Tegas! Rektor Larang LGBT Lakukan Kegiatan di Kampus UGM

Posted on

Lahiya – Isu LGBT kembali menjadi perbincangan hangat setelah Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyebut ada lima fraksi di DPR yang mendukung perilaku LGBT dan pernikahan sejenis di Indonesia.

Tak hanya tokoh politik, pernyataan ini juga menuai komentar dari tokoh akademisi. Salah satunya adalah Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono.

Panut menyebutkan, sejauh ini tak ada aturan yang melarang pelaku LGBT mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Namun, dia dengan tegas melarang kelompok tersebut melakukan kegiatan di kampus UGM.

Selain itu, menurut Panut tak mudah untuk mengidentifikasi calon mahasiswa baru dari kelompok LGBT. Sebab, tak ada kolom khusus di biodata yang mengharuskan mahasiswa baru menyebut dirinya sebagai kelompok LGBT atau bukan.

Baca juga: Heboh 5 Parpol Setujui LGBT dan Pernikahan Sejenis, Mahfud MD Beri Komentar Menohok

Apalagi, tak ada aturan yang melarang kelompok LGBT untuk mendaftar melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, ataupun jalur UM di UGM.

“Artinya di dalam pendaftaran baik itu SNMPTN, kemudian SBMPTN, UM, tidak ada data yang harus diisikan terkait data pribadi tentang seperti itu (LGBT). Jadi kita ya sama sekali tidak tahu,” tutur Panut kepada detik.com, Selasa (23/1/2018).

Meski tak ada aturan tersebut, Panut menegaskan, pihaknya melarang kelompok LGBT berkegiatan secara resmi di kampus UGM. Apalagi jika kegiatan tersebut dilakukan secara terbuka.

“Secara moral kita mengarahkan, kemudian kegiatan terkait dengan itu (LGBT) tidak boleh ada di kampus secara resmi, secara terbuka begitu,” lanjutnya.

Saat ini menurut Panut, UGM belum memiliki aturan yang secara spesifik mengatur keberadaan kelompok LGBT. Namun, jika ditemukan kelompok LGBT yang berkegiatan di kampus, pihaknya dengan tegas akan melarang.

“Kalau ditemukan dan itu melakukan praktek-praktek semacam itu (LGBT) kelihatan mencolok, kelihatan mempromosikan ya tentu tidak boleh,” ujarnya.

Baca juga: Fraksi PPP Tegaskan Delapan Fraksi DPR Setuju LGBT Dipidana. Siapa Saja?

Meski begitu, Panut menyebut bahwa UGM tak akan langsung mengambil sanksi pemecatan jika ada mahasiswa, dosen, atau karyawan yang terbukti berperilaku LGBT.

“Masalah pecat atau tidak, kami di UGM mempunyai aturan. Bahwa ada kode etik mahasiswa, ada kode etik dosen, ada kode etik karyawan, tenaga kependidikan. Tetap menghukum, melakukan tindakan itu ada dasarnya. Tidak boleh seseorang (langsung) dipecat,” tegasnya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan