Ulama Madura Datangi Menag untuk Debat LGBT dan Buku PAI

Posted on

Lahiya – Kemenag kedatangan delapan belas Ulama Madura yang tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA), Forum Kiai Muda, Nahdlatul Ulama, BASSRA, dan FPI yang bersilaturahim ke sana. Para ulama yang datang dari Pulau Garam itu disambut oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Operational Room, Gedung Kemenag Lapangan Banteng Jakarta.

Ke-18 Ulama tersebut yakni KH Ali Karrar Shinhaji (Auma) Pamekasan, KH Ahmad Muhammad Tijani (MUI) Sumenep, KH Fadloli M Rumam (Auma) Pamekasan, KH Nurun Tajalla (Auma) Sampang, KH Syafiuddin Hasibin (Auma) Pamekasan, KH Abd Ghoffar (NU) Pamekasan, KH Mahrus Abd Malik (Bassra) Sampang, KH Ja’far Shodiq (NU) Sampang, KH Jaiz Badri (Autada) Probolinggo, KH Lutfi Bashori (NU) Malang, KH Imam Ramli (NU) Jember, KH Imam Mawardi (Majlis Muwasholah) Sampang, KH Umar Hamdan (Forum Kiai Muda) Pamekasan, KH Fauzi Rosul (Bassra) Sumenep dan KH Jurjis Muzammil (Auma) Sumenep dan KH Ma’shum Tirmidzi. Tujuan pergi bersilaturahim ke Kemenag adalah dalam rangka Tabayyun (mencari kejelasan) mengenai dua hal yaitu LGBT dan Buku PAI yang diajarkan di sekolah.

“Kami, dari Madura mohon pencerahan Pak Menteri mengenai LGBT dan Buku Ajar agama Islam. Tentang LGBT banyak asumsi dalam masyarakat. Takutnya salah tafsir dan terjadi misskomunikasi. Kami mendapat banyak pertanyaan langsung dari masyarakat. Dan biar kami bisa menjawab dengan benar, maka kami bersilaturahim ke sini,” ujar perwakilan Ulama, dikutip dari Republika.co.id.

Untuk buku pelajaran PAI, buku tersebut hendaknya dapat dikontrol dengan maksimal. “Ada baiknya, sebelum Bbku tersebut diedarkan, Kementerian Agama, telah melakukan pentashihan dan edit secara maksimal. Jangan sampai terjadi kesalahan mendasar. Banyak kesalahan. Salah satu contoh adalah buku di SD, ada pelajaran Nabi yang wajib dipercaya. Di sana, Nabi Muhammad berada diurutan ke-13 bukan 25 seperti yang kita maklumi bersama. Nabi Isa as malah berada diurutan ke-25,” lanjut perwakilan AUMA.

Baca juga: Siap Jadi Saksi Korupsi e-KTP, Setnov Bakal Bocorkan Para Pihak Terlibat Lainnya

Menag Lukman didampingi Kabiro Humas, Data, dan Informasi Mastuki, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah Umar, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an (LPMQ) Muchlis Muhammad Hanafi dan Sesmen Khoirul Huda, menyampaikan banyak terima kasih sebelum menjawab dua pertanyaan tersebut.

“Terima kasih tiada terhingga dan bersyukur atas kerawuhan-nya. Hadir jauh-jauh dari Madura untuk melakukan tabayyun. Kaitannya dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Semua agama tidak ada yang mentolelir LGBT,” kata Lukman tegas.

Menurutnya yang menjadi perdebatan yakni tentang apa penyebab LGBT. Di mana sampai kini tak ada jawaban tunggal. Persoalan homo ada yang bilang merupakan masalah medis, ada juga yang menyebutnya faktor genetik, ada pula yang meyakini itu salah pergaulan, bahkan ada penilaian itu disebabkan kutukan.

Mengenai hal ini pun ditanggapi dengan sebuah cerita oleh Lukman. Pada 26 Agustus 2016, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengadakan sebuah kegiatan. Menag Lukman di situ diminta menjadi pembicara tentang agama dan juga pers. Ternyata saat itu AJI juga memberi penghargaan baik secara individu maupun komunitas yang dinilai memperjuangkan kemerdekaan media pers, khususnya bagi kalangan marginal.

Baca juga: Jleb! Lantaran Gagal Maju Pilgub, La Nyalla Beri Kritik Menohok Untuk Prabowo

“Salah satu yang mendapat penghargaan itu adalah komunitas LGBT yang dinilai memperjuangkan kehidupan komunitasnya. Saya saat itu tidak mengetahui akan ada penghargaan seperti itu. Dalam situasi seperti itu, saya tidak bisa meninggalkan tempat secara cepat. Mengenai sikap. Sikap saya tegas perilaku LGBT tidak bisa ditolerir,” kata Menag.

“Saya, kita semua menolak perilaku LGBT. Tetapi manusianya, kita rangkul, kita ayomi. Ketika mereka menyimpang, saat mereka tersesat, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar,” lanjutnya.

Menurut pemahamannya , itu karena dakwah artinya mengajak tidak hanya kepada orang Islam. Justru juga mengajak orang-orang di luar jalan lurus untuk agar kembali ke jalan Allah. Perlu diingat lagi, yang diperangi ialah tindakannya, tapi bukan manusianya. Mungkin juga karena banyak hal, yang disampaikan terkait ini dipolitisir, dipelintir, digoreng atau apapun sampai akhirnya disalahpahami. Apa pun alasan LGBT tak bisa dibenarkan. “Dan menurut saya, mereka harus dibimbing dan diarahkan. Ini adalah salah satu fungsi dakwah,” tuturnya.

Soal isi buku-buku agama, menurut Lukman buku-buku itu berada di bawah naungan Kemendikbud. Buku-buku yang digunakan serta diajarkan di sekolah SD berada di bawah kendali Puskurbuk (Pusat Kurikulum Buku) yang ada di bawah Kemendikbud. Itu sebabnya, Kemenag tak memiliki kewenangan untuk melakukan tashih.

Baca juga: Joshua Dipolisikan Terkait Tudingan Pelecehan SARA, Begini Komentar Din Syamsuddin

Terkait hal ini, pihaknya sudah berjuang supaya buku yang sehubungan dengan materi agama berada di bawah kewenangan Kemenag.  “Alhamdulillah, sejak April 2017 lahir UU Perbukuan, dimana ada aturan, buku yang berisi tentang hal ikhwal agama dan keagamaan, sebelum terbit, harus melalui verifikasi Kemenag. Intinya, sebentar lagi, akan lahir aturan bahwa setiap lembaga pendidikan yang menggunakan buku ajar menyangkut materi agama, harus ditashih terlebih dahulu oleh Kemenag,” ujar Lukman.

Para Ulama Madura itu, setelah mendengar jawaban Lukman, mengucapkan terima kasih dan tak melakukan perdebatan. Sedangkan, harapan Menag para ulama berkenan memberi masukan untuk umara.

“Tabayyun seperti ini, menambah semangat kami untuk berbenah lebih baik. Bahwa kami tidak sendiri. Semoga Allah SWT meridhai segala amal dan niat baik kita. Semoga para Ulama mendapat kesehatan untuk mampu dampingi umat untuk kemaslahatan bersama,” doa Menag.

sumber

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan