Imajinasi

Imajinasi Hendry Satriago

Kultweet Hendry Satriago

Saya membaca artikel “The Future of Work” dari Marco Annunziata dan saya terlempar dalam lamunan tentang anak muda Indonesia lagi. The Future of Workadalah transformasi pekerjaan di masa mendatang yang akan menjadi sangat berbeda karena berubahnya dunia. Pekerjaan mendatang akan di-shape oleh tren industrial internet, advanced manufacturing, dan global brain.
Industrial internetialah integrasi antara cloud-base analytic (big data) dan industrial machine (big iron). Industrial internet akan memacu perkembangan produktivitas gains. Semakin efisien, semakin efektif. Advance manufacturing, menghubungkan desain, engineering, supply chain, pabrikan, dalam satu sistem pintar. A Brilliant Factory. The global brainai??i??the collective intelligence of human beings across the globe integrated by digital communication networks. Kondisi future of work sangat kompetitif dan mensyaratkan kemampuan yang lebih dari sekedar ijazah kelulusan.
Satu hal yang tak lepas dari pikiran saya adalah siapkah anak muda Indonesia menghadapi kompetisi the future of work tersebut? Saya pernah menulis bahwa dalam dunia global saat ini, what you need is a great idea and a click! But that’s the big question. Are we, Indonesian people, passionate and hungry enough with making new and good ideas? Kita, yang hidup di tanah/musim yang “murah hati” dan cepat puas serta senang ikut-ikutan ini, butuh value imagination untuk face the future of work.
Imagination adalah berpikir luas, di luar jangkauan pancaindra yang ada, menghasilkan pikiran baru. Sama sekali bukan mental ikut-ikutan. Imaginationmemerlukan courage, keberanian untuk mengambil resiko untuk mencoba hal baru dan di luar pakem yang ada. Imagination tak kenal lelah mencari ide-ide baru dan welcome dengan berbagai different approach. Imaginationhanya akan lahir jika orang mengapresiasi dan menghormati keberagaman (diversity). Imagination menggunakan pertanyaan “Why not?ai??? “What if“. Imagination memerlukan energi kuat untuk melakukan perubahan.
Pendidikan kita mungkin tak banyak mengajarkan dan melatih kita untuk bisa melakukan imagination. Dalam berbagai interaksi saya dengan anak muda, baik dalam diskusi maupun interview calon pegawai, imagination ini rendah sekali skornya. Banyak anak muda yang saya temui bahkan tak memiliki ide yang bisa di-imagination-kan.  Bacaan mereka hanya yang diajarkan di sekolah. Mungkin karena di sekolah tidak di-encourageuntuk membaca filsafat, sastra, komik, dan buku yang merangsang mereka berpikir. Dalam bekerja, imagination ini menjadi pembeda orang yang hanya akan jadi ai???doerai??i??, yang hanya menunggu instruksi untuk kerja, atau menjadi leader. Imagination itu berpikir ai???besarai??i??. 10% delay pesawat karena unscheduled maintenance bisa merugikan 8 milyar Dollar industri penerbangan.
Imagination adalah berani melakukan perubahan, melihat perbedaan sebagai opportunity, bukan threat. Ya, tentunya dibutuhkan eksekusi dari sebuah imagination yang baik dan oleh karena itulah imagination selalu dihubungkan dengan courage. Berpikirlah dengan keinginan melawan keterbatasan. Imagination mendobrak ruang-ruang batasan yang seringkali kita buat sendiri. Value imagination akan mengubah behavioryang hanya blaming dan tak punya solusi atau opsi. Sekolah-sekolah alternatif serta belajar dalam komunitas adalah bentuk imagination yang keren dari perlawanan terhadap keterbatasan sistem pendidikan.
Bukankah lampu diciptakan dari imagination untuk perlawanan terhadap “tak bisa beraktifitas dalam gelap?ai??? Now, how to train untuk punya value dan capability imagination yang keren? First, mulailah dengan keinginan untuk “melawan” keterbatasan. Seperti tadi, imagination lahir dari semangat “perlawanan”. Second, luaskan bacaan dan diskusi kita. Jangan terjebak menghabiskan waktu untuk isu yang ramai dibicarakan saja. Apalagi urusan black campaign-black campaign yang tidak habis-habis itu. Sediakan waktu untuk mendapatkan “intelectual orgasm” dengan pembicaraan lain. Carilah knowledge seluas-luasnya. Saat ini, dengan internet dan sosial media, banyak sekali hal yang bisa dipelajari secara gratis. Dari pengetahuan baru yang didapat, coba lihat dan pikirkan dari sudut pandang berbeda.

Gunakanlah “why not” dan “what if”. Appreciate differences. Jangan biarkan dikotak-kotakkan orang lain dan tak mau mendengar pendapat orang lain. Imagination membutuhkan keberanian berpendapat berbeda dan mengambil resiko untuk salah. Mistake adalah sarana belajar. Betul, ber-imagination berarti bermimpi. Dan mimpi is nothing without execution. Tapi, jika bermimpi saja takut, apa yang mau dieksekusi?  That’s it! Selamat berlatih imagination. This is the key for us to be a player in the future of work. Saya ber-imagination untuk Indonesia yang lebih baik dengan better-alternative education, mentoringmisalnya.  So, what is your imagination?