ahok

Surat Terbuka Guru Besar IPB untuk Ahok Terkait “Pelecehan” Profesi Dosen

Posted on

Guru Besar IPB Prof. Muhammad Firdaus mengatakan bahwa Ahok atau Basuki sudah menghina profesi seorang dosen hanya karena salah satu kendidat lainnya ada seorang dosen. Berikut adalah surat terbuka yang disampaikan Guru Besar IPB, seperti yang disampaikan melalui akun pribadinya :

SURAT TERBUKA UNTUK AHOK TENTANG PROFESI DOSEN

Sudah ramai pemberitaan, tentang Ahok yang “kepeleset” lagi dalam acara debat pertama pasangan calon Gubernur DKI Jakarta. Ahok kembali dipersepsikan sudah menghina profesi dosen, yang dianggap hanya mampu mengajar di kampus. Profesi yang kebetulan ditekuni salah satu kandidat saingannya.

Bapak Basuki mohon membaca tulisan ringkas saya berikut, semoga bermanfaat:
Menurut saya hal di atas terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap sejarah Bangsa, dan pemahaman terhadap Undang-Undang yang ada. Sejak awal zaman kolonial, pendirian Peguruan Tinggi (PT) di Indonesia antara lain didorong untuk memecahkan masalah kesehatan di tengah masyarakat, dan bidang-bidang lain seperti teknik dan pertanian. Jadi keberadaan PT bukan hanya menghasilkan sarjana yang bisa ber”teori”. Ini menuntut dosen yang berperan sebagai pendidik mereka, tidak boleh hanya tahu isi “text book”, tanpa memahami situasi terkini persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa.

Diskusi peran PT yang bukan hanya di bidang pengajaran sudah mulai diinisiasi oleh para Pendiri Bangsa sejak awal kemerdekaan termasuk di dalamnya oleh Ki Hajar Dewantara. Secara fomal, dengan dalam UU no. 22 tahun 1961, secara jelas disebutkan PT sebagai lembaga ilmiyah yang mempunyai fungsi tidak hanya melakukan kegiatan pengajaran, namun juga dibarengi dibarengi dengan kegiatan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Tiga peran PT tersebut biasa dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengewejantahan amanah UU tersebut pada era awal banyak dimotori oleh mantan DOSEN dan Rektor IPB yang kemudian menjadi birokrat, Prof. Thojib Hadiwidjaja. Ya seorang dosen yang kemudian menjadi birokrat. Yang MUMPUNI, dapat saya sebutkan karena menjabat Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan pertama (persis Kemenristekdikti saat ini) pada zaman Sukarno. Kemudian beliau menjadi Menteri Perkebunan dan Pertanian di zaman Suharto. Di sela-sela peralihan rezim pemerintahan beliau sempat menjadi Duta Besar untuk Luxembourg. Saya merasa dengan jabatan sebagai Menteri Pertanian selama satu dekade sampai akhir tahun 1970-an, berbagai upaya yang dilakukan kemudian mengantarkan Indonesia mampu mencapai swasembada beras pada awal 1980-an. Ini membuktikan bahwa seorang dosen saat diberikan tugas menjadi birokrat, dapat sukses dalam menjawab berbagai tantangan dan persoalan.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan