Rupiah Melemah, Apakah Pertanda Krisis akan Datang oleh @msi_sohibuliman

kultwit sohibul iman, Rupiah Melemah, Apakah Pertanda Krisis akan Datang

Rupiah melemah atau dilemahkan?

Saya ingin berbagi pandangan terkait kondisi ekonomi terkini. @jokowi @Pak_JK @PKSejahtera @FPKSDPRRI. Semoga bermanfaat.

Rupiah terus melemah, berdampak buruk pada  perekonomian kita. Tapi apakah itu pertanda krisis akan datang?

Kondisi sekarang berbeda dengan kondisi 1998. Sistem keuangan dan fundamental ekonomi kita terlihat lebih baik. Tapi tetap harus waspada.

Terkait pelemahan rupiah, kita harus jeli membedakannya: apakah ia “sengaja dilemahkan” atau “ alamiah melemah”?

Untuk kasus Indonesia, Rupiah melemah bukan sengaja dilemahkan tapi karena memang melemah. Pemerintah dan otoritas terkait selalu menyalahkan faktor eksternal sebagai kambing hitam kondisi saat ini. Tepatkah?

Melemahnya Rupiah saat ini adalah kombinasi dari dua faktor: internal dan external. Daya saing ekonomi kita kurang kompetitif, ini tercermin dari defisit transaksi berjalan yang konsisten sejak akhir 2011-sekarang. Ini juga terlihat dari dangkalnya struktur industri kita. Transformasi struktural tidak berjalan. Kita mengalami deindustrialisasi.

Suplus neraca pembayaran selama ini tertolong oleh besarnya capital inflow dan boom harga komoditas yang menguntungkan ekspor kita. Ketika aliran modal yang masuk berkurang dan harga komoditas jatuh, baru sadarlah kita bahwa ada masalah struktural dengan ekonomi kita.

Implementasi kebijakan fiskal juga baik.Kenaikan harga BBM bersubsidi tidak  diiringi dengan mitigasi risiko yang cepat dan tepat. Gejolak harga-harga terutama di sektor pangan seperti lepas kontrol. Penegakan hukum lemah, mafia merajalela. Ini tidak  boleh dibiarkan.

Ancaman kekeringan dan krisis air yang sudah terjadi di beberapa tempat akan menambah beban persoalan, krisis pangan bisa jadi ancaman. Tambahan ruang fiskal dari pengurangan subsidi BBM belum optimal dieksekusi oleh pemerintah pusat-daerah, jadi sinyal kurang baik ke investor.

Restrukturisasi K/L baru ternyata tidak  mudah dan membutuhkan waktu lebih lama dari target. Kerja jadi terhambat. Soliditas koalisi pemerintah yang tampaknya mengalami gesekan satu sama lain mengirim pesan yang kurang bagus ke publik dan pasar. Perselisihan terbuka dalam kabinet kerja, mengganggu soliditas kabinet kerja dalam merespon kompleksitas permasalahan yang muncul.

loading...

Disamping faktor internal, memang ada faktor eksternal yang punya andil. Normalisasi quantitative easing dari AS dan rencana kenaikan suku bunga The FED memicu modal-modal di emerging countries balik ke AS.

Indonesia sebagai salah satu negara yang banyak menikmati aliran modal, juga terkena dampaknya, karena investor juga mulai meninggkalkan kita. Fenomena pembalikan aliran modal harusnya sudah diantisipasi jauh-jauh hari karena dalam APBN periode sebelumnya sudah sering disorot.

Ekonomi global tidak  menentu karena rencana kenaikan suku bunga The FED direspon oleh Jepang dan Uni Eropa dengan melemahkan mata uangnya. Terakhir bank sentral RRT juga mendevaluasi mata uangnya sebesar 2 persen. Ekonomi global guncang.

Sebagian menilai sekarang terjadi currency war: melemahkan mata uangnya untuk meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global. RRT melemahkan mata uangnya karena pasar sahamnya anjlok dan ekonominya sedang melambat. Mereka mau tingkatkan ekspornya.

Apa yang bisa otoritas lakukan untuk krisis ekonomi saat ini?

Siapkan protokol krisis dengan mengesahkan RUU JPSK sebagai antisipasi. Pemerintah dan DPR bisa mempercepat proses ini. Antisipasi kelangkaan likuiditas akibat currency dan maturity mismatch agar risiko utang LN swasta dan publik termitigasi. Antisipasi risiko disisi neraca perusahaan (balance sheet). Tahun 1998 kita terlalu fokus di makro, tapi lengah di mikro.

Siapkan jaring pengaman sosial yang baik, proteksi kelas menengah-bawah dan berikan insentif untuk perusahaan yang tunda PHK. Siapkan paket kebijakan yang kredibel. Lakukan kebijakan kontrasiklis yang tepat waktu, tepat jumlah dan tepat sasaran. Berikan arahan yang solid dan solutif sehingga public dan pasar meresponnya dengan sentimen positif, bukan sebaliknya.

Eksekusi dana APBN dan APBD yang masih idle.Perhatikan kualitas spending yang bisa ciptakan multiplier effect, jangan asal spending. Jaga daya beli masyarakat menengah-bawah karena mereka yang menjadi pendorong utama pertumbuhan lewat konsumsi. Berikan insentif.

Buat kebijakan yang tegas utk mendorong Devisa Hasil Ekspor (DHE) disimpan di dalam negeri. Perkuat kebijakan penggunaan transaksi dalam mata uang rupiah dan tindak tegas transaksi dalam negeri yang menggunakan USD.

Lakukan secara konsisten reformasi migas dan berantas mafia dengan penegakan hukum yang tegas agar tercipta deterrence effect. Serukan ajakan moral kepada seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama membeli produk-produk dalam negeri, kurangi impor.

Road map industriasliasi nasional harus dijalankan. Jadikan Indonesia sebagai basis produksi bukan sekedar target pasar produk global. Perbaiki kualitas modal manusia, infrastruktur, dan bangun Sistem Inovasi Nasional yang mumpuni. Tuntaskan konsolidasi demokrasi agar institusi2 demokrasi cepat matang dan efektif bekerja.

Semoga segala upaya yang pemerintah dan kita semua lakukan mampu mengelola kondisi ini lebih baik.

Sikap orang beriman adalah sikap orang yang optimis. Dia yakin ada jalan disetiap kesulitan yang ditemui. Allah Swt berfirman, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah: 5).

Demikian pandangan saya ttg situasi ekonomi nasional, semoga bermanfaat. Terimakasih sudah menyimak 🙂

Kultwit Mohamad Sohibul Iman @msi_sohibuliman 29/8/2015