Sistem Imunitas Tubuh Manusia

Posted on

Sistem Imunitas Tubuh Manusia Selamat datang di Lahiya situs (blog) sederhana yang berbagi ilmu dan pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Dan, pada kesempatan kali ini, kami bakal sharing pengetahuan mengenai Sistem Imunitas Tubuh Manusia, yang terdiri dari Mekanisme Pertahanan Tubuh, Antigen dan Antibodi, dan Respon Kekebalan.

Mekanisme Pertahanan Tubuh

Tubuh memiliki dua susunan kekebalan, yakni kekebalan nonspesifik serta kekebalan spesifik. Bakteri, virus, serta zat asing mesti melalu system kekebalan nonspesifik terlebih dulu. Bila kekebalan nonspesifik tidak dapat menghancurkannya, selanjutnya zat penginfeksi itu bakal menghadapi system kekebalan spesifik.

Kekebalan Nonspesifik (Bawaan)

System kekebalan bawaan dipunyai oleh seseorang mulai sejak lahir. Kekebalan bawaan bersifat nonspesifik, artinya system kekebalan ini senantiasa bersiap untuk menghadapi infeksi apa pun yang masuk kedalam tubuh. Mekanisme kekebalan ini efisien pada mikroorganisme tanpa terjadinya pengalaman kontak sebelumnya dengan organisme itu.

Kekebalan nonspesifik ada yang bersifat eksternal, ada juga yang bersifat internal. Kekebalan eksternal disebut juga dengan sebagai perlindungan permukaan, lantaran melindungi dibagian luar tubuh. Kekebalan internal lebih bersifat perlindungan seluler serta kimiawi.

Kekebalan Eksternal

Kekebalan eksternal terdiri dari jaringan epitelium yang melindungi tubuh kita (kulit serta jaringan mukus) bersama sekresi yang dihasilkannya. Tidak hanya sebagai penghambat masuknya penyakit, epitelium itu menghasilkan beberapa zat pelindung. Contohnya, hasil sekresi kulit bersifat asam hingga beracun untuk bakeri. Air ludah (saliva) serta air mata dapat juga membunuh bakteri. Mukus (lendir) menjebak mikroorganisme hingga tidak bisa masuk kedalam saluran pencernaan serta pernafasan.

Kekebalan Internal

Kekebalan internal bakal melawan bakteri, virus, atau beberapa zat asing yang dapat melalui kekebalan eksternal. Kekebalan internal berbentuk rangsangan kimia serta melibatkan beberapa sel fagositik, sel natural killer, protein anti mikroba yang melawan zat asing yang sudah masuk dalam tubuh, dan peradangan (inflamasi) serta demam.

Beberapa sel fagositik yang bertindak dalam kekebalan internal diantaranya neutrofil, makrofag, serta eosinofil. Neutrofil bakal bersifat fagositik (mengonsumsi) bila berjumpa dengan materi penginfeksi didalam jaringan. Makrofag bakal berlekatan dengan polisakarida di permukaan tubuh mikroba serta lantas menelan mikroba itu. Eosinofil bertugas untuk menyerang parasit yang memiliki ukuran besar, contohnya cacing.

Sel alami killer menyerang sel parasit lewat cara mengeluarkan senyawa penghancur yang disebut dengan perforin. Sel natural killer bisa melisiskan serta membunuh sel kanker dan virus saat sebelum system kekebalan adaptif diaktifkan. Protein antimikroba meningkatkan pertahanan tubuh lewat cara menyerang mikroorganisme secara langsung ataupun lewat cara menghambat reproduksi mikroorgnisme. Satu diantara protein antimikroba yang penting untuk melindungi sel dari serangan virus yaitu interferon.

Kekebalan internal yang lain yaitu tanggapan peradangan (inflamasi) serta demam. Peradangan dipicu oleh trauma fisik, panas yang berlebihan, infeksi bakteri, dan sebagainya. Peradangan berbentuk lokal atau cuma muncul pada daerah terinfeksi sedangkan demam menyebar ke semua tubuh.

Kekebalan Spesifik (Adaptif)

Bila bakteri, virus, ataupun zat asing sukses melalui system kekebalan bawaan (nonspesifik), berikutnya beberapa zat asing itu bakal dihadapi oleh system kekebalan adaptif. Kekebalan adaptif bersifat spesifik, artinya mekanisme pertahanannya tergantung pada pembentukan tanggapan imun pada mikroorganisme spesifik yang memberi rangsangan.

Kekebalan adaptif bisa bersifat alamiah ataupun buatan. Kekebalan adaptif alami pasif diperoleh oleh bayi dari ibunya dalam kandungan, sedangkan kekebalan adaptif aktif diperoleh contohnya lewat infeksi (menderita penyakit terlebih dulu). Kekebalan adaptif buatan pasif berbentuk transfer antibodi dari orang lain, sedangkan kekebalan adaptif buatan aktif didapat lewat imunisasi.

Bersumber pada sel yang ikut serta dalam mekanismenya, kekebalan adaptif dibagi jadi dua, yakni kekebalan humoral serta kekebalan yang diperantarai sel (cell-mediated immunity).

Kekebalan Humoral

Unsur yang paling berperan dalam kekebalan humoral yaitu antibodi yang dihasilkan oleh beberapa sel B limfosit. Antibodi diketemukan dalam humor (cairan) tubuh, contohnya darah serta cairan limfa serta berfungsi mengikat bakteri dan toksin bakteri, dan menandai virus untuk dihancurkan selanjutnya oleh sel darah putih.

Kekebalan yang Diperantarai Sel

Faktor paling penting dalam kekebalan ini yaitu beberapa sel hidup, yakni beberapa sel T limfosit. Beberapa sel ini secara aktif melawan bakteri serta virus yang ada di didalam sel tubuh yang terinfeksi. Beberapa sel ini juga dapat melawan protozoa, jamur, serta cacing parasit.

Antigen

Antigen yaitu sebuah substansi kimia yang dapat merangsang system imun (kekebalan) untuk menyebabkan tanggapan spesifik. Contoh antigen yaitu sisi luar kapsul atau dinding sel bakteri. Antigen disebut juga dengan imunogen.

Antigen mempunyai dua ciri penting, yakni sebagai berikut ini:

  • Imunogenisitas, yakni kekuatan untuk memicu perbanyakan antibodi serta limfosit spesifik
  • Reaktivitas, yakni kekuatan untuk bereaksi dengan limfosit yang teraktivasi serta antibodii yang dilepaskan oleh reaksi kekebalan.

Tidak hanya antigen ada juga molekul yang disebut dengan hapten. Hapten yaitu substansi kimiawi sederhana atau satu sisi dari antigen yang tidak menyebabkan tanggapan kekebalan, namun bila hapten berikatan dengan protein tubuh, system kekebalan tubuh bakal mengenalinya sebagai substansi berbahaya.

Antibodi

Antibodi yaitu protein yang dibentuk sebagai tanggapan pada sebuah antigen serta secara khusus mengadakan reaksi dengan antigen itu. Antigen tidak bisa langsung menghancurkan antigen. Fungsi paling utama antigen yaitu menonakitfkan serta menandai antigen untuk penghancuran lebih lanjut. Biasanya, bila antibodi bertemu dengan antigen bakal terbentuk kompleks antigen-antibodi.

Antibodi disebut juga dengan imunoglobulin. Ada lima imunoglobulin (Ig) paling utama, yakni IgG, IgA, IgM, IgD, serta IgE.

Beberapa jenis immunoglobulin

Imunoglobulin G (IgG)

Imunoglobulin G yaitu hanya satu imunoglobulin yang dapat lewat plasenta. igG adalah kekebalan pasif yang diberikan dari ibu pada anakanya. IgG mrupakan pertahanan paling utama pada infeksi untuk bayi pada minggu-minggu pertama kehidupannya yang diperkuat oleh IgG dari kolostrum.

Imunoglobulin A (IgA)

Imunoglobulin A adalah satu diantara imunoglobulin yang diketemukan dalam sekresi eksternal, contohnya pada mukosa saluran napas, intestinal, urin, genital, saliva, air mata, serta air susu ibu. Imunoglobulin A bisa menetralkan virus serta menghambat penempelan pada sel epitelium.

Imunoglobulin M (IgM)

Imunoglobulin M adalah antibodi yang disintesis pertama kalinya dalam stimulus antigen. Sintesis IgM dilakukan oleh fetus saat intrauterin. Oleh lantaran tidak bisa melalui plasenta, IgM bayi yang baru lahir adalah tanda tanda infeksi intrauterin.

Imunoglobulin D (IgD)

Imunoglobulin D pertama kalinya diketemukan sebagai protein mieloma. IgD senantiasa menempel pada permukaan luar sel limfosit B. IgD berperan sebagai reseptor antigen sel limfosit B serta penting untuk aktivasi sel B itu.

Imunoglobulin E (IgE)

IgE disekresikan oleh sel plasma di kulit, mukosa, dan tonsil. Bila sisi ujung IgE terpicu oleh antigen, akan mengakibatkan sel melepas histamn yang mengakibatkan peradangan peradangan serta reaksi alergi.

Respon Kekebalan

Bila tubuh terpapar oleh sebuah antigen, bakal terjadi respons kekebalan. Perkenalan pertama dengan sebuah antigen bakal membangkitakn respons kekebalan primer. Bila setelah beberapa saat, seseorang terkena antigen yang sama, bakal muncul respons kekebalan sekunder.

Respon Kekebalan Primer

Sesudah antigen masuk kedalam tubuh, antibodi tidak segera terbentuk didalam serum darah. Masa-masa antara pemberian antigen serta dibentuknya antibodi disebut dengan periode laten atau periode induksi. Lama periode laten kurang lebih 6-7 hari. Pada periode laten, antigen di sampaikan pada beberapa sel imunokompeten, yakni sel B yang menghasilkan antibodi. Pada periode ini terjaid proliferase serta diferensiasi sel B. Sesudah periode laten, lantas masuk pada periode biosintesis. Fase awal dari periode boisintesis yaitu fase logaritmis yang ditandai oleh meningkatnya jumlah antibodi secara logaritmis didalam tubuh, diikuti fase mantap, yakni dimana kecepatan sintesis protein sama juga dengan kecepatan katabolismenya, serta diakhiri fase penurunan, yakni di mana katabolismen antibodi lebih cepat dari pada sintesisnya.

Respons Kekebalan Sekunder

Pertemuan kedua dengan antigen yang sama yang pernah diberikan di awal bakal mengembalikan tanggapan imun sekunder. Saat antigen ini terkena pada tubuh, antibodi yang masihlah ada di dalam serum bakal berkurang, fase ini disebut dengan fase negatif. Antigen serta antibodi dalam serum lantas bakal membentuk kompleks antigen-antibodi. Bila dosis antigen sedikit, tanggapan kekebalan yang kuat tidak bakal terjadi. Hal itu mungkin saja lantaran serum antigen itu sudah dipakai untuk membentuk kompleks antigen-antibodi. Demikian sebaliknya, bila dosis antigen cukup banyak, beberapa sel B yang tersisa bakal membentuk antibodi hingga mucullah respons sekunder.

Perbedaan Respons Primer serta Respons Sekunder

Pada momen stimulasi respons primer, beberapa sel prekursor membelah diri serta mengadakan diferensiasi jadi beberapa sel pembentuk antibodi yang menghasilkan IgM serta IgG. Sepanjang proses ini terbentuk beberapa sel memori yang jumlahnya masihlah terbatas. Menyusul respons sekunder, beberapa sel yang sensitif pada antuigen jumlahnya bertambah cepat hingga sintesis antibodi bertambah.

Respons kekebalan sekunder yang muncul berbentuk lebih cepat, lebih tahan lama, serta lebih efisien dariada respons sebelumnya. Hal semacam itu dikarenakan system kekebalan sudah lebih siap pada antigen lantaran beberapa sel memori bersiap melawan antigen. Beberapa sel memori ini selanjutnya bakal menyebabkan memori imunologis.

 

Nah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, Mengenai Sistem Imunitas Tubuh Manusia. Mudah-mudahan ilmunya bisa bermanfaat untuk kita semua, ya. Dan, jika masih ada yang belum dimengerti, silakan sahabat menyampaikan pertanyaan pada kotak komentar di bawah ini. Terimakasih sudah bertandang ke softilmu, jangan lupa like, follow, dan komentarnya, ya.

 

Sumber: