SHARE

Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tumpang, Malang, Jawa Timur berinisial RA, 15 tahun, merasakan ketakutan yang sangat. Penyebabnya, uang tabungan yang selama ini dia setorkan mencapai Rp 42 juta, tidak diakui oleh pihak sekolah.

Kronologi itu bermula ketika siswi berinisial RA, 15 tahun, menabung sejak kelas IX. Tetapi, ketika RA lulus madrasah, uang yang selama ini dia tabung mendadak tidak diakui. Guru berinisial W mengatakan kepada RA uang yang ditabungnya tak bisa diambil. Ketika ditagih, sang guru selalu mengelak.

“Bu, guru nggak mau mengembalikan uang saya. Ibu nanya uangnya terus,” kata RA.

Bingung dengan kondisi yang dia alami, RA memutuskan ingin mengakhiri hidupnya. Dia menelan sejumlah obat, salah satunya obat sakit kepala dengan minuman bersoda. Beruntung, nyawa RA yang nyaris meregang berhasil diselamatkan.

Menurut ibunya, Wijiyati, selama ini dia tidak pernah diberi buku tabungan oleh guru maupun pihak sekolah. Setiap ditagih buku tabungan, guru tersebut berdalih sudah mencatat di buku catatan miliknya.

“Saya sih selama ini percaya saja, soalnya dulu waktu kelas 1 dan 2 (VII dan VIII) juga nabung nggak dikasih buku tabungan, namun uangnya mesti dikasih, kok pas kelas 3 (IX) ruwet,” kata dia. [lt]

Loading...