Prosedur Pemeriksaan Leopold

Posted on

Prosedur Pemeriksaan Leopold Selamat datang di Lahiya, situs (blog) sederhana yang berbagi ilmu dan pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Dan, pada kesempatan kali ini, kami bakal sharing pengetahuan mengenai Pemeriksaan Leopold. Pemeriksaan leopold ini dilakukan untuk mengetahui presentasi janin, tinggi fundus uteri, dan apakah kepala bayi sudah memasuki PAP atau belum. Langsung saja kita masuk ke pembahasannya.

Tujuan:

  • Kontrol Leopold untuk menentukan
  • Besarnya rahim serta konsistensinya
  • Bagian-bagian janin, letak serta presentasi
  • Gerakan janin
  • Kontraksi Braxton-hicks serta his

Peralatan dan Perlengkapan:

  • Laennec atau doppler
  • Medline
  • Selimut
  • Handuk
  • Tempat tidur antenatal
  • Phanthoom
  • Buku serta alat tulis

Produser Pelaksaan:

  • Beritahu serta jelaskan pada ibu tindakan yang bakal dilakukan.
  • Sediakan alat serta bahan secara ergonomis.
  • Mempersilahkan client ke tempat tidur serta membantu membuka baju seperlunya.
  • Bersihkan tangan dengan sabun serta air mengalir, keringkan dengan handuk bersih.
  • Menghangatkan kedua tangan.
  • Melihat kondisi perut ibu apakah ada bekas operasi atau striae

Melakukan palpasi leopold I

  • Memposisikan client dengan lutut sedikit ditekuk
  • Menegangkan uterus dengan memakai kedua tangan dari arah samping serta umbilikalImage
  • Menentukan sisi janin yang ada di fundus
  • Kedua tangan meraba fundus lantas menentukan TFU
  • Melakukan palpasi Leopold II
  • Meletakan kedua tangan disamping kanan serta kiri perut client untuk menentukan letak punggung janin
  • Meletakan laennec atau doppler di sekitar punggung janin, kemudian kalkulasi detak jantung janin
  • Melakukan palpasi Leopold IIIImage
  • Meletakan tangan kiri menahan fundus, tangan kanan meraba sisi terbawah janin serta menilai apakah sisi terbawah udah masuk PAP
  • Melakukan palpasi Leopold IVImage
  • Memposisikan client dengan kedua kaki diluruskan, teruji menghadap kearah kaki client
  • Kedua tangan diletakkan pada segi sisi bawah rahim serta menilai seberapa jauh penurunannya
  • Rapikan pasien
  • Membantu client turun dari tempat tidur
  • Menyampaikan hasil dari kontrol Leopold I, II, III, IV
  • Bereskan alat
  • Bersihkan tangan dengan sabun da air mengalir, keringkan dengan handuk bersih
  • Lakukan dokumentasi tindakan yang sudah dilakukan

Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik yaitu komunikasi yang mendorong proses penyembuhan client (Depkes RI, 1997). Dalam artian lain menyampaikan bahwa komunikasi terapeutik yaitu proses yang dipakai oleh tenaga kesehatan menggunakan pendekatan yang direncanakan secara sadar, mempunyai tujuan dan kegiatannya dipusatkan pada client.

Menurut Stuart serta Sundeen (dalam Hamid, 1996), maksud hubungan terapeutik diarahkan pada perkembangan client mencakup:

  • Realisasi diri, penerimaan diri serta peningkatan penghormatan pada diri.
  • Rasa identitas personal yang pasti serta peningkatan integritas diri.
  • Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim serta sama-sama bergantung dengan
  • kapasitas untuk mencintai serta di cintai.
  • Peningkatan fungsi serta kemampuan untuk memuaskan kebutuhan dan meraih maksud personal yang realistik.

Tujuan komunikasi terapeutik yaitu:

  • Membantu client untuk memperjelas serta mengurangi beban perasaan serta fikiran dan bisa mengambil tindakan untuk merubah kondisi yang ada apabila client yakin pada hal yang dibutuhkan.
  • Mengurangi kesangsian, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efisien serta mempertahankan kemampuan egonya.
  • Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
  • Dokumentasi
  • Metode pendokumentasian SOAP yaitu catatan yang bersifat simpel, jelas, logis serta tercatat. Pencatatan ini umum digunakan untuk mendokumentasikan bimbingan kebidanan.

Empat langkah dalam metode ini yaitu sebagai berikut ini:

S: Data Subjektif

  • Adalah informasi yang didapat langsung dari client
  • Informasi itu dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang terkait dengan diagnosis

O: Data Objektif

  • Data yang didapat dari apa yang diliat serta dirasakan oleh bidan pada saat kontrol termasuk juga hasil kontrol laboratorium, USG, dll
  • Apa yang bisa diobservasi oleh bidan bakal jadi komponen yang berarti dari diagnosis yang akan ditegakan

A: Analisis

  • Adalah rangkuman yang di buat bersumber pada data subjektif serta data objektif yang didapatkan
  • Adalah sebuah proses yang dinamik, mencakup:
  • Diagnosis
  • Antisipasi diagnosis/masalah potensial
  • Pentingnya tindakan segera (langkah 2, 3, 4 dalam manajemen varney)

P: Plan/Planning/Perencanaan

Adalah rencana, proses serta evaluasi sesuai dengan rangkuman yang di buat (bersumber pada langkah 5, 6, 7 pada manajemen varney)

Untuk persiapannya, wanita hamil yang akan di check diminta berbaring telentang dengan bahu serta kepala sedikit lebih tinggi (menggunakan bantal) serta pemeriksa ada di sebelah kanan pasien (atau di sebelah kiri untuk pemeriksa yang kidal).

Setelah pasien yang akan di check berbaring telentang, perhatikanlah apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi mesti ditunggu hingga kontraksinya berhenti. Dinding perut juga harus santai, hingga kontrol bisa dilakukan dengan teliti serta nyaman. Karenanya, tungkai pasien bisa ditekuk pada pangkal paha serta lutut. Suhu tangan pemeriksa mesti disesuaikan dengan suhu tubuh pasien supaya pasien tetap terasa nyaman serta supaya dinding perut tidak berkontraksi mendadak akibat perubahan suhu, sebelum melakukan palpasi, kedua telapak tangan bisa digosok-gosokkan terlebih dulu baru kemudian kontrol dilakukan.

Palpasi bisa dilakukan secara systematik bersumber pada Perasat Leopold. Perasat Leopold yaitu tehnik palpasi bimanual yang dibagi dalam 4 tahapan tehnik kontrol, yakni:

Leopold I

  1. Pemeriksa menghadap ke arah wajah ibu hamil
  2. Dengan memakai kedua tangan, pemeriksa memastikan tinggi fundus uteri (jarak fundus ke prosessus xiphoideus atau pengukuran dengan sentimeter jarak dari tepi atas simphisis ke fundus uteri)
  3. Melakukan palpasi secara gentle dengan memakai jari-jari kedua tangan untuk menentukan sisi mana dari janin yang terletak pada fundus.
  4. Pantat akan teraba sebagai sisi yang besar serta lunak, sedangkan kepala bakal teraba sebagai sisi yang keras, bulat, dan lebih gampang untuk digerakkan.

Leopold II

  1. Pemeriksa masih menghadap ke arah wajah ibu hamil.
  2. Dengan memakai kedua tangan, telapak tangan ditempatkan pada segi kiri-kanan abdomen dengan memberikan sedikit penekanan.
  3. Menentukan letak sisi besar (punggung) serta bebrapa sisi kecil janin.
  4. Pada letak lintang, tentukan dimana letak kepala janin.
  5. Pada satu sisi akan teraba sisi yang agak keras serta besar yang merupakan punggung janin, serta di segi lain akan teraba beberapa bagian kecil yang lebih gampang digerakkan yang merupakan ekstremitas dari janin.
  6. Wanita hamil dengan dinding abdomen yang tidak tebal akan bikin beberapa bagian janin itu bisa diidentifikasi.

Leopold III

  1. Pemeriksa menghadap ke arah wajah ibu hamil.
  2. Dengan memakai ibu jari tangan kanan serta jari-jari tangan yang lain untuk menentukan sisi terbawah janin dengan cara meraba di daerah abdomen sisi bawah atau pas diatas simphisis pubis, sedangkan tangan kiri melakukan fiksasi di bagian fundus uteri.

Leopold IV

  1. Pemeriksa saat ini menghadap ke arah kaki ibu
  2. Dengan memakai 3 jari dari kedua tangan, tidak hanya bisa ditentukan sisi terbawah janin juga untuk menentukan seberapa jauh sisi itu sudah memasuki pintu atas panggul.
  3. Apabila kepala dalam sikap fleksi, tonjolan kepala yaitu dahi yang ada di pihak beberapa bagian kecil, sedang dalam sikap defleksi tonjolan kepala yaitu oksiput yang ada di pihak punggung. Dengan memakai ujung ketiga jari kedua tangan, pemeriksa melakukan tekanan yang dalam searah dengan aksis punggung. Tangan yang tertahan memperlihatkan adanya tonjolan kepala, sedangkan tangan yang lain bakal dengan gampang masuk lebih jauh kedalam panggul.
  4. Apabila kepala belum masuk kedalam panggul, kepala dengan gampang bisa digerakkan ke kanan serta ke kiri serta teraba ballotement. Kedua jari tangan bisa ada diantara kepala serta simphisis. Apabila hanya sebagian kecil kepala saja yang bisa teraba serta kepala tidak bisa digerakkan, ia udah memasuki PAP (engaged).

Nah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, Mengenai Pemeriksaan Leopold. Mudah-mudahan ilmunya bisa bermanfaat untuk kita semua, ya. Dan, jika masih ada yang belum dimengerti, silakan sahabat menyampaikan pertanyaan pada kotak komentar di bawah ini. Terimakasih sudah bertandang ke Lahiya, jangan lupa like, follow, dan komentarnya, ya.

 

Sumber:
http://www.softilmu.com/2015/11/prosedur-pemeriksaan-leopold.html
https://oviediv.wordpress.com/2014/05/09/pemeriksaan-leopold/