SHARE
Loading...

Anak perempuan berusia 4,5 tahun ini dibawa ke rumah sakit karena mengalami pendarahan pada bagian bawah tubuhnya. Para dokter ini pun menemukan sesuatu yang sangat mengagetkan karena mereka menemukan bahwa ada 2 buah kaki plastik boneka Barbie di dalam tubuh anak ini karena anak ini memasukkan boneka tersebut ke dalam tubuhnya.

Setelah dokter mengeluarkan boneka tersebut dari tubuh si anak, dokter pun bertanya kepada sang anak, kenapa dia melakukan hal tersebut. Jawabannya tersebut mengiris hati setiap orang yang mendengarnya, “Boneka ini masuk ke dalam perutku dan sudah keluar. Dia sudah lahir, aku menjaganya dengan baik karena aku adalah mama yang baik.” Katanya anak ini berusaha memasukkan boneka Barbie secara paksa dari bagian bawah tubuhnya.

Anak tersebut pun langsung ke dalam pusat konsultasi anak-anak untuk menjalani perawatan. Penyakit yang diderita oleh anak ini berhubungan dengan kekerasan yang diterimanya dari kedua orangtuanya. Anak ini berkata sambil menangis, “Makan dipukul, mandi dipukul, bermain dipukul, bahkan pada saat tidur pun aku dipukul.” Tetapi orangtuanya hanya berkata bahwa anak ini tidak mendengar apa kata mereka kalau tidak dipukul. Pihak rumah sakit pun merasa miris mendengar perkataan orangtuanya, bagaimana cara mereka memperlakukan anak ini hingga dia menderita penyakit seperti ini?

Pada umumnya, anak-anak akan mempunyai tingkah laku yang ekstrim jika dia merasa perasaan gelisah, panik, tidak aman dan sakit hati dalam hatinya tidak dapat diselesaikan. Masokis adalah salah satu pelarian dari tekanan yang diterima oleh seseorang dan perilaku ini merupakan sarana mengekspresikan emosi yang sangat tidak baik. Trauma yang diderita oleh anak ini bisa membuat sakit yang dialami oleh anak tersebut menjadi berkurang dari kadar sakit yang seharusnya bisa dirasakannya.

Jangan memukul anak-anak dengan alasan apapun!

Loading...

“New York Time” juga melaporkan bahwa ada seorang wanita Asia yang menggunakan sapu untuk memukul anaknya yang berusia 8 tahun hanya karena dia tidak mengerjakan tugasnya hingga bekas luka pun tertinggal di seluruh tubuhnya. Pada hari kedua, guru di sekolahnya pun melaporkan kejadian ini kepada pusat perlindungan anak. Polisi pun langsung mendatangi rumah anak tersebut pada malam tersebut dan membawa ketiga anak-anaknya pergi untuk ditempatkan di pusat adopsi anak.

Berdasarkan sudut pandang psikologis, perilaku orangtua yang kasar dan emosian akan mempengaruhi kepribadian sang anak menjadi pemarah dan tidak sabaran, tingkah laku mereka pun menjadi sangat buruk, bahkan anak tersebut juga akan berlaku kasar terhadap anak lainnya. Anak tersebut juga akan sangat sulit membangun relasi yang baik dengan orang di sekitarnya. Anak tersebut akhirnya mencari cara untuk menyakiti dirinya sendiri untuk menenangkan ketakutan dan kegelisahan yang ada dalam hatinya. Hal ini tentu saja berakibat fatal pada keadaan psikologis sang anak.

Berikut adalah pengaruh pada kondisi anak yang sering mengalami kekerasan:

Anak tersebut akan menjadi pemarah

Anak-anak itu sangat senang meniru perilaku orangtuanya. Jika sang orangtua selalu melakukan kekerasan kepada sang anak, maka anak tersebut akan belajar untuk memukul orang lain. Bahkan anak ini akan melampiaskan kemarahannya kepada binatang.

Anak tersebut akan menjadi pemberontak

Jika sang orangtua sering marah-marah dan memukul anaknya, maka anak tersebut akan menjadi pemberontak dan semakin sering melakukan pemberontakan terhadap orangtuanya. Hubungan orangtua dan anak pun bisa menjadi buruk

Rasa hormat anak yang sangat rendah

Hati anak-anak itu lebih lemah daripada orang dewasa, oleh karena itu, jika orangtuanya selalu membuat sang anak sakit hati, anak ini pun akan kehilangan rasa hormatnya terhadap orang lain. Dia pun akan kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri dan mengasihani dirinya sendiri. Menggunakan kekerasan untuk mendidik para anak hanya membuat kepercayaan diri sang anak hilang.

Sebenarnya cara mendidik bukannya tidak boleh, tetapi para anak yang menerima perlakuan kasar dari orangtuanya ini hanya akan membuat sang anak trauma. Oleh karena itu, sebagai orangtua pun harus memperhatikan poin-poin yang sudah disebutkan di atas! [ce]

Loading...
Loading...