Salah Satu Ciri Khas Orang Munafik Itu Mengaku Baik | @MalAkmalAkmal

Saya mau bahas salah satu ciri khas orang Ai??munafik, yaitu mengaku baik. orang-orang munafik memang berada Ai??dalam kategori tertentu di antara mu’min dan kafir.

Yang namanya orang Ai??munafik kita semua sudah paham; mereka mengaku beriman padahal tidak.
Soal keimanan saja mereka berdusta, apalagi soal yang lain. Maka, dusta adalah karakteristik khas orang Ai??munafik.

Ya tentu saja tidak semua yang berdusta langsung masuk kategori munafik. Tapi kalo dusta terus, patut dicurigai. Di awal Surah Al-Baqarah, karakter Ai??orang-orang munafik digambarkan dengan cara yang menarik.

Ini bagian awalnya, ayat 8-10 di Surah Al-Baqarah.

Kita akan kembali ke sana. Sekarang kita lompat dulu ke ayat 11-16.

Buat Ai??yang belum hapal, ini terjemahan ayat 11-12 di Surah Al-Baqarah.

Buat Ai??saya, deskripsi tersebut menarik. Ai??orang-orang munafik bukan hanya berlagak baik, tapi juga mengaku baik. Jika dinasihati, orang Ai??munafik hanya diam, dan bukan cuma membantah, tapi mereka mengaku baik dan tak pernah salah.

Jika dinasihati, orang Ai??munafik suka mendabik dada dan memuji diri sendiri.

mengaku baik tentu macam-macam bentuknya. Ada, misalnya, yang mengaku santun dan ramah, padahalsebaliknya. Ada yang mengaku ramah padahal kerjanya marah-marah. Tapi orang Ai??lain yang dituduh marah-marah terus. Ada yang mengaku intelek padahal kerjanya mengumpat. Meski kepergok mengumpat, tetap saja mengaku baik.

Ayat berikutnya juga harus disimak.

Orang-orang munafik bukan hanya mengaku beriman, tapi juga mengaku imannya lebih baik daripada yang lain. Bagi orang Ai??beriman, mengaku lebih beriman tentu saja tabu. Bertentangan dengan konsep taqwa.

Tapi orang Ai??munafik tidak ragu merendahkan orang Ai??lain, termasuk soal agama. Jaman sekarang, varian sikap ini banyak. Misalnya yang bilang, “halah kamu cuma modal sanlat, tau apa sih?”
Atau, “kamu ngaji aja gak bisa udah sok tau”, atau “kamu gak tau apa-apa karena gak pernah mondok!”

Kalimat-kalimat semacam itu, sebagaimana disinyalir oleh Qur’an, adalah ciri khasnya orang munafik. Ayat selanjutnya mengungkap apa yang ada di balik topeng kemunafikan.

Ayat ini menjelaskan tabiat orang Ai??munafik. Tentu saja mereka lakukan ini di belakang, dan takkan ngaku. Meskipun tidak mengakui, tapi ada 1 aspek yang terlihat jelas: orang Ai??munafik suka berolok2.
Mereka tidak kenal batasan soal olok-olokkan ini, karena tidak ada yang ‘asli’ dari perangainya. Keimanan saja dipalsukan!

Kepalsuan adalah karakteristik khasnya orang Ai??munafik. Maka kita bisa menyaksikan mereka mengaku baik padahalperilakunya tidak baik. Bahkan mereka tidak segan-segan menuduh orang Ai??lain berperilaku jahat, padahal merekalah yang terbukti sangat jahat.

Orang Ai??yang mengkritisinya dituduh mencaci maki, padahal lisannya sendirilah yang terbiasa dengan caci maki. Yang tidak sependapat dituduh anti perbedaan, padahaldengan tuduhan itu justru dialah yang jelas anti perbedaan.

Tiba saatnya kita membaca kembali ayat-ayat awal tadi.

Inilah ambisi Ai??orang-orang munafik yang sebenarnya.

Mereka ingin menipu Allah dan Ai??orang-orang beriman. Berhasilkah? Tidak!

Di sini kita belajar bahwa Ai??orang-orang beriman takkan tertipu. Mereka bisa mengenali Ai??orang-orang munafik ini. Tapi hanya orang Ai??beriman!

Tentu yang disebut beriman bukan cuma percaya saja. Beriman pada Nabi saw, misalnya, ya harus haqqul yaqiin sama kata-kata beliau. Nabi saw bilang “siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, berkatalah yang baik atau diam!”

Kita harus meyakini kata-kata ini. Artinya, kita harus yakin bahwa keimanan itu dibuktikan dengan kebaikan lisannya. Itu prinsip. Jangan ragukan.

Tidak ada orang Ai??beriman tapi lisannya kotor. Kita harus meyakini itu. Kalau tidak, maka kita mudah ditipu oleh Ai??orang-orang munafik. Kalau kita tidak berpegang teguh pada prinsi-prinsip agama, kita akan mudah dibuat bingung. Berpikir pun kontradiktif.

Taat tapi liberal. Santun tapi bermulut kotor. Ngaji tapi mesum. Ahlu sunnah tapi mesra sm syi’ah. Tanpa prinsip, jadi kontradiktif. Kalau berpikirnya kontradiktif, ya mudah dikibuli. Tapi kalau beriman betul-betul, insya Allah tidak.

Hal lain yang terbaca dari ayat ini adalah bahwa Ai??orang-orang munafik ini menipu diri sendiri. Kasihan.

Mereka sudah terlalu sering berdusta dan mengaku baik, sampai-sampai mereka lupa telah berdusta.
Hasilnya memangmenyedihkan. Salah satu efek sampingnya adalah paranoid.

Mereka menuduh orang Ai??lain radikal, sehingga benar-benar menyangka fitnahnya itu benar. Karena yang tidak sependapat dengannya dianggap radikal, maka mereka selalu merasa dikelilingi orang jahat.

Mereka sudah terlalu sering mempropagandakan bahwa lawan debatnya ingin mencelakakannya, sampai-sampai akhirnya mereka percaya juga. Maka Al-Qur’an pun menjelaskan kondisi kejiwaan mereka sbb…

Karena rajin berdusta, lama-lama jiwa mereka sakit. Salah satunya ya paranoid tadi. Makin lama makin parah.

Makin lama makin paranoid, jelas menderita. Tapi terus saja berdusta. Itulah Ai??orang-orang munafik yang mengaku baik meski jelas belangnya.

Semoga kita diberi petunjuk untuk menangkis tipu daya Ai??orang-orang munafik yang suka mengaku baik. Aamiin…

*Kultwit Akmal Sjafril @malakmalakmal 17/09/2015 14:50:54 WIB