Selama ini Hanya Bisa Marah dan Menuntut, Suami Sadar Salah Saat Lihat Benda Milik Istrinya ini

Posted on

Sepatutnya bagi seorang suami untuk memberikan perhatian kepada istrinya karena di balik kekurangannya, terdapat kelebihan yang pantas untuk disyukuri. Seperti halnya dalam sebuah kisah berikut ini dimana sang suami yang pemarah baru menyesali perbuatannya setelah melihat sandal istrinya.

Berikut kisah yang bisa menjadikan kita pribadi yang lebih bersyukur dan menghargai pasangan hidup.

Setelah Melihat Sandal Istrinya, Suami Yang Pemarah Ini Pun Menyadari Kesalahannya

Sore hari itu rasa lapar yang sudah terasa sejak pulang dari kantor mendadak hilang. Bukan karena kenyang, melainkan karena rasa jengkel dan kesal yang menghinggapi kepala. Betapa tidak, di saat perut telah keroncongan, kudapati masakan istri tidak sedikit pun memuaskan. Sayur sop yang kuharapkan bisa nikmat disantap bersama nasi, justru begitu manis layaknya kolak pisang. Menu lainnya pun rasanya sangat kacau.

“Ummi, kapankah kau bisa memasak dengan benar? Selalu saja keasinan, bila tidak maka kemanisan, kepedesan atau keasaman!”

Rasanya hati ini ingin sekali membentaknya sekuat tenaga.

“Sabar bi, Rasulullah pun tetap sabar terhadap masakan Aisyah dan Khadijah. Katanya ingin mencontoh Rasul?” ucap istriku dengan tenangnya.

“Iya, tapi Abi kan manusia biasa dan belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak akan bisa tahan dengan masakan yang rasanya kacau seperti ini!” kataku setengah berteriak.

Setelah mendengar ucapanku, istriku pun menundukkan kepalanya dan jika sudah begitu, biasanya air matanya bakalan mengalir.

Setelah sepekan keluar kota lantaran tugas dinas dari perusahaan, aku pun pulang karena rindu dengan istri dan suasana rumah. Namun apa yang kudapati justru sebaliknya. Rumah yang dibayangkan bisa menjadi tempat istirahat yang nyaman justru malah membuatku pusing kepala.

Bayangkan saja bagaimana rumah tersebut laksana kapal pecah dimana menumpuk pakaian yang belum disetrika, piring kotor berserakan dan cucian di ember yang baunya gak ketulungan lantaran sudah direndam namun belum juga dicuci.

Melihat kenyataan tersebut, aku pun hanya bisa mengurut dada sembari mengucapkan istighfar. Setelah kutemui istriku di kamarnya, aku pun berusaha meluapkan rasa kesalku.

“Ummi, bagaimana Abi tidak kesal jika keadaan rumah begitu berantakan tak terurus?” ucapku.

“Istri yang shalihah itu gak hanya ikut pengajian saja, namun juga bisa mengurus rumah dengan baik.”

Ternyata belum usai ku berbicara, istriku langsung menangis. Kusadari memang wanita begitu mudah menangis, namun aku berusaha untuk menenangkannya.

“Sudah diam Mi, gak boleh cengeng. Katanya ingin jadi istri shalehah? Istri shalehah gak boleh cengeng,” bujukku sembari melihat air matanya yang sudah mengalir ke pipi.

“Bagaimana Ummi tidak nangis, baru pulang sudah ngomel. Rumah ini memang gak keurus lantaran Ummi tidak mampu mengerjakan apapun. Jangankan untuk bekerja, berjalan saja Ummi susah. Belum lagi rasa mual dan muntah sehingga badan ini tidak bertenaga,” ucapnya sembari menangis.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan