagi membajak sawahnya.

Saidjah pun memutuskan pergi ke Batavia (Jakarta) merantau bekerja dan mengumpulkan uang untuk membeli kerbau. Dia berharap sekembali ke Badur bisa membajak sawah orangtuanya lagi dan berjanji menikah dengan Adinda. Tragisnya, setelah tiga tahun merantau dan kembali ke Badur, Saidjah tak menemukan Adinda yang sudah pergi bersama keluarganya ke Lampung. Senasib dengan Saidjah, Adinda dan keluarganya meninggalkan Lebak karena tak ada lagi sawah yang bisa digarap dan tak sanggup membayar pajak yang tinggi.

Akhirnya Saidjah menyusul dan mencari Adinda. Saat ditemukan, Adinda sudah meninggal bersama keluarganya yang dibunuh oleh tentara Hindia Belanda. Saidjah yang berduka dan marah, mengamuk melawan tentara kompeni, namun dia juga mati setelah dadanya tertusuk bayonet.

Novel ini menyisipkan pula sejumlah puisi tentang Saidjah dan Adinda. Salah satu petikannya adalah sebagai berikut:

“Jika matahari kesasar jalan. Dan bulan lupa mana Timur mana Barat. Jika waktu itu belum juga datang Adinda. Maka turunlah malaikat dengan sayap kemilau. Ke atas bumi mencari apa yang tinggal. Maka mayatku terkapar di sini di bawah ketapang. Jiwaku alangkah berdukacita… Adinda!”

Lawan Politik Lewat Sastra

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan