Waduh! Turki Pecat Lebih dari 2.700 Pegawai Negeri, Ada Apa?

Posted on

Lahiya – Turki terus melakukan upaya pembersihan terhadap pihak-pihak yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok teror. Tahun lalu, kelompok yang dianggap Turki sebagai teror tersebut melakukan kudeta meski gagal.

Seperti diwartakan republika.co.id yang melansir Bloomberg, Minggu (24/12/2017) Pemerintahan Turki pun melakukan pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada 2.756 pegawai pelayanan publik yang dianggap berhubungan dengan kelompok teror tersebut.

Rincinya, pemerintah Turki memberhentikan 637 personel militer, 360 anggota gendarmerie atau polisi militer, dan 150 akademisi. Di samping itu, pemerintah Turki juga kembali mempekerjakan sekitar 115 orang yang sebelumnya dipecat ke sektor publik.

Selain memecat pegawai negeri, upaya pembersihan itu juga dilakukan Turki dengan menutup dua surat kabar lokal, 14 asosiasi, dan satu klinik kesehatan. Pembersihan ini sendiri ditujakan kepada kelompok ulama Fethullah Gulen.

Baca Juga: Hongkong Deportasi Ustad Abdul Somad, DPR Desak Pemerintah Lakukan Ini

Sebelumnya, Turki mengutuk keras upaya kudeta Gulen pada Juli 2016 silam. Kelompok atau pengikut Gulen inilah yang dianggap Turki, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, sebagai kelompok teror.

Masih dilansir dari republika.co.id, Turki mengumumkan keadaan darurat setelah kudeta yang pada saat itu memungkinkan pemerintah untuk menangkap sekitar 50 ribu orang sekaligus memberhentikan lebih dari 110 ribu pegawai negeri dengan alasan dugaan memiliki keterkaitan dengan Gulen atau kelompok militan.

Upaya pembersihan dan penangkapan terhadap pengikut atau kelompok pendukung gerakan  Gulen ini dinilai penting oleh pemerintah. Hal tersebut diakui oleh pemerintah sebagai upaya melawan bahya yang terus berlanjut yang disebabkan oleh kelompok tersebut.

Kendati demikian, di Turki sendiri, sejumlah kritikus menilai bahwa pemerintahan Erdogan telah menggunakan kekuatan darurat itu untuk memenjarakan dan membungkam lawan.

Selain itu, dikutip dari mediaindonesia.com, Gulen yang tinggal di pengasingan di Pennsylvania, Amerika, sejak 1999, membantah tuduhan Erdogan yang menuduhnya sebagai otak di balik percobaan kudeta.

Baca Juga: Dinilai Langgar Undang-Undang, Sandiaga Sebut Kebijakan di Tanah Abang Bantu Jokowi

Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan