SHARE
Loading...

Tidak terima atas postingan di media sosial terhadap Ketua Umum PDIP Hj Megawati Soekarno Putri, dan diduga lakukan pelecehan terhadap simbol negara dengan mendeskreditkan Presiden Joko Widodo, sejumlah Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kuningan sambangi Ponpes Khusnul Khotimah di Desa Manis Kidul Kecamatan Jalaksana.

Kedatangan para pengurus partai banteng ke ponpes tersebut, untuk meminta klarifikasi terhadap dua pegawai Ponpes Khusnul Khotimah, yaitu Wawan Romliansyah dan Abi Faqih alias Kholis.

Kedua orang tersebut diduga telah melakukan pencemaran nama baik terhadap PDI Perjuangan, terhadap Ketua Umum PDIP Ibu Megawati Soekarno Putri, dan yang lebih parah telah melakukan pelecehan terhadap simbol negara dengan mendeskreditkan Presiden Joko Widodo melalui postingannya di media sosial.

“Kami datang kesini untuk meminta klarifikasi atas postingan kedua orang tersebut di medos,” kata Nuzul Rachdy, SE yang menjabat sebagai wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDIP Kuningan.

Kekecewaan nampak terlihat diraut muka para pengurus DPC PDIP Kuningan, setibanya di Ponpes Husnul, mereka tidak bisa menemui kedua orang yang dicari karena keduanya sedang tidak berada di tempat.

Dengan perasaan kaget dan gugup, Sanwani mewakili pihak yayasan menemui para kader PDIP. Rupanya Sanwani sudah menduga kedatangan Pengurus PDIP ini untuk menanyakan terkait keberadaan Wawan Romliansyah, sehingga diawal pembicaraan Sanwani langsung meminta maaf atas sikap pribadi kebablasan salah satu pegawainya.

Sanwani yang juga merupakan Pengurus DPD PKS Kabupaten Kuningan membenarkan, bahwa Wawan bekerja di Ponpes Khusnul Khotimah sebagai Staf Perguruan Tinggi.

Ia menyayangkan sikap Wawan yang kurang bijak dalam memanfaatkan media sosial sehingga menimbulkan ketersinggungan para kader PDI Perjuangan.

Karena keduanya disinyalir merupakan kader PKS dan aktif di Ponpes Husnul Khotimah, Zoel menduga bahwa serangan yang dilakukan keduanya ini, merupakan upaya sistematis untuk menjatuhkan PDI Perjuangan.

“Jika mengingat momentum politik saya kira masih jauhlah untuk Kabupaten Kuningan,” kata Zoel.

Sementara itu Ketua Gerakan Sarinah Meli Puspita SPd menyatakan, perbuatan mereka sudah tidak bisa ditolelir lagi, karena telah melecehkan logo partai, simbol partai, bahkan presiden sebagai simbol negara.

“Jika hal seperti ini dibiarkan maka akan menimbulkan keresahan dan dapat menghasut dan menimbulkan kebencian terhadap seseorang atau suatu golongan, dimana tindakan tersebut dapat dijerat dengan UU ITE,” tandasnya.

Ditempat yang sama, Wakil Ketua Bidang Organisasi, Ir H Rusliadi MSi mengingatkan kepada Sanwani selaku Pengurus DPD PKS untuk memberitahukan kepada kader-kadernya agar memahami etika berpolitik atau politik sopan santun.

“Kami juga mengetahui bagaimana tingkah polah kader-kader PKS, namun kami tidak lantas melakukan tindakan-tindakan yang tidak etis terhadap partai lain,” sindirnya.

Menurut pria yang pernah menjabat sebagai Kadis Bina Marga ini, jika postingannya mengenai kegiatan-kegiatan partainya saja tanpa menjelek-jelekan partai lain, mungkin tidak akan seperti ini ujungnya.

“Kalau seperti ini, apa boleh buat kita bisa usut ke ranah hukum,” ucapnya didampingi H Karyani yang juga anggota Dewan dari Fraksi Restorasi PDI Perjuangan. (ale)[rc]