Home Dunia Islam Hikmah Saling menasihati dari Kisah Harun Al Rasyid

Hikmah Saling menasihati dari Kisah Harun Al Rasyid

SHARE

Lahiya– Pada suatu hari, Khalifah Harun ar-Rasyid memberikan pengajaran pada Al-Ashma’i mengenai kaidah mencegah kemungkaran terhadap penguasa. Namun, tak disangka, datanglah setelah itu seorang ulama, yang bisa dikatakan, tidak tahu-menahu tentang pengajaran khalifah dan sekonyong-konyong menyembur Khalifah dengan nasihat.

Khalifah Harun ar-Rasyid sebenarnya punya kecenderungan mencintai para ulama dan dikenal suka duduk-duduk bersama mereka. Tapi, siapakah ulama yang tiba-tiba menyemprotnya dengan kasar itu?

Ar-Rasyid kemudian berkata, “Cobalah engkau berbicara dengan baik kepadaku.”

“Itu adalah yang paling minimal bagimu,” sahut ulama itu.

“Cobalah beritahu kepadaku,” Ar-Rasyid membalas, “siapa yang lebih jahat: aku atau Fir’aun?”

“Fir’aun,” jawab sang ulama.

Lalu, Ar-Rasyid kembali bertanya, “Siapakah yang lebih baik, engkau atau Musa bin Imran?”

“Musa.”

“Apakah engkau tidak tahu ketika Allah mengutus Musa dan saudaranya Harun kepada Fir’aun, Allah berpesan kepada keduanya, ‘Maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.’”

“Ya, aku tahu!”

loading...

Ar-Rasyid lalu berkata, “Itu adalah Fir’aun yang penuh dengan kesombongan dan kezaliman, sementara engkau datang kepadaku dengan keadaan begitu. Aku melaksanakan kewajiban-kewajibanku terhadap Allah, aku hanya menyembah kepada Allah.

Aku menaati hukum-hukum, perintah dan larangan-Nya, sedangkan engkau menasihatiku dengan nada yang keras dan kata-kata yang kasar tanpa tata krama dan akhlak. Engkau tidak akan aman dan selamat jika aku menangkapmu. Dan jika engkau telah menawarkan jiwamu, berarti engkau sudah tidak memerlukannya lagi.”

Sang ulama merasa tertegur dengan nasihat khalifah. “Aku telah bersalah, wahai Amirul Mukminin dan aku minta maaf.”

Ar-Rasyid menjawab, “Semoga Allah mengampunimu.”

Banyak kisah penuh pelajaran yang kita temukan dalam sejarah Islam. Ini adalah salah satunya. Betul bila dikatakan manusia berilmu berhak menasihati para pemimpin dan orang-orang yang kurang dalam ilmunya. Akan tetapi, bukan berarti banyaknya keilmuan mereka membuat hilang kemanusiaaannya. Mereka tetaplah insan biasa, yang bisa lupa dan salah.

Dalam menasihati, orang yang tengah memberikan nasihat—kita kerap temukan—tidak memerhatikan metodenya. Terlepas dari track record Harun ar-Rasyid, pendapatnya bisa diterima.

Jangan sampai kita mengesankan orang yang dinasihati pasti masuk neraka, sedang yang menasihati adalah pasti ahli surga. Tidak ada kultus dalam Islam.

Semua orang bisa mengucapkan kebenaran, sebagaimana mereka sangat mungkin pula melakukan khilaf dan butuh peringatan. [Fatih Zam/Mizanmag/Sumber: islamic.fiz.su]

SHARE

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan