SHARE

Jadi wartawan, kalau mulainya jadi wartawan harian (cetak), itu terasa sekali ditempa secara mental.
Saya sih beri saran ke kawan mahasiswa jurnalistik, ketika terjun ke pers, masuklah ke media harian (cetak). Tentu beda dengan  media mingguan.

Kalau bisa terjun ke media cetidak nasional. Media yang punya mekanisme kerja redaksi secara benar. Ada Kompas, Koran Tempo, MI, Republika

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,

Ritme kerja media cetidak harian, sangat berbeda dengan media harian. Juga berbeda polanya dengan TV dan Radio.

Menulis itu tentu berbeda dengan bicara (TV dan Radio). Tidak gampang menuturkan fakta-fakta di lapangan secara baik dan benar.

Orang seperti Saur Hutabarat, menulisnya bagus ketika jadi wartawan. Pas jadi pembawa acara di TV, gelagapan. Padahal, SH bicaranya bagus.

Jadi kontributor, tentu jadi sarana yang bagus untuk naik jadi wartawan. Tapi risiko kontributor terlalu banyak.

Orang seperti Andy F Noya ketika jadi pembawa acara KickAndy, cukup bagus. Tapi kalau menulis, dia kedodoran. Ini berbeda dengan  Saur Hutabarat.

Ada juga sosok seperti Laurens Tato (dulu suka nulis pidato dan tulisan-tulisanya Surya Paloh). Bicaranya gagap tapi kalau menulis, top dia.

Nah Elman Saragih ini contoh yang unik. Wartawan dan pendeta ini, tidak trampil menulis dan kalau jadi narsum editorial, pun pas-pasan bicaranya.

Sampai sekarang, saya berpendapat, kawans infotainment itu tidak masuk kategori wartawan. Mereka bekerja di PH dan PH menjual program ke TV.

Production House (PH) itu memperkerjakan banyak orang yang bertugas seperti wartawan. Mencari berita. Pihak PH kemudian jual ke TV.

Kawans yang bekerja di PH, tidak merasakan mekanisme kerja redaksi secara ketat. Polanya sangat berbeda. Saya merasakan dua pola kerja ini.

banyak kawans yang bekerja di infotainment, sering tidak mengindahkan kaidah jurnalistik. Memaksakan berita secara eksklusif. Abai etika.

Infotainment, itu memadukan dua hal, information dan entertainment, informasi dan hiburan. Tapi di Indonesia, beralih jadi murni gosip.

Infotainment itu soft news, provides information in a way that is entertaining to its viewer (Branston). Infotainment serius tapi santai.

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,
insurance
Loading...