Home Contoh Puisi Cinta: Kumpulan Puisi Cinta Romantis Terbaru 2016

Puisi Cinta: Kumpulan Puisi Cinta Romantis Terbaru 2016

SHARE

Puisi Cinta

Puisi cinta selalu dicari, dibutuhkan, dan disukai oleh semua orang. Apalagi jika puisi cinta diberikan kepada seorang wanita dari pasangannya. Siapa paling suka puisi cinta, mungkin wanita jawabanya. Alhasil, banyak pria ingin menulis cinta untuk mengutarakan hati atau sekadar merayu menyatakan cinta.

Tapi tidak semua bisa menulis puisi, apalagi puisi cinta. Oleh karena itu, berikut ini kami berikan puisi cnta terbaru yang boleh kami bilang sangat bagus di tahun 2016.

Puisi cinta ini hasil karya sastrawan muda Indonesia bernama Ijonk Muhammad. Kamu bisa menyapanya langsung di facebook.com/ijonkmuh, atau kamu buka langsung di website pribadinya ijonkmuhammad.com

Contoh Puisi berikut ini diambil dari buku beliau berjudul Barang Kenangan

Contoh Puisi Cinta: karya Ijonk Muhammad

puisi cinta

Kemarikan senyummu

Separuh putaran sudah bulan mengejan
Terdiam rumput malu bergoyang

Kemarikan senyummu, bair kuabadikan dalam mataku
Menjadi bingkai penglihatanku,
Kemarikan senyummu, lalu merahlah pipimu
pewarna jalan kehidupan, pemendar rindu malamku

tak pernah habis senyummu dik,
boleh kuminta lagi, untuk diabadikan
membalut tubuhku siang dan malam
tak surut merah lesungmu dik,
pembara hati kekakuan jiwaku

Cuma satu yang tak ingin kulewati dik
berdegup dadaku, dikala senyummu mengarah mataku
Dan aku tersenyum dengan manis bibirmu

Aku!

Aku, aku bukan Chairil,
Dia yang ingin hidup seribu tahun lagi
Apalagi binatang jalang

loading...

Aku, jelas bukan Chairil.
Karena aku
Ingin mencintaimu lebih dari seribu tahun
Melewati batas usia dunia
Tak perlu menerjang
Hanya perlu merindu
Bagian jalan menyayangimu

Aku,
Yang tak menangis saat keluar dari rahim ibu
Tapi mengelu menyebut namamu

Yang bertahan

Siapa yang harus pergi ketika memang itu perlu
Siapa yang perlu kembali saat memang itu harus
Cukup cinta menjaga langkah
Sebab pergi adalah rindu yang perlu dirawat
Sebab kembali adalah cinta yang harus dijaga

Aku menoleh hanya sesaat, dan wajahmu tak lagi kuperoleh
Aku hanya menangis sejenak, dan suaramu menyapu sekejap
Aku bertanyatanya pada bumi bulat, pada langit lapang
kemana arah rindu dituju, saat awan merona sendu
kau bilang “tunggu aku”

kau terheranheran pada air mata, pada jiwa yang tak luka
dimana cinta bertahan, saat hujan turun tak berkesudahan
aku bilang “aku menunggumu”

kita bersijngkat pada daun yang tak sempat kita pungut
bagaimana bisa ada cinta, saat kemarau silih berganti dengan hujan
saat keraguan silih bertukar ketakutan, saat kebersamaan beralih kesendirian.

dan kita hanya mengerti

“cinta adalah yang bertahan”

Aku yang Mencintaimu

Ada daun yang jatuh dan melayang sebelum lumpuh di atas rumput: itu gugur.
Ada hati yang jatuh dan melayang sebelum lumpuh di hadapanmu:itu aku

Di antara malam dan gelap, matahari memilih terlelap.
Lalu di antara rindu dan malu, aku memilih mencintaimu.

Ketika cinta, aku adalah retina yang tak habisnya mencari cahaya.
Seperti koklea yg menampung suara. Suara dan cahaya adalah aku dihidupimu

Aku yang mencintaimu, biarlah seperti air.
Mengalir ke hilir dan bertemu di hulu.
Diawali getir sampai aku menemukan rindu: kepadamu.

Tak perlu takut kepada aku yang mengejarmu.
Sebab aku, hanyalah debar yang perlu bersabar

Biarkan saja aku tetiba ada di sekitarmu, meski tanpa suara.
Sebab yang terjadi, detak sedang mencari jejak. Merenungkan aku yg merindukanmu

Perjalanan Ini

Tibatiba saja aku mengingat perihal kita yang silam. Saat beberapa waktu terpaksa berlalu. Tanpa ada rindu yang dilahirkan. Aku yang malu dan gagu dihadapanmu, terpaksa tersipusipu ditemani dinding kamar. Entah kapan waktu aku bisa berkata. Menerjemahkan perasaan di hadapanmu, adalah membaca kertas kosong. Tak ada yang bisa diutarakan kecuali tatapan yang tak mengenal pejaman.

Seringkali kita perlu menyapa hari lalu. Meski tak ada yang bisa diubah, ada keinginan yang berbuah. Dengan sedikit air mata, kita mencoba bahagia, bahwa kau dan aku, ada kerinduan yang musti ditumbuhkan. Rindu mengalir adalah kita yang hadir dalam pertemuan. Seperti daun gugur melayang lalu berlabuh terapung pada sungai, tak ada yang bisa menahan. Kadang terhempas dipermainkan gelombang, terombangambing tak berarah, tapi daun musti menuju tanah: untuk bertemu pada yang melahirkan. Kembali pada masa lalu, tak lebih sekadar pintu menuju rindu. Selebihnya, melepaskan kita dari raguragu.

Apa yang tersisa dari kebersamaan ini? Selain keraguan yang rimbun, juga beberapa keheningan yang sulit dipecah. Pertemuan kita hanyalah pertunjukkan satu babak. Hanya sekejap menikmati senja terlelap, selanjutnya kita masih saja menebaknebak keadaan. Ada banyak hujan dalam langit mataku, tertahan kelopak menunggu terungkap. Dan kita masih bahagia melanjutkan gagu, membiarkan mataku kian mendung, dan merelakan hujan tetap tertahan. Sampai kapan kita membiarkan kebersamaan tanpa perasaan. Bersetia dengan hampa, hanya melahirkan tangis. Tapi kau dan aku, masih saja tersenyum manis.

Perjalanan ini, masih seperti yang kita bayangkan. Tak ada pertengkaran yang kita takutkan. Hanya perasaan terpendam menahan rindu yang entah apa musti diwujudkan. Kebahagiaan kita, masih sekadar hening lampu temaram, diam menerangi kesepian. Kecuali matahari yang dulu kita tertawakan, perjalanan ini masih menyepi pada gelap. Langkah begitu ngilu, menghidupi sepi yang gelap dan enggan terlelap. Seandainya kita tak cukup kuat, perjalanan hanyalah menghidupi kesedihan. Kota dan hutan, adalah saksi kita habiskan hari. Membawa pada ramai dan bisu, bahwa kita berdua sedang berjalan pada ketidaktahuan yang dituju.

Mungkin kita musti bertanya, inikah jalan setapak menuju rumah yang kita bayangkan? Dengan bangunan sederhana dipenuhi dedaunan yang menyelimuti separuh atap. Dengan bulan penuh yang datang di tengah malam. Dan burung tiada henti bernyanyi tak pedulikan kita yang sedang bermainmain dengan bayi mungil. Aku sedikit ragu. Sebab selama ini kita telalu banyak gagu dalam perjalanan. Semua lambang begitu terang tergambarkan: kau dan aku adalah air mata yang beriringan mengairi lautan. Kadang bersamaan satu jalan, atau terpisah  berbeda jalan, kita bertemu dalam satu samudera.

Sejauh apapun kita mencoba berjalan. Dalam kebersamaan yang dipenuhi ragu dan rindu. Pertanyaan menjadi stasiun pemberhentian untuk kita merenungi perjalanan. Kau percaya aku setia padamu? Tanyakanlah itu kepadaku, agar hatiku berdebar dibuatnya. Ketika debar menjalar, aku yang mencintaimu, tak pernah bisa mengungkapkan keberadaanku di sampingmu.

Kita pun pernah mencoba tak berjumpa. Mengetahui sejauh mana kita mengingat nama.  Sekembalinya perasaan berpulang pada malam, aku hanya mengenal keadaan: tanpa kamu, tak bisa merindu, lalu gemetar menahan kalbu. Aku berkata pada daun basah, cobalah dengar sejenak sebuah kisah yang akan kusampaikan pada kulit tubuhmu. Perjalanan kita hanyalah sesingkat daun gugur dan mencium rerumputan. Angin kelak membuat kita goyang. Keadaan kelak membawa kita gamang.

Perjalanan ini adalah kita yang sedang mendamaikan hari. Ketika kau dan aku, menerjemahkan cinta dengan beragam cara. Rumah yang kita tuju sudah terbuka, teruntuk kita yang setia pada langkah.

Semenjak Aku Beranjak

Semenjak aku beranjak dari jarak. Aku perlahan mengenal detak. Bunyinya yang sepi takut untuk terungkap. Dan malu menyebutnya sebagai sesak. Bila bukan sengal nafas semakin menderu, entah selama apa aku menahan kalbu. Padahal air mata, bergelantung tak sabar terjun pada kedalaman tebing pipiku. Meluncur bebas sampai ke pinggiran bibir. Dengan basah dan terbata. Aku menyebut namamu dalam jarak dan ragu.

Dalam tubuhku, aku mengalami gempa dari bayang hampa. Patahannya terukir bersama rumit sungai arteri. Menembus katup dan mencampuraduk sirkulasi perasaan yang tak sempat menyebut sebuah nama. Segalanya runyam, ketika langit dada menjadi malam. Tenggelam dibanjiri darah yang pecah dari ketakutan mengenal sebuah wajah. Sampai akhirnya, gempa dan hampa, membawa basah pada gugup tubuh dan resah wajah.

Inilah mungkin keinginan bertemu yang sudah tak bisa lagi dihalang ragu. Seketika dada bergemuruh tak peduli jeda. Seketika darah menyerah mengalir dalam liuk, yang tak pernah kita mengerti, kemana ia berujung menemui denyut. Seandainya pertemuan tak perlu berhulu pada perpisahan, aku cukup menjadi darah dalam tubuhmu. Hanya sebatas darah yang cukup dengan memperhatikanmu tanpa pernah peduli kapan kau merasakanku. Aku yang sebetas darah, adalah padamu, dan kau adalah aku yang menjelma rindu.

Selama ini, aku adalah jarak dalam hembus nafasmu. Mengudara menemui lentera, menyalakan bianglala yang hendak bersua. Di penghujung langit, matahari tertelan bulan, menemui ajal menjelma sinyal kepada mata, yang tak pernah siap mengeja senja. Sejauh mana kita perlu siap, ketika raut sudah gugup dan mulut tertelan gagap.

Tak ada jalan lain, menemui dia, bukanlah perkara siap, tapilah sekadar sekuat apa aku menahan gegap.

Semenjak aku beranjak, aku perlahan mengerti arah gelisah menuntun langkah. Ada sekuntum kalimat yang aku nantikan berkembang dari tangkai bibirmu. Aku menjejak diantara gelap rongga dermaga yang hampa. Tak ada sampan, kecuali beberapa suara yang tersimpan. Tak ada layar terkembang, kecuali sedikit bisik angin dari laut yang menyampaikan kabar. Sebelum laut pasang, tiang penyangga kapal telah terpancang. Menjadi sandar teruntuk diriku yang bangun diantara sadar dan nanar. Kau yang kutuju, hanyalah rindu dan debar yang perlu ditenangkan.

Mungkin aku akan berjalan dengan lilin di tangan. Cahaya redup dan teduh, hidup sebagai peta penata langkah yang resah menuju wajahmu. Meniti sungai yang sepi dan syahdu dilantun kicau burung kenari. Deras air beradu batu, melahirkan riak menyanyikan jarak. Ini adalah sungai dari pantai yang tak pernah disinggahi. Tubuh berpasirnya perawan dari jejak seorang perempuan.  Harapan perlahan santun membangunkan dingin. Dan angin tak terekam keadaan, sungai masih sepi, dan aku perlahan sampai. Bilanya jemari tak beruas, tak mungkin aku ingin menemuimu. Sebab tangan tak tercipta sekadar hampar, dia ada untuk melahirkan pegangan.

Ketika jarak telah melahirkan nama. Beranjak adalah melahirkan cinta. Tak ada yang bisa aku sabarkan pada debar, kecuali kamu yang tegar, menunggu rindu saling bertemu.

Dan aku adalah benang sari, yang berlari beradu detik, untuk sampai kepada putik. Bagaimanapun angin menyesatkan, aku yang rindu, akan sampai ke rumahmu.

Semenjak aku beranjak, kau adalah detak. Kepergianmu adalah kehilangan detak. Dan nisan adalah semayamku.

Bila Saatnya Nanti

Bila saatnya nanti, kau dan aku akan kehilangan pengertian. Aku akan menangis tanpa air mata, sebab basahnya merembas ke dalam sukma. Mengairi seluruh telaga darah yang selama ini, merahnya indah dinyanyikan tembang pujian. Tak ada kabut dalam jiwa, kau pun mudah mengerti segala apa yang kumaksud. Meski akhirnya, segala yang kusebut tidaklah menjadi yang dimaksud. Saat itu, aku akan tetap berpikir, mungkin ada sedikit kabut dalam sukma, hingga kau mengira semua baikbaik saja. Dan ketika itu, kepadamu, aku tak pernah ingin hidangkan sungai di wajahku. Selamanya, wajahku adalah firdaus penghilang haus bagi jiwamu.

Hujan mengenal betul kemana hadirkan senyum. Tanah yang kehilangan wajah, pepohon yang tak lagi tunduk, berhenti memohon, sebab lapuk sudah ditanduk. Rintik akan menyapanya dalam deras terangkum detik. Dengan gerimis yang turun tak bersamaan. Menyapa genting dan ranting, sanggupkah dibasahi hujan yang berdatangan. Genting dan ranting tak akan pernah menolak gerimis. Tapi apalah kiranya, di balik genting dan ranting, ada saja yang tak siap menerima rintik. Sebabnya, tanah kehilangan wajah dan sungai berhenti melangkah.

Tanah dan sungai adalah kita, aku adalah tempatmu menjalani hidup, dan kau adalah kehidupanku. Suatu saat nanti, aku memang tak mengerti perihal keinginanmu. Tapi berhenti mengenalmu, adalah kematian cinta teramat awal. Dan aku berharap, tak perlulah sekalipun kau layarkan wajah yang bukan dirimu. Sebab itu menjadikanku tersesat mengenalmu. Ketika wajahmu menghilang, akupun hilang langkah. Kemana lagi aku akan pulang, ketika rumah tak lagi sediakan penawar lelah.

Kita memang hanya ingin mengerti, bahwa cinta tak pernah berujung. Membawa kaki dan hari memaksa tiba pada sebuah senja. Lalu perasaan, terengahengah menerka tanda yang sepertinya ada. Lahir rasa bahagia ketika kita menganggap ada sebuah tanda dan larut dalam menerka. Lahir rasa cinta, ketika mampu membaca tanda. Padahal tanda tak pernah ada, tapi kita begitu bahagia melahirkan makna dari tanda yang kita ciptakan sendiri.

Tanpa pernah terkira, kita hanya merasa sudah saling kenal, meski ternyata baru sekadar menapaki sungai yang dangkal. Airnya yang tenang, mengelabui kita seakan sungainya dalam. Selama ini kita tenang tanpa pernah saling memberi riak, meski akhirnya kita hanya mengenal sekadar pangkal. Berlarutlarut menjelajahi pinggiran sungai, dengan sakit batu kerikil mengail telapak kaki, dan kita enggan lanjut ke dalam. Pikir kita, barulah di batas sungai tapi sakit telah mengigit. Bilanya kita lanjut ke dalam, ku takut mati menjadi sambutan

Bila saatnya nanti, kau dan aku kehilangan pengertian. Kita hanya perlu diam. Membiarkan hati yang selama ini bungkam, terbenam pada sudut lain. Seperti kita yang tak selamanya sama, kau melihat senja di barat, dan aku menemukan senja di matamu. Begitulah kita seharusnya, ketika kau menemukan diriku dari sebuah perkenalan, maka aku menemukanmu dalam sebuah kebersamaan. Percayalah, aku akan belajar mengenalmu seperti kepercayaan yang kubenamkan dimatamu. Tak pernah hilang, sebab tenggelam dan terbitnya, ada pada matamu.

Bila saatnya nanti, yang terucap bukanlah yang ingin kuungkap. Kuharap kau tetap tabah mencaricariku dalam kumpulan perjalanan. Sebab yang terpendam, adalah kerendahan diriku yang terbenam, dan tak ingin kuterbitkan diufuk wajah ini. Padahal kau, adalah kekasihku yang mencintai senja dan fajar, kuingin menjadi keduanya yang muncul dalam benakmu.

Bila saatnya kita hanya bisa diam. Dan kikuk seketika sebab makna tak terungkap dengan baik. Janganlah berhenti memberi perhatian.

Kau dan aku, adalah perjalanan untuk saling kenal. Dan cinta adalah kita yang ingin terus lebih mengenal. Sebab mengenalmu, tak pernah selesai, meski ajal telah tergenggam.

Bila saatnya nanti nanti, kita tak bisa saling kenal. Cukuplah sebut namaku pada batinmu. Selamanya, kita akan sabar untuk mengenal.

 

SHARE

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan