Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan

Posted on

Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan Selamat datang di Lahiya, situs (blog) sederhana yang berbagi ilmu dan pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Dan, pada kesempatan kali ini, kami bakal sharing pengetahuan mengenai Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan. Langsung saja ke postingan kita, cekidot.

Jaringan Tumbuhan

Tumbuhan tersusun atas banyak sel. Beberapa sel itu pada tempat spesifik membentuk jaringan. Jaringan yaitu sekumpulan sel yang memiliki susunan serta manfaat yang sama serta terikat oleh bahan antarsel membentuk sebuah kesatuan.

Bersamaan dengan step perubahannya, jaringan penyusun tubuh tumbuhan bisa dibedakan jadi dua jenis, yakni jaringan meristem serta jaringan dewasa.

Jaringan Meristem

Jaringan meristem yaitu jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional, artinya dapat secara terus-menerus membelah diri untuk menaikkan jumlah sel tubuh. Sel meristem umumnya adalah sel muda serta belum mengalami diferensiasi serta spesialisasi. Ciri sel meristem umumnya berdinding tipis, banyak terkandung protoplasma, vakuola kecil, inti besar, serta plastida belum matang. Bentuk sel meristem biasanya sama ke semua arah, umpamanya seperti kubus.

Bersumber pada letaknya dalam tumbuhan, ada 3 jenis meristem, yakni meristem apikal, meristem lateral, serta meristem interkalar. Meristem apikal ada di ujung batang serta ujung akar.

  • Meristem Primer

Meristem primer yaitu meristem yang berkembang dari sel embrional. Meristem primer ada umpamanya pada kuncup ujung batang serta ujung akar. Meristem primer mengakibatkan perkembangan primer pada tumbuhan. Perkembangan primer memungkinkan akar serta batang jadi tambah panjang. Dengan hal tersebut, tumbuhan jadi tambah tinggi.

Meristem primer bisa dibedakan jadi daerah-daerah dengan tingkat perubahan sel yang tidak sama. Pada ujung batang ada meristem apikal. Di dekat meristem apikal ada promeristem serta ujung meristematik lain yang terdiri dari sekumpulan sal yang sudah mengalami diferensiasi hingga tingkat spesifik.

Daerah meristematik di belakang promeristem memiliki tiga jaringan meristem, yakni protoderma, prokambium, serta meristem dasar. Protoderma bakal membentuk epidermis, prokambium bakal membentuk jaringan ikatan pembuluh (xilem primer serta floem primer) serta kambium. Meristem dasar bakal membentuk jaringan dasar tumbuhan yang mengisi empelur serta korteks seperti parenkima, kolenkima, serta sklerenkima. Tumbuhan monokotil cuma mempunyai jaringan primer serta tidak mempunyai jaringan sekunder. Pada tumbuhan dikotil ada jaringan primer serta jaringan sekunder.

  • Meristem Sekunder

Meristem sekunder yaitu meristem yang berkembang dari jaringan dewasa yang sudah mengalami diferensiasi serta spesialisasi (udah berhenti pertumbuhannya) namun kembali bersifat embrional. Contoh meristem sekunder yaitu kambium gabus yang ada pada batang dikotil serta Gymnospermae, yang bisa terbentuk dari beberapa sel korteks dibawah epidermis.

Jaringan kambium yang terdapat diantara berkas pengangkut (xilem serta floem) pada batang dikotil adalah meristem sekunder. Sel kambium aktif membelah, ke arah dalam membuat xilem sekunder serta ke luar membuat floem sekunder. Oleh karena itu, batang tumbuhan dikotil jadi tambah besar. Demikian sebaliknya batang tumbuhan monokotil tidak memiliki meristem sekunder hingga tidak mengalami perkembangan sekunder. Begitulah kenapa batang monokotil tidak bisa jadi tambah besar.

Jaringan Dewasa

Jaringan dewasa adalah jaringan yang terbentuk dari diferensiasi serta spesialisasi beberapa sel hasil pemisahan jaringan meristem. Diferensiasi yaitu perubahan bentuk sel yang sesuai dengan manfaatnya, sedangkan spesialisasi yaitu pengkhususan sel untuk mensupport sebuah manfaat tertentu. Jaringan dewasa biasanya udah tidak mengalami perkembangan lagi atau lalu berhenti pertumbuhannya. Jaringan saat ini ada yang disebut dengan sebagai jaringan permanen. Jaringan permanen yaitu jaringan yang sudah mengalami diferensiasi yang sifatnya tidak bisa balik (irreversibel). Pada jaringan permanen sel-selnya tidak lagi mengalami pemisahan. Jaringan dewasa mencakup jaringan epidermis, gabus parenkima, xilem, serta floem. Tidak hanya itu ada sisi tumbuhan spesifik yang mempunyai jaringan kolenkima serta sklerenkima.

  • Epidermis

Jaringan epidermis ini ada paling luar pada alat-alat tumbuhan primer seperti akar, batang daun, bunga, buah, serta biji. Epidermis tersusun atas satu susunan sel saja. Memiliki bentuk berbagai macam, contohnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau memperlihatkan bentuk lain. Epidermis tersusun amat rapat hingga tidak ada sebagian ruangan antarsel. Epidermis adalah sel hidup lantaran masihlah memiliki kandungan protoplas, meskipun dalam jumlah sedikit. Ada vakuola yang besar di dalam serta tidak memiliki kandungan plastida.

Jaringan Epidermis

  • Jaringan epidermis daun

Jaringan epidermis daun ada pada permukaan atas serta bawah daun. Jaringan itu tidak berklorofil terkecuali pada sel penjaga (sel penutup) stomata. Pada permukaan atas daun ada penebalan dinding luar yang tersusun atas zat kuting (turunan senyawa lemak) yang di kenal sebagai kutikula, contohnya pada daun nangka. Tidak hanya itu ada yang membentuk susunan lilin membuat perlindungan daun dari air, contohnya pada daun pisang serta daun keladi. Ada juga yang membentuk bulu-bulu halus di permukaan bawah sebagai alat perlindungan, contohnya pada daun durian. Sekumpulan sel epidermis membentuk stomata atau mulut daun. Stomata adalah sebuah celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup atau sel penjaga. Lewat mulut daun ini terjadi pertukaran gas.

  • Jaringan epidermis batang

Seperi halnya jaringan epidermis daun, jaringan epidermis batang ada yang mengalami modifikasi membentuk susunan tebal yang di kenal sebagai kutikula, membentuk bulu sebagai alat perlindungan.

  • Jaringan epidermis akar

Jaringan epidermis akar berperan sebagai pelindung serta tempat terjadinya difusi serta osmosis. Epidermis akar beberapa bermodifikasi membentuk tonjolan yang disebut dengan rambut akar serta berperan untuk menyerap air tanah.

Stomata yaitu celah yang ada pada epidermis organ tumbuhan. Pada seluruh tumbuhan yang berwarna hijau, susunan epidermis memiliki kandungan stomata paling banyak pada daun. Stomata terdiri atas bebrapa sisi yakni sel penutup, sisi celah, sel tetangga, serta ruang udara dalam. Sel tetangga bertindak dalam perubahan osmotik yang mengakibatkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah. Sel penutup bisa terdapat sama tinggi dengan permukan epidermis (panerofor) atau lebih rendah dari permukaan epidermis (kriptofor) serta lebih tinggi dari permukaan epidermis (menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup umumnya berwujud seperti ginjal apabila diliat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumput-rumputan mempunyai susunan khusus serta seragam dengan sel penutup berwujud seperti halter serta dua sel tetangga ada masing-masing di samping satu sel penutup.

Jaringan Gabus

Jaringan gabus atau periderma yaitu jaringan pelindung yang dibentuk untuk menggantikan epidermis batang serta akar yang sudah menebal akibat perkembangan sekunder. Jaringan gabus terlihat jelas pas tetumbuhan dikotil serta Gymnospermae.

Susunan jaringan gabus terdiri atas felogen (kambium gabus) yang bakal membentuk felem (gabus) ke arah luar serta feloderma ke arah dalam. Felogen bisa dihasilkan oleh epidermis, parenkima dibawah epidermis, kolenkima, perisikel, atau parenkima floem, bergantung spesies tumbuhannya. Pada penampang memanjang, beberapa sel felogen berupa sisi empat atau sisi banyak serta bersifat meristematis. Beberapa sel gabus (felem) dewasa berupa nyaris prisma, mati, serta dinding selnya berlapis suberin, yakni semacam selulosa yang berlemak. Beberapa sel feloderma mirip sel parenkima, berupa kotak serta hidup. Jaringan gabus berperan sebagai pelindung tumbuhan dari kehilangan air. Pada tumbuhan gabus (Quercus suber), susunan gabus bisa bernilai ekonomi, umpamanya untuk tutup botol.

Parenkima

Di bagian dalam epidermis ada jaringan parenkima. Jaringan ini ada dari mulai bagian dalam epidermis sampai ke empulur. Parenkima tersusun atas beberapa sel bersegi banyak. Pada sel yang satu dengan sel yang lain ada ruang antar sel.

Parenkima disebut juga dengan jaringan dasar lantaran jadi tempat untuk jaringan-jaringan yang lain. Parenkima ada pada akar, batang, serta daun, mengelilingi jaringan yang lain. Contohnya pada xilem serta floem.

Tidak hanya sebagai jaringan dasar, jaringan parenkima berperan sebagai jaringan penghasil serta penyimpan cadangan makanan. Contoh parenkima penghasil makanan yaitu parenkima daun yang mempunyai kloroplas serta bisa melakukan fotosintesis. Parenkima yang mempunyai kloroplas disebut dengan sklerenkima. Hasil-hasil fotosintesis berwujud gula diangkut ke parenkima batang atau akar. Di parenkima batang atau akar, hasil-hasil fotosintesis itu disusun jadi bahan organik lain yang lebih kompleks, contohnya tepung, protein, atau lemak. Parenkima batang serta akar pada beberapa tumbuhan berperan untuk menaruh cadangan makanan, contohnya pada ubi jalar (Ipomoea batatas). Ada juga sel parenkima yang menaruh cadangan makanan pada katiledon (daun lembaga biji) seperti pada kacang buncis (Phaseolus vulgaris).

Jaringan Penguat

Untuk memperkokoh badannya, tumbuhan membutuhkan jaringan penguat atau penunjang yang disebut juga dengan sebagai jaringan mekanik. Ada dua jenis jaringan penguat pegat yang menyusun tubuh tumbuhan, yakni kolenima serta sklerenkima. Kolenkima memiliki kandungan protoplasma serta dindingnya tidak alami signifikasi. Sklerenkima berbeda dari kolenkima, lantaran sklerenkima tidak memiliki protoplasma serta dindingnya mengalami penebalan serta zat lignin (lignifikasi).

Kolenkima

Sel kolenkima adalah sel hidup serta memiliki karakter serupa parenkima. Sel-selnya ada Yat memiliki kandungan kloroplas. Kolenkima biasanya terdapat di dekat perukaan serta dibawah epidermis pada batang, tangkai daun, tangkai bunga, serta ibu tulang daun. Kolenkima tidak sering ada pada akar. Sel kolenkima umumnya memanjang sejajar dengan pusat organ tempat kolenkima itu ada.

Dinding sal kolenkima memiliki kandungan selulosa, pektin, serta hemiselulosa. Dinding sel kolenkima mengalami penebalan yang tidak rata. Penebalan itu terjadi pada beberapa sudut sel, serta disebut dengan kolenkima sudut.

Manfaat jaringan kolenkima yaitu sebagai penyokong di bagian tumbuhan muda yang tengah tumbuh serta pada tumbuhan herba.

Sklerenkima

Jaringan sklerenkima terdiri atas beberapa sel mati. Dinding sel sklerenkima amat kuat, tidak tipis, serta memiliki kandungan lignin (komponen paling utama kayu). Dinding sel memiliki penebalan primer serta lantas penebalan sekunder oleh zat lignin. Menurut bentuknya, sklerenkima dibagi jadi dua, yakni serabut sklerenkima yang berupa seperti benang panjang, serta sklereid (sel batu). Sklereid ada pada berkas pengangkut, diantara beberapa sel parenkima, korteks batang, tangkai daun, akar, buah, serta biji. Pada biji, sklereid kerap kali adalah sebuah susunan yang ikut menyusun kulit biji.

Manfaat sklerenkima yaitu memperkuat sisi tumbuhan yang udah dewasa. Sklerenkima juga melindungi beberapa sisi lunak yang lebih dalam, seperti pada kulit biji jarak, biji kenari serta tempurung kelapa.

Jaringan Pengangkut

Xilem

Xilem berperan untuk menyalurkan air serta mineral dari akar ke daun. Elemen xilem terdiri dari unsur pembuluh, serabut xilem, serta parenkima xilem. Unsur pembuluh ada dua, yakni pembuluh kayu (trakea) serta trakeid. Trakea serta trakeid adalah sel mati, tidak mempunyai sitoplasma serta cuma tersisa dinding selnya. Beberapa sel itu bersambungan hingga membentuk pembuluh kapiler yang berperan sebagai pengangkut air serta mineral. Oleh lantaran pembuluh yang membentuk berkas, dapat dikatakan sebagai berkas pembuluh. Diameter xilem bervariasi bergantung pada spesies tumbuhan, namun umumnya 20-700 µm. Dinding xilem mengalami penebalan zat lignin.

Trakea adalah sisi yang paling penting pada xilem tumbuhan bunga, trakea terdiri atas beberapa sel berupa tabung yang berdinding tebal lantaran adanya susunan selulosa sekunder serta diperkuat lignin, sebagai bahan pengikat. Diameter trakea umumnya lebih besar dari pada diameter trakeid. Ujung selnya yang terbuka disebut dengan perforasi atau lempeng perforasi. Trakea cuma ada pada Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) serta tidak ada pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) terkecuali anggota Gnetaceae (kelompok melinjo).

Sisi trakeid bisa dibedakan dari trakea lantaran ukurannya lebih kecil, meskipun dinding selnya juga tebal serta berkayu. Rata-rata diameter trakeid adalah 30 µm serta panjangnya mencapai beberapa milimeter. Trakeid ada pada seluruh tumbuhan Spermatophyta. Pada ujung sel trakeid ada lubang seperti saringan.

Floem

Floem berperan menyalurkan zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke semua sisi tumbuhan. Biasanya elemen floem disusun oleh unsur-unsur tapis, sel pengiris, serabut floem, sklereid, serta parenkima floem. Unsur paling utama yaitu pembuluh tapis serta parenkima floem. Parenkima floem berperan menaruh cadangan makanan. Persebaran serabut floem kerap kali amat luas serta berperan untuk memberi sokongan pada tubuh tumbuhan.

Pembuluh tapis terdiri atas beberapa sel berupa silindris dengan diameter 25 µm serta panjang 100-500 µm. Pembuluh tapis memiliki sitoplasma tanpa inti. Dinding sel komponen pembuluh tapis tidak berlignin hingga lebih tipis dari pada trakea. Pembuluh tapis yaitu pembuluh angkut paling utama pada jaringan floem. Pembuluh ini bersambungan serta meluas dari pangkal hingga ke ujung tumbuhan.

 

Referensi:

Kistinnah, Idun. 2009. Biologi 2 : Makhluk Hidup dan Lingkungannya. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Syamsuri, Istamar. Biologi 2A untuk SMA. Jakarta : Erlangga.

Nah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, Mengenai Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan. Mudah-mudahan ilmunya bisa bermanfaat untuk kita semua, ya. Dan, jika masih ada yang belum dimengerti, silakan sahabat menyampaikan pertanyaan pada kotak komentar di bawah ini. Terimakasih sudah bertandang ke softilmu, jangan lupa like, follow, dan komentarnya, ya.

 

Sumber:

http://www.softilmu.com/2014/08/struktur-dan-fungsi-jaringan-tumbuhan.html