SHARE
Loading...

Setiap pasangan yang telah menikah pasti menantikan kehadiran buah hati. Seperti pasutri ini sudah 5 tahun merajut rumah tangga namun belum terlihat tanda-tanda kehamilan si istri.

Hingga pada akhirnya suatu insiden pun datang hampir menggoyahkan rumah tangga mereka. Berikut kisah selengkapnya!

Dari kecil saya tidak pernah beruntung. Saya selalu menaburkan hal yang baik, tapi saya tidak pernah memperolehnya kembali. Namun saat ini, saya menemukan seorang anak laki-laki di depan pintu, saya sangat gembira, tanpa persetujuan pihak keluarga, saya pun membawa pulang anak itu ke rumah kami.

buah hati

Saya telah menikah 5 tahun, namun kami masih belum memiliki anak. Segala tes di rumah sakit telah dilakukan, kami juga sudah memakan obat yang disarankan namun sama sekali tidak ada manfaatnya. Saya begitu cemas, namun suami saya berusaha untuk menghibur saya. Dia juga berharap agar saya tidak terlalu tertekan karena masalah ini.

Tapi mertuaku tidak begitu senang dengan keadaan kami yang tidak bisa punya anak, bahkan ia juga menyarankan agar kami pergi mengadopsi anak, ia tidak berharap bahwa garis keturunan keluarganya harus putus di tanganku.

Sebenarnya saya juga setuju dengan pendapat mertua saya itu, bukankah ada orang yang bilang, kalau tidak bisa hamil, pergi adopsi anak dulu, pasti nanti langsung bisa hamil. Ini bukan perkataan belaka loh, karena saya sendiri melihat begitu banyak kerabat saya yang juga mengalami hal yang sama.

Jadi, saat saya melihat anak kecil ini, tanpa ragu-ragu saya langsung membawanya pulang, saya merasa bahwa ia adalah hadiah yang diberikan Tuhan bagi keluarga kami. Saat itu tidak ada orang di rumah, mertua sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri perjamuan makan, sedangkan suami saya juga sedang berada di luar kota sedang bertugas.

Saya sengaja tidak mau memberitahukan kepada mereka terlebih dahulu, tunggu sampai mereka kembali, saya baru memberitahukannya, ya, anggap saja sebagai sebuah kejutan bagi mereka.

Akhirnya saya memutuskan untuk merawat dan menjaga anak itu. Di rumah ada susu bubuk, saya menyeduhnya dan menyuapi anak itu. Anak itu tidak ribut dan tidak menangis, benar-benar sangat menarik perhatian saya.

Karena tadi sudah berada lama di luar, akhirnya saya memutuskan untuk memandikannya. Setelah membuka baju anak itu, saya melihat bahwa ada tanda lahir tepat di punggung anak itu.

Setelah saya mengingatnya, saya baru sadar bahwa suami saya pun memiliki tanda yang sama persis. Suami saya pernah menjelaskan bahwa itu adalah tanda khusus yang janya dimiliki oleh anggota keluarga mereka, persis seperti tanda yang ada di punggung anak ini.

buah hati

Lantas, kenapa anak ini memiliki tanda yang sama persis dengan apa yang ada di punggung suamiku? Apakah ini hanya suatu kebetulan saja?

Saya langsung menelepon suami saya dan menanyakan, apa yang sebenarnya terjadi.
Suami saya menjelaskan bahwa orang tuanya terus menerus mendesak dan memaksanya untuk melahirkan keturunan, bahkan tidak segan-segan meminta anak laki-lakinya itu menghamili perempuan lain.

Pokoknya garis keturunan mereka tidak boleh berhenti sampai di situ. Dan mereka sepakat untuk memberikan uang dalam jumlah yang besar bagi perempuan itu sebagai upah untuk merawat anak itu.

Siapa sangka perempuan itu malah meletakkan anak itu di depan pintu dan pergi begitu saja dengan uang yang sudah diterimanya itu.

Saya berteriak dengan sekuat tenaga dan akhirnya menutup telepon, membungkus anak itu ke dalam karton dan membuang anak itu ke tempat semula. Mereka sekeluarga bersama membohongi saya, seolah-olah mau saya menjadi pengasuh anak yang dianggap penerus keturunan itu.

Saat saya mulai berjalan beberapa langkah menjauhi anak itu, ia mulai menangis dengan suara keras. Hati saya begitu sakit, namun saya juga tidak tega melihatnya yang menangis tanpa henti itu.

Akhirnya saya kembali memeluknya. Saya yang tidak tahan, akhirnya hanya bisa menyetujui untuk merawat dan membesarkan anak itu seperti anak saya sendiri. Bahkan saya juga tidak memiliki pikiran untuk cerai dari suami saya.

Semoga artikel ini bermanfaat ya, dishare yuk!