SHARE
Loading...

Kasihan benar nasib yang dialami wanita satu ini. Ketika seorang istri menantikan perhatian suaminya. Ia malah dibuat menangis, sesaat bayi mau dilahirkan. Betapa tidak, ketika membuka handphonenya pesan singkat dari suami membuatnya berurai air mata. Berikut kisahnya, yang semoga dapat diambil manfaatnya dilansir dari Eberita.Org

“Tak tahu harus mulai dari mana kisah ini. Aku menikah dengan seorang pria yang kuanggap akan menjadi penyelamat hidupku. Disaat aku terluka dan benar-benar jatuh di titik nadir terendah karena ayah meninggal ditambah aku ditinggalkan pacarku yang merenggut kesuciannku.

Pria itu datang mengelap air mataku dan menjadi payung dari derasnya kesedihan. Pria itu bernama Edo (nama yang kusamarkan). Edo begitu perhatian padaku, meski aku tak lagi perawan ia sangat baik dan memperlakukan aku layaknya wanita.

Tiga bulan sejak itu, Edo memberanikan diri melamarku. Aku yang begitu sayang dan merasa dilindungi olehnya jelas langsung menerima pinangan itu. Wajahnya memang tidak tampan, tapi saat itu aku merasa hidupku tak lagi bisa berlanjut jika tanpa ada dirinya. Kami akhirnya menikah enam bulan setelah lamaran Edo.

Awalnya keluarga kami sangat bahagia. Betapa tidak, Edo sering kali dibully habis-habisan oleh keluarga dan temannya karena berhasil mempersunting aku yang banyak orang bilang memiliki wajah cantik.

Aku asli orang Sunda tapi ibuku orang Tiongkok, jadi perpaduan itu membuat kami berwajah putih dan mata sipit. Saat kami pergipun, banyak yang diam-diam membicarakan kami karena Edo yang berkulit hitam.

Tapi itu bukan masalh bagiku yang sangat mencintai Edo. Soal ekonomipun Edo cukup mapan. Ia merupakan seorang pengusaha meski tak begitu maju tapi itu lebih cukup untuk keluarga kecil kami. 2 tahun kami menikah, akhirnya aku dinyatakan hamil. Semua sangat bahagia karena kehamilan ini begitu dinanti.

Tapi, ketika hamil aku melihat perubahan besar pada suamiku. Ia tak lagi ceria. Bahkan lebih banyak diam ketika kami bersama. Bahkan ia sering pulang malam, bahkan sesekali memarahiku saat aku khawatir dan bertanya.

Kehamilanku terus membesar, tapi Edo juga makin jauh kepadaku. Beberapa kali aku harus pergi sendiri ke dokter memeriksakan kehamilan. Namun saat aku meminta penjelasan aku malah kena marah. Aku bingung dengan apa yang terjadi.

Pernah sekali waktu, Edo marah besar padaku dan itu menjadi tamparan pertamanya padaku. Bukan saja sakit, tapi hatiku seakan remuk ketika ia membentakku.

Mengobati penasaran, aku membuka semua sosial media suamiku, diam-diam membuka handphonenya. Aku curiga pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah. Benar saja, saat aku hampir bosan mencari ada satu pesan yang membuat hatiku berdetak.

Itu pesan seorang wanita, yang mungkin lupa ia hapus. “Jangan lupa makan dan hapus,” pesan itu begitu singkat tapi aku merasakan ada yang aneh.

Setelah keesokan harinya, nomor itu aku simpan. Dengan menyamar sebagai pegawai bank menawarkan asuransi aku tahu wanita itu bernama Sarah, ia merupakan pegawai di perusahaan suamiku.

Dengan perut yang kini hamil 7 bulan, aku bertanya kepada pada suami ada hubungan apa ia dengan Sarah. Edo marah saat kutanyakan. Ia menjawab bukan urusannku. Karena penasaran, akhirnya aku mencari tahu siapa wanita itu. Ternyata ia adalah teman kecil Edo. Wajahnya memang cantik, tubuhnya tinggi dan masih gadis.

Dan yang membuat hatiku seakan berhenti, hubungan Sarah dan suamiku ternyata diketahui keluarga Edo. Jauh sebelum menikah denganku, Edo rupanya dijodohkan dengan Sarah.

Pantas saja, sikap mertuaku tak ada yang begitu perhatian saat aku hamil anak pertama. Keluarga Edo menginginkan aku diceraikan karena sejak awal tak dianggap suci oleh keluargnya yang pernah diperkosa mantan pacarku.

Wanita mana yang tak menangis saat tahu rahasia keluarga suami yang tak menginginkannya. Apalagi, saat sedang hamil. Semalaman aku menangis dengan kehamilan menginjak 9 bulan.

Setiap malam perut sakit dan suami entah ada dimana. Mau mengadu hanya ada ibu yang jauh di desa. Pas aku akan melahirkan, bahkan saat itu aku diantarkan tetangga malam hari dengan mobil, karena suamiku sudah 2 hari tak pulang kerumah.

Lima menit sebelum aku masuk ke ruang operasi, kusempatkan diri membuka ponsel. Kupanggil nomor Edo. Suara tersambung. Hatiku mulai sedikit tenang. Hingga panggilan terputus Edo tidak mengangkat telepon dariku. Kuulang sekali lagi. Tetap sama. Sekali lagi. Ditolak. Sekali lagi. Ditolak kembali.

Dan, sebuah pesan masuk setelah itu. “Aku ceraikan kamu mulai hari ini!” Perut sakit, dengan kontraksi bayi akan keluar. Hatiku hancur berkeping-keping menerimak kenyataan pahit ini.

Dia yang kuanggap pahlawan, kini menjatuhkan lebih dalam. Bahkan saat kami akan melahirkan, tak tahu apa jawaban apa. Handphone itu terlepas dan sambil menangis aku menjalani operasi caesar anak pertama kami.

Sampai aku berpikiran jelek, apakah Tuhan sengaja memberikan nasib buruk padaku. Salah apa aku hingga suami yang kuanggap pria luar biasa begitu kejam menusuk hatiku, bahkan cuma lewat SMS.

Apalagi saat kutanyakan pada Edo, ia mengatakan karena aku menjawab saat disebut perempuan tak suci oleh mertua. Menurutnya, ia tak bisa menikah dengan orang yang bisa menghormati ibunya.

Tapi aku hanya marah saat aku begitu dihina. Apakah aku menantu durhaka. Atau ini hanya alasannya saja agar dapat menikah dengan Sarah. Sejak saat itu, sampai aku keluar rumah sakit Edo tak kunjung menjeguk anaknya.

Memang biaya rumah sakit sudah ia bayar, tapi aku tak melihat wajahnya sampai kami benar-benar berpisah. Kini aku pulang kerumahku, bersama ibuku merawat buah hati yang sangat kusayang.

Ibuku beberapa kali kulihat menangis meratapi nasibku. Tapi dalam hatiku, aku harus tetap kuat demi mereka. Walaupun, kabar kudengar Edo akan menikah dengan Sarah.”

Semoga kisah ini bermanfaat, sebagai wanita rupanya saat kita menemukan sosok pahlawan kita harus cepat-cepat sadar jika mereka hanya manusia biasa.