SHARE
?attachment_id=4920

Oleh: Ahmad Ifham, S.Psi.

Pertama

Hadis dalam kitab arba’in nawawi berkata bahwa (kriteria) halal itu jelas, (kriteria) haram itu jelas, dan di antara keduanya ada syubhat. Ternyata tidak halal itu bukan hanya haram dan tidak haram itu bukan hanya halal. Dalam fiqh of justice, judgement hukum manusia dalam hal ibadah maupun muamalah, akan ada sebanyak nyawa manusia.

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,

Meninggalkan sholat tepat waktu (sehingga sholatnya beda dengan waktu yang ditentukan) itu bisa halal. Ada kondisi dharuriyat, hajiyat, tahsiniyat, dan berbagai rukhshoh (keringanan). Itu fiqh ibaadah yang kaidah fiqh -nya lebih ketat. Semua dilarang kecuali ada perintahnya. Dalam ibadah saja ada kondisi kondisi khusus, (dalam bahasa saya) apalagi fiqh mu’aamalah yang jelas mau bid’ah (kreatif kayak apapun) terhukum boleh, asalkan gak nabrak larangan Syara’. Dalam fiqh muamalah pun judgement hukum akan ada sebanyak KONDISI pelakunya (per nyawa).

Kedua

Gradasi hukum dalam Islam ada wajib, sunnah, mubah/jaa`iz, makruh, haram. Haram itu hanya 1 di antara 5 gradasi hukum Islam.

Wajib: dilakukan berpahala, ditinggalkan berdosa. Sunnah: dilakukan berpahala, ditinggalkan boleh. Mubah: dilakukan boleh, ditinggalkan boleh. Makruh: dilakukan kurang utama, ditinggalkan bernilai pahala. Haram: dilakukan berdosa, ditinggalkan berpahala. Ini hal yang sering kita temui sehari-hari. Ternyata selain haram ada 4 yang lain.

Ketiga

Tidak Sesuai Syariah adalah sesuai yang dilarang. Kenapa sih Allah tidak straight to the point bahwa apa saja yang dilarang adalah otomatis haram? | Jawabannya ya Allah Maha Cerdas. Semua tersusun rapi bukan tanpa makna. Allah SWT dan juga Rasulullah SAW menyatakan larangan atas hal hal yang tidak baik (baca: terlarang), tentu gak asal-asalan dan pasti akan menimbulkan kebaikan bagi manusia.

Coba kita cek ayat dulu ya. Kita cek nash Alquran dan Hadis. Kita cermati larangan2 dalam Nash (teks).
Alquran berkata: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

Alquran berkata: hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (maisir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Asuransi konven ada unsur maisir. Alquran berkata: dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

Alquran berkata: dan Aku (Allah) telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.
Mmmm ada banyak lagi.

Hadits berkata: Rasulullah SAW menahan atau mencegah jual beli gharar. Rasulullah SAW menahan atau mencegah 2 jual beli dalam 1 jual beli. Asuransi konvensional ada gharar.

Perhatikan teks Arabnya beda beda: ada hurrimat, wa harrama, laa halaaala, nahaa, laa, laa taqrabuu, ijtanibuuhu, laa yajuuzu, dan lain lain yang ternyata beda-beda. Kenapa Allah membedakannya? Kenapa tidak diseragamkan saja semuanya jadi misalnya “diharamkan”?

Karena saya yakin (beriman) bahwa kita diajarkan berpikir dan ber-rasa oleh Zat Sang Maha Cerdas, Zat Sang Maha Ngerti. Kita bisa cermati pilihan kata katanya.

Contoh kasus.

(1)
Daging babi itu haram. Digoreng atau dimasak dalam suku 1000 derajat celsius ya tetep haram. Dibikin gulai ya haram. Pokoknya haram. Ternyata makan daging babi bisa terhukum wajib jika darurat.

(2)
Gak ada nash Alquran atau Hadis berkata bahwa daging anjing itu haram dimakan, tetapi Hadis berkata bahwa liur anjing itu najis kelas berat (mugholadhoh).

(3)
Zina itu dilarang mendekati. Apalagi melakukannya. Dalam fiqh of justice, zina adalah masuknya kelamin laki-laki ke kelamin perempuan secara tidak sah, dan akan terjudge zina dari sisi fiqh of justice jika ada saksi yang memenuhi kriteria yakni 2 lelaki dewasa alias mukallaf. Next nanti ada zina muhshan dan ghairu muhshan.

Andai ya ini andai saja zina itu dinyatakan HARAM, maka apakah selain definizi zina tadi termasuk halal? Dan apakah sebenarnya definisi Zina bagi umat hanyalah sebagaimana definisi versi the fiqh of justice?

Apakah petting itu zina? Apakah bugil bareng antara lelaki perempuan secara tidak sah itu bukan zina? Apakah jadinya pacaran itu halal jika yang haram hanya zina dalam definisi fiqh of justice tadi?

KARTU KREDIT, KARTU KREDIT CIMB, KARTU KREDIT MEGA, TIRTO.ID, asuransi mobil murah, harga mobil terbaru, kecantikan wanita, hosting, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kartu kredit BNI, forex, SAHAM, FBS,
insurance
Loading...