Tidak Melulu Bahagia, 5 Potret Miris Perayaan Natal Ini Membuat Mata Berair dan Hati Tersentuh

Posted on

Tanggal 25 Desember menjadi hari yang selalu ditunggu oleh semua umat kristiani di dunia. Yap, perayaan Hari Natal. Natal identik dengan kebahagiaan, perayaannya akan penuh canda tawa dan hadiah yang konon datangnya dari Sinterklass. Semua akan bersukacita dengan mengunjungi keluarga, sanak saudara, serta  menyajikan makanan terbaik yang ada. Namun, bagaimana jika natal hanya dilalui seorang diri dalam keadaan hidup yang jauh dari kata layak?

Yaa, siapa sangka, Natal tidak selalu membahagiakan, apalagi bagi mereka yang hanya tinggal sebatang kara tanpa ada keluarga. Momen natal yang seharusnya penuh kebahagiaan malah berbalik menjadi haru dan banjir kesedihan. Seperti potret 5 perayaan natal yang membuat miris ini, bahkan ada yang merayakan di lahan pekuburan tanpa sanak saudara dan keluarga.

1. Nenek Tangsi, rayakan natal di gubuk reotnya dengan seekor anjing

Moment natal yang penuh suka cita tidak akan ditemui saat mengunjungi rumah nenek Tangsi di Kecamatan Sangala, Tana Toraja. Sejak suaminya meninggal dua tahun silam, nenek Tangsi hidup di gubuk reotnya bersama dengan seekor anjing bernama Monkey. Ketika dikunjungi oleh wartawan, nenek 77 tahun itu hanya duduk diam dengan ditemani cahaya remang lampu minyak.

nenek tangsi (Image source)

Di dalam gubuknya tidak ada sama sekali nuansa semarak sambutan pada sang Yesus. Jangankan kerlap-kerlip lampu natal, hidangan makananpun tak ada. Ya, nenek Tangsi yang miskin tidak mampu merayakan natal seperti keluarga lain. Selama ini, ia mengaku jika untuk makan sehari-haripun ia dihidupi oleh keponakannya. Namun karena rumah keponakan yang jauh, serta moment natal bersama ia habiskan bersama keluarganya, jadilah nenek Tangsi harus sendirian pada natal tahun ini.

2. Tak pernah dikunjungi sang anak, pak Agus habiskan natal di kuburan

Sebuah kisah yang tak kalah membuat mata berair adalah cerita Pak Agus Moningka. Ia adalah salah seorang warga Kecamatan Singkil, Manado, yang merayakan natal di daerah pekuburan sebatang kara. Sebagai bentuk kasih, beberapa pihak memberikannya bingkisan dan sukses membuat pria ini gembira. Setidaknya natalnya kali ini tidak terlalu getir.

Pak Agus Moningka (Image source)

Pak Agus menceritakan jika sejak sang istri meninggal 22 tahun lalu, ia hidup bersama kedua anaknya. Namun, setelah anaknya punya keluarga mereka pergi meninggalkan pak Agus sendirian. Karena hanya bekerja serabutan dan penghasilan tidak mencukupi hidup, selama 2 tahun pak Agus harus tidur diatas kuburan. Baru setelah punya cukup uang, ia membeli triplek dan memungut barang bekas dari sampah yang masih bisa digunakan untuk membuat sebuah gubuk di dekat kuburan. Harapannya ketika natal hanya satu, bisa bahagia dan berkumpul bersama sanak saudaranya.

3. Moment natal para lansia di panti jompo, ada yang berharap dikujungi keluarga

Sebuah panti jompo di ibukota Jakarta juga mengadakan perayaan Hari Natal untuk para peghuninya, tujuannya agar mereka tidak kesepian saat tak ada yang mengunjungi saat natal tiba. Sekitar 22 lansia usia 60-80 tahun berkumpul di panti sosial Tresna Werdaha Budi Mulia III, JakSel.

Hiasan natal di panti jompo (Image source)

Perayaan natal sederhana sekali, tidak ada lampu natal, tidak ada juga kue-kue sebagai hidangan di meja, hanya ada sebatang pohon natal hijau yang dengan tulisan ‘Merry Christmas’ setinggi 2 meter. Kisah sedih dituturkan oleh seorang kakek bernama Martin, pria 70 tahun asal Manado yang sudah melewati 11 kali natal di panti tersebut dan berharap ada yang datang mengunjunginya.

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan